fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


25 Ramadhan 1442  |  Jumat 07 Mei 2021

Islam Antisipatif Terhadap Dekadensi Moral

Islam Antisipatif Terhadap Dekadensi Moral


Fiqhislam.com -"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan." (Qs. Al-An’am : 116)

Kebenaran seringkali diukur dengan sesuatu yang dianggap mainstream, seolah fenomena yang ada menjadi fakta dari keinginan mayoritas masyarakat dan diyakini benar karena memiliki banyak pengikut. Namun, akan sangat menyesatkan jika yang mayoritas itu justru merujuk pada kebatilan. Di era media informasi yang semakin terbuka ini, secara perlahan tapi pasti arus positif dan negatif westernisasi semakin tidak terbendung.

Salah satu budaya negatif  yang menjangkiti mayoritas kaum remaja Indonesia saat ini adalah Valentine Day yang dimaknai sebagai hari berkasih sayang. Hari Valentine, jatuh pada tanggal 14 Februari setiap tahun, biasanya dirayakan oleh kaula muda tanpa kecuali, baik dari kalangan Muslim maupun non Muslim. Tradisi perayaan ini merebak dari pusat kota hingga ke pelosok-pelosok kampung, dan ironisnya seolah mereka tak mau tau apakah Valentine Day ini melanggar ajaran Islam atau tidak.

Modernisasi dan globalisasi tidak bisa dihindari akan membawa pengaruh yang besar terhadap perubahan perilaku dan tatanan sosial di masyarakat. Remaja khususnya, adalah kelompok usia yang paling rentan terhadap pengaruh negatif dari gelombang era keterbukaan ini.

Remaja dalam bahasa Latin adalah adolescence, yang artinya “tumbuh atau tumbuh untuk mencapai kematangan”. Istilah adolescence sesungguhnya mempunyai arti yang luas, mencakup kematangan mental, emosional, sosial dan fisik (Hurlock, 1991).

Masa usia transisi ini didalam islam dibatasi dengan istilah akil baligh. "Baligh" diambil dari kata bahasa Arab yang secara bahasa memiliki arti "sampai", maksudnya telah sampainya usia seseorang pada tahap kedewasaan, dimana sesungguhnya ia sudah dibebani kewajiban (taklif) syari’at dan akan dihisab.

Imam As-Subki menjelaskan hikmah ditetapkannya umur 15 tahun sebagai batasan maksimal umur baligh karena pada umur itulah bangkit dan menguatnya syahwat seksual, yang pada akhirnya mendorong seseorang untuk melakukan hal-hal yang tidak patut dikerjakan. Syahwat-syahwat tersebut harus dikekang dan dikendalikan dengan tali ketakwaan agar seseorang tidak menuruti syahwatnya dengan diberikan perjanjian-perjanjian dan juga ancaman.

Remaja dengan rasa ingin tahu yang besar dan energi yang menyertainya, jika tidak dibentengi dengan pondasi agama yang kokoh akan mudah terperosok dan larut dalam gemerlap dunia yang menipu. Hal ini akan berujung pada suramnya masa depan pribadi dan bangsa dalam dinamika peradaban dunia dan yang lebih pasti lagi ia telah mengorbankan kebahagiaan akheratnya untuk kesenangan dunia yang hanya sesaat.

Menengok para remaja di jaman RasuluIlaah SAW, kita melihat sosok lelaki yang diwakili oleh Ali bin Abi Thalib r.a, Abdullah bin Umar r.a, Zaid bin Tsabit r.a, Mus’ab bin Umair r.a dan mewakili sosok perempuan di antaranya Fatimah Az-Zahra r.a, Aisyah binti Abu Bakar r.a, Asma binti Abu Bakar r.a, mengawali usia remajanya mereka sudah berani mengambil peran strategis dalam proses memperjuangkan kejayaan islam.

Islam adalah agama yang mengutamakan kehormatan jiwa, nasab, akal dan harta. Upaya antisipatif juga ditunjukan dalam salah satu firman Alloh swt: "Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk."  (Qs. Al-Isra’:32)

Zina merupakan dosa besar ketiga setelah musyrik dan membunuh, dalam firman Allah di atas disampaikan mendekati saja dilarang apalagi melakukannya. Perayaan valentine day faktanya kerap kali dibarengi dengan aktivitas amoral yang dilakukan oleh pasangan yang belum terikat pernikahan. Survey diberbagai wilayah pun menunjukan penjualan alat kontrasepsi menjelang valentine day berlipat hingga 500 persen, na’udzubillaah pergaulan bebas di kalangan remaja saat ini semakin dianggap lumrah sehingga ada upaya-upaya pembenaran.

Rasulullaah saw pernah bersabda yang artinya: "
Setiap Bani Adam mempunyai bagian dari zina, maka kedua mata pun berzina, dan zinanya mata adalah melalui penglihatan, dan kedua tangan berzina, zinanya adalah menyentuh. Kedua kaki berzina, zinanya adalah melangkah menuju perzinahan. Mulut berzina, zinanya adalah mencium. Hati dengan berkeinginan dan berangan-angan. Dan kemaluanlah yang membenarkan atau menggagalkannya." (HR. Bukhari)

Seluruh stakeholder harus serius duduk bersama dan segera mengambil tindakan antisipatif, karena rusaknya moral generasi muda saat ini berarti suramnya masa depan negeri ini. Semoga negeri ini tidak dicabut keberkahannya karena pembiaran kita terhadap setiap dosa yang kian marak dan pudarnya kepedulian dalam dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Wallaahu ’alam bis shawab. [yy/republika]

 

Oleh Ustaz Iman Lestariyono
Sekum dpd PKS Kota Bandung

 

Tags: valentine | moral | zina