14 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 21 Oktober 2021

basmalah.png

Kiblat Masing-masing Orang

Kiblat Masing-masing Orang

Fiqhislam.com - Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Tiap-tiap umat memiliki kiblat tersendiri yang ia menghadap kepadanya.” (al-Baqarah 2: 148)

Secara umum ayat ini berarti bahwa bakat, kesiapan, dan keahlian manusia berbeda-beda. Setiap orang memiliki ‘kiblat’ tersendiri. Di situlah seseorang mencipta, menjadi ahli, memancarkan sinar, dan menghasilkan karya, setelah masing-masing orang diberikan dasar kebaikan, keadilan, dan kebenaran yang sama.

Masing-masing rasul sekalipun memiliki ciri khas pada bidang tertentu. Nabi Dawud terkenal rajin beribadah, Nabi Sulaiman terkenal cerdas, Nabi Ayyub terkenal sabar, Nabi Isa terkenal zuhud, dan Nabi Musa terkenal berani.

Kecenderungan dan bakat sahabat-sahabat Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam juga berbeda-beda, lalu semuanya berkreasi berdasarkan anugerah itu. “Sebab itu, ambillah apa yang Aku berikan kepadamu, dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.” (al-A’raf: 144). Ubay bin Ka’ab adalah pemimpin ahli-ahli membaca Al-Qur’an, Mu’adz bin Jabal adalah sahabat yang paling mengerti halal dan haram, `Ali bin Abi Thalib adalah sahabat yang paling mampu memberikan keputusan, Zaid bin Tsabit adalah sahabat yang paling menjaga fardhu-fardhu, dan Hassan adalah sahabat yang paling mahir bersyair.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Tiap-tiap orang telah mengetahui tempat minumnya masing-masing.” (al-Baqarah: 60)

Kecakapan dan kecemerlangan orang yang cerdas dan pintar tidak akan terlihat sampai ia mempelajari dirinya, mengetahui bakat-bakatnya, dan mengembangkan keahliannya. Sebab, dengan begitu ia akan bekerja dengan nyaman, berkarya dengan baik, dan bersemangat dengan dirinya.

Sibawaih pada mulanya mempelajari hadits, lalu tertarik kepada nahwu –ilmu tata bahasa Arab, maka pada bidang nahwu inilah beliau menghasilkan mahakaryanya yang berjudul al-Kitab, yang menjadi rujukan para ahli bahasa. Andaikan beliau tetap belajar hadits, mungkin beliau akan menjadi seperti ratusan ahli hadits lain yang tidak cemerlang.

Al-Khalil bin Ahmad mahir juga dalam ilmu bahasa. Beliau mendedikasikan diri dan seluruh waktunya untuk ilmu tersebut. Maka, beliau pun menghasilkan karya yang bermutu tinggi dan mulia.

Al-Ashma’i berbakat dalam bidang periwayatan sastra dan penelusuran cerita-cerita rakyat. Beliau pun menjadi orang yang sangat mengagumkan dan menakjubkan di dalam bidang spesialisasinya itu.

Al-Jahizh mahir dalam bidang penulisan sastra dan pengolahan kata-kata. Beliau pun menjadi pakar yang langka dan menjadi buah bibir pada zamannya.

Imam asy-Syafi’i keranjingan mengkaji tujuan-tujuan dan rahasia-rahasia syari’at. Beliau pun menjadi imam dan suri teladan dalam bidang keilmuannya. Imam al-Bukhari sangat menggemari Ilmu Hadits. Beliau menghabiskan siang dan malam untuk itu. Maka, beliau pun meninggalkan warisan yang penuh berkah, kebaikan, dan keutamaan dalam ilmu tersebut. Begitu juga ulama-ulama lain yang telah meraih keutamaan dan berlomba-lomba dalam kebaikan dan kesempurnaan.

Sekali lagi, seseorang hanya dapat meraih kesuksesan apabila dia mengerjakan tugas yang pas, pekerjaan yang cocok, dan usaha yang sesuai dengan dirinya. Memaksa-maksa diri dan mendesak-desak bakat, tidak akan mendatangkan hasil yang baik.

Adalah mustahil menghendaki seorang ahli fikih menjadi ahli sastra, ahli sejarah menjadi ahli hadits, ahli kedokteran menjadi insinyur, dokter menjadi penjahit.

Berbahaya meletakkan pedang di atas tempat duduk. Begitu juga meletakkan tempat duduk di atas pedang.

Carilah pekerjaan yang tepat bagi Anda. Jika Anda sudah mengetahuinya, berdedikasilah kepadanya, bergiatlah mengejarnya, bersungguh-sungguhlah dalam meraihnya, dan kerahkanlah seluruh daya upaya Anda untuk mendapatkannya. Sebab, itulah jatah dan anugerah untuk Anda, apabila disertai keimanan yang kuat dan ketakwaan kepada Tuhan.

Tapi, jika Anda telah merasakan kebosanan, kejemuan, dan keengganan pada suatu pekerjaan atau keilmuan, dan tidak mempunyai motivasi lagi di dalamnya, maka Anda tidak akan menghasilkan karya yang baik. Boleh jadi Anda menguasai bidang keilmuan, pekerjaan, atau keahlian tersebut, namun penguasaan yang umum dan biasa-biasa saja. Menjadi pakar yang istimewa dan berpengaruh, hanya bisa dilakukan pada bidang yang Anda cintai, sukai, candui, dan gemari, karena Anda akan rela memberikan waktu, tidur, air mata, dan darah kepadanya. Pada kondisi seperti itulah akan terlahir karya, kepakaran, kecemerlangan, dan keistimewaan.

Kekuatan Imam Ahmad ibn Hanbal dalam bidang hadits. Kecemerlangan Imam Abu Hanifah dalam bidang fikih. Kemampuan al-Mutanabbi dalam bidang sya’ir, dan Ibnu al-Jauzi dalam bidang nasihat. Mahasuci Sang Pencipta yang telah berfirman, “Tiap-tiap umat memiliki kiblat tersendiri yang ia menghadap kepadanya.” (al-Baqarah:148).

Dr. ‘A’id ‘Abdullah al-Qarni, terangkum dalam bukunya Silakan Terpesona.
yy/hidayatullah