<
pustaka.png
basmalah.png

Mengenal Jin

jinnFiqhislam.com - Mendengar nama jin (jinn, dalam bahasa Arab), terbayang tentang makhluk Allah yang sangat menyeramkan, berwajah sangar, suka mengganggu manusia, lidah menjulur, dan lain sebagainya.

Namun, ia tak terlihat. Karena itu disebut dengan makhluk halus. Bahkan, banyak orang yang menyebutkan, wajah jin senantiasa sangat mengerikan.

Andai bisa memilih, banyak orang yang tak ingin melihat rupanya. “Pokoknya seram,” begitulah pendapat sejumlah orang tentang makhluk Allah yang satu ini.

Jin adalah jenis makhluk Allah yang tak tampak oleh mata. Karena itu, banyak orang lantas menyebutnya dengan makhluk halus, atau makhluk gaib.

Sebagai orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah, umat Islam wajib memercayai hal-hal yang gaib. Malaikat gaib, neraka juga gaib, dan surga juga gaib, termasuk keberadaan jin.

Karena tak terlihat, banyak manusia yang merasa tidak nyaman dengan keberadaan jin. Sebab, terkadang di antara jin tersebut ada yang suka usil dan mengganggu manusia.

Namun, bagi sebagian manusia yang bisa berinteraksi dengan makhluk halus ini, mereka kerap menjadikannya sebagai teman atau bahkan meminta pertolongan. Hal inilah yang dianggap banyak orang dapat menimbulkan syirik terhadap Allah.

Jauh sebelum manusia mengenal agama-agama besar, bahkan sejak masa awal sejarah kemanusiaan, kepercayaan tentang makhluk halus (gaib) ini telah ada. Mereka bahkan memuja dan memohon pertolongan kepada makhluk-makhluk halus tersebut.

Karena itu, zaman itu dikenal dengan animisme. Sedangkan orang yang memercayai kepada segala sesuatu mempunyai kekuatan gaib disebut dengan dinamisme.

Menurut cendekiawan Muslim sekaligus pakar tafsir Al Quran di Indonesia, Prof Dr HM Quraish Shihab, dalam bukunya yang berjudul “Yang Halus dan Tak Terlihat: Jin Dalam Al Quran” memaparkan, hal pertama yang ditemukan dalam Al Quran adalah uraian tentang fungsi Al Quran sebagai hudan (petunjuk) bagi orang-orang bertakwa. Sedangkan, sifat pertama orang-orang bertakwa adalah yu'minuna bi al-ghaib (percaya yang gaib).

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata jin diartikan sebagai makhluk halus (yang dianggap berakal).

Sementara itu, Ensiklopedi Islam terbitan PT Ichtiar Baru Van Hoeve mendefinisikan jin sebagai sejenis makhluk halus yang berakal dan mempunyai keinginan-keinginan sebagaimana manusia.

Perbedaannya dengan manusia ialah jin tidak memiliki tubuh. Oleh karena itu, jin tidak dapat dilihat dalam bentuk aslinya, kecuali ia mengubah diri dalam bentuk lain, karena jin dapat mengubah diri dalam bentuk yang dikehendakinya, sebagaimana malaikat.

Informasi tentang makhluk jin ini dapat diperoleh melalui Al Quran karena Allah-lah Yang Mahamengetahui tentang makhluk ciptaan-Nya. Banyak sekali ayat Al Quran yang redaksinya dapat dijadikan dalil untuk membuktikan adanya makhluk berwujud yang bernama jin.

Dalam Al Quran dijelaskan bahwa jin diciptakan dari api yang menyala (marij) dan ia adalah ujung api yang berkobar. Marij adalah kobaran api yang bercampur dengan api hitam (sangat panas, as-samuum). Lihat Ar-Rahman [55]: 15 dan Al-Hijr [15]: 27. “Dia (Allah) menciptakan jin dari nyala api.” (QS Ar-Rahman [55]: 15).

Dari Aisyah RA, Nabi SAW bersabda, “Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api yang berkobar, sedangkan Adam (manusia) diciptakan sebagaimana yang telah dijelaskan kepada kalian (tanah).” (HR Muslim).

Oleh karena diciptakan dari api, jin mempunyai bobot yang lebih ringan dari udara dan dapat memenuhi jagad raya tanpa ada yang menghalanginya.

Hal ini pula yang mendorong mereka untuk mencoba mengetahui rahasia langit. Mereka mendapati bahwa langit itu penuh dengan penjagaan yang ketat dan penuh dengan panah-panah api.

Syekh Abdul Mun’im Ibrahim dalam bukunya “Ma Qabla Khalqi Adam”, dan telah diterjemahkan dengan judul “Adakah Makhluk Sebelum Adam? Menyingkap Misteri Awal Kehidupan”, menjelaskan bahwa jin termasuk diantara makhluk Allah yang telah diciptakan dengan kewajiban menjalankan syariat-Nya.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku.” (QS Adz-Dzaariyat [51]: 56).

Lebih dulu
Kapankah jin diciptakan oleh Allah? Lebih dahulu manakah dia diciptakan dibandingkan dengan Adam, Iblis, dan Malaikat?

Dalam Surah Al-Hijr [15] ayat 26-27 diterangkan bahwa Allah menciptakan jin lebih dahulu dibandingkan dengan manusia.

“Sesungguhnya, Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan, Kami telah menciptakan jin sebelum Adam dari api yang sangat panas.” (QS Al-Hijr [15]: 26-27).

Dalam Ensiklopedi Islam disebutkan bahwa penciptaan jin lebih awal dari manusia, namun Al Quran tidak menjelaskan berapa jarak antara penciptaan kedua makhluk tersebut. Adapun jin yang pertama kali diciptakan adalah al-jan, bapak para jin.

Ia kemudian berkembang biak sebagaimana Adam yang merupakan manusia pertama yang diciptakan dari tanah kemudian berkembang biak. Demikian disebutkan dalam Ensiklopedi Islam.

Sementara itu, menurut Syekh Mun’im, Adam bukanlah makhluk pertama yang diciptakan oleh Allah. Pendapat senada juga terdapat dalam buku “Al-Jamharah” karya Abu Darid, “At-Tahzib” karya Al-Azhari, “Diwan Al-Adab” karya al-Farabi, “Mu'jam Maqayis Al-Lughah” karya Ibnu Faris, “Lisan Al-Arab” karya Ibnu Al-Manzhur Al-Ifriqi, lalu “As-Shahhah” karya Al-Jauhari, dan “Al-Mukhtar” karya Ar-Razi.

Pena
Adapun makhluk pertama yang diciptakan Allah adalah pena. Pendapat ini telah ditarjih dan dikuatkan oleh Ibnu Jarir dan Nashiruddin Al-Albani RA.

Setelah Allah menciptakan qalam, kemudian dilanjutkan dengan penciptaan tinta (dawat). Selanjutnya, Allah menciptakan air, kemudian Arasy (singgasana), kursi, Lauh Al-Mahfudz, langit dan bumi (semesta), malaikat, surga, neraka, jin dan iblis (setan), serta Adam AS.

Dari Ubadah bin As-Shamit, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Awal makhluk yang Allah SWT ciptakan adalah pena, lalu Dia berkata kepada pena, ‘Tulislah.’ Pena berkata, ‘Apa yang aku tulis?’ Allah berkata, ‘Tulislah apa yang akan terjadi dan apa yang telah terjadi hingga hari Kiamat.”

Imam Ahmad RA meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda, “Makhluk yang pertama kali Allah ciptakan adalah pena, lalu Dia berkata kepada pena tersebut, ‘Tulislah.’ Karenanya, pada saat itu berlakulah segala apa yang ditetapkan hingga hari akhir.” (Lihat Musnad Ahmad RA).

Tempat tinggal yang disukai jin
Seperti halnya manusia, jin juga punya tempat tinggal dan bahkan beranak pinak. Tentu saja, tempat tinggalnya berbeda dengan tempat tinggal manusia. Rumahnya tak terlihat oleh manusia.

Bahkan, dalam berbagai literatur, disebutkan bahwa sebelum Nabi Muhammad SAW diutus menjadi rasul, kaum jin pernah menduduki beberapa tempat yang ada di langit. Di sana, mereka mendengar berita dan informasi yang ada di langit.

Namun, ketika Muhammad SAW diangkat menjadi nabi dan rasul, para jin ini tidak lagi tinggal di tempat tersebut. Bahkan, mereka juga tak mampu mencari informasi atau kabar dari langit. Lihat Surah Al-Jin [71] ayat 8-9.

Sejak tak mampu lagi menembus kabar dari langit dan bertempat tinggal di sana, para jin mencari tempat tinggal yang baru. Mereka tinggal di atas muka bumi ini. Rasul SAW mengabarkan, banyak tempat yang disukai oleh jin, di antaranya laut, kamar mandi, tempat yang kotor (sampah), dan lainnya.

Toilet adalah salah satu tempat di muka bumi yang disukai jin. Karena itu, Nabi SAW menganjurkan setiap orang yang akan memasuki toilet memohon perlindungan Allah SWT dengan membaca, “Allahumma inni a’udzu bika min al-khubutsi wa al-khaba’its (Ya, Allah, aku memohon perlindunganmu dari gangguan jin pria dan jin wanita).”

Quraish Shihab menjelaskan, pegunungan, lautan, pasar, dan atap rumah juga disebut-sebut dalam berbagai riwayat sebagai tempat yang disukai jin.

Ibnu Taimiyah menulis bahwa jin banyak berada di tempat-tempat kumuh, yang di dalamnya terapat najis, seperti tempat pembuangan sampah dan kuburan.

Sebagaimana manusia dan hewan, para jin ini juga makan dan minum, menikah, beranak, serta mati. Menurut Syekh Abdul Mun’im Ibrahim, para jin ini adalah penghuni dunia yang hidup di tempat-tempat sepi dari manusia dan di padang pasir.

Dan di antara para jin itu, ada yang hidup di pulau-pulau di tengah laut, di tempat sampah, di tempat rusak, dan di antara mereka ada yang hidup bersama manusia.

Jin memiliki kemampuan yang tidak ada pada manusia, seperti terbang, naik ke langit, mendengar apa yang tidak bisa didengar oleh manusia, dan mereka juga melihat apa yang tidak dapat dilihat oleh manusia.

Banyak hadits juga menginformasikan bahwa jin berkeliaran pada saat menjelang matahari terbenam dan pada waktu-waktu gelap.

Jabir Ibn ‘Abdillah RA mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Pada awal malam atau pada saat kalian memasuki waktu petang, lindungilah anak-anak kalian karena setan berkeliaran saat itu. Apabila awal malam telah berlalu, biarkan mereka dan tutuplah pintu serta sebutlah nama Allah karena setan tidak mampu membuka pintu yang tertutup (jika disebut nama Allah ketika menutupnya).” (HR Bukhari-Muslim). [republika]

 

top