fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


30 Sya'ban 1442  |  Senin 12 April 2021

Mengendus Jejak Ya'juj wa Ma'juj

Mengendus Jejak Ya'juj wa Ma'juj

Fiqhislam.com - Dari penakwilan Imran Hosein, dijelaskan bahwa Ya’juj dan Ma’juj se cara langsung atau tak langsung berperan dalam membantu kembalinya Bani Israil ke Yerusalem setelah mereka berdiaspora. Menentukan apakah Ya’juj dan Ma’juj itu sesungguhnya kaum yang kini menyebut dirinya se bagai warga negara Israel yang menguasai Palestina, perlu pe nafsiran yang lebih luas lagi dengan melihat peristiwa sejarah dari sejak zaman Nabi hingga sekarang.

Ibn Katsir dalam kitab tafsirnya menyebut bahwa Ya’juj dan Ma’juj adalah keturunan Adam, artinya mereka memang manusia, bukan makhluk lain. “Mereka adalah keturunan dari Nuh melalui putranya Yafith (Japheth) yang kemudian menjadi bapak dari bangsa Turki. Bangsa Turki inilah kaum yang ditinggalkan di belakang tembok penghalang yang dibangun oleh Zulkarnain,” tulis Ibn Katsir.

Bila merujuk Ibn Katsir, tentu kita tak bisa menyebut bahwa bangsa Turki yang dimaksud adalah mereka yang kini menghuni ne gara Turki modern karena Turki merupakan sebuah bangsa nomaden yang dahulu menghuni wilayah yang sangat luas dari sekitar Laut Hitam sampai padang sabana di Asia Tengah. Suku-suku Turki yang terkenal di antaranya adalah Hun yang pernah menguasai Bulgaria dan pernah memorakporandakan Kekaisaran Romawi, Pecheneg yang menguasai Eropa Timur, dan Khazar yang menguasai wilayah Laut Hitam dan Kaukasia. Suku-suku Turki lainnya juga banyak yang tinggal di wilayah timur meliputi Asia Tengah sampai Cina, misalnya, suku Kimak dan Kipchak.

Raja Khazar Joseph Ben Aron dalam suratnya kepada Hasdai Ibn Shaprut, sekretaris urusan luar negeri kekhalifahan di Kordoba, Spanyol, pernah menyebut menge nai asal usul mereka. Dalam korespondensi yang terjadi pada abad ke-10 itu, Joseph menyebut bahwa bangsa Turki merupakan ke turunan dari Japheth putra Nuh, lewat putra Gomer, lalu putra Togarmah. Menurut Joseph, dalam buku genealogi bangsanya, Togarmah punya 10 putra, yaitu Ujur (Agior-Uyghur), Tauris (Tirosz), Avar (Avor), Uauz (Ugin- Oghuz), Bizal (Bizel-Pecheneg), Tarna, Khazar, Janur (Zagur), Bulgar (Balgor-Bulgar), dan Sawir (Szavvir/Szabir-Sabir).

Ibn Shaprut merupakan Yahudi Spanyol yang menjadi pejabat tinggi kekhalifahan Umayyah. Dia berkirim surat kepada raja Khazar bukan tanpa alasan karena saat itu Joseph memang memeluk agama Yahudi. Sejak abad ke-9, ketika di bawah kepemimpinan Raja Bulan, suku Khazar memutuskan untuk memeluk agama Yahudi. Saat itu, posisi mereka terjepit antara Kekaisaran Romawi Timur di Konstantinopel yang memeluk agama Kristen dan Kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad yang memeluk agama Islam. Sebagai jalan tengah menghadapi dua ke kuatan raksasa itu, Raja Bulan akhirnya memilih memeluk agam Yahudi diikuti seluruh penduduknya.

Berbagai teori sejarah menyebutkan bahwa suku Turki Kha zar inilah yang akhirnya menye bar ke seluruh Eropa setelah kerajaan mereka runtuh pada abad ke-12 di tangan Abbasiyah maupun kerajaan kerajaan asal Rusia. Mereka kemudian membentuk komunitas Yahudi terbesar di luar keturunan Israel. Lalu, apakah suku Khazar inilah yang disebut sebagai Gog Magog? [republika]

Yajuj dan Majuj Sudahkah Mereka Keluar?

Nabi Muhammad tiba-tiba terbangun dari tidurnya dengan muka merah padam. Seperti diceritakan oleh Zainab binti Jahsy, saat terbangun itu, Nabi tiba-tiba berkata, “Tiada Tuhan yang patut disembah selain Allah. Sungguh kerusakan akan menimpa bangsa Arab akibat datangnya kejahatan yang telah dekat. Hari ini, sebuah lubang sebesar ini telah terbuka di dinding Ya’juj dan Ma’juj.” Ketika itu, Nabi membuat tanda lubang dengan ibu jari dan jari telunjuknya.

Legenda mengenai Ya’juj dan Ma’juj tak hanya dikenal di dalam ajaran Islam. Dalam ajaran Kristen dan Yahudi pun kisah mengenai se kelompok manusia yang bakal membuat kerusakan besar di muka Bumi itu juga diceritakan, lebih dikenal dengan nama Gog dan Magog. Adalah Zulkarnain, seorang raja besar pada masa lalu yang telah mengurung kaum Ya’juj dan Ma’juj di sebuah lembah di antara dua gunung tinggi (assaddain) dengan cara membangun tembok penghalang terbuat dari besi dan tembaga, seperti diceritakan dalam Alquran surah al-Kahfi ayat 93-97.

Lalu, dalam ayat selanjutnya, disebutkan bahwa suatu saat tembok itu akan runtuh dan kaum Ya’juj dan Ma’juj akan keluar. “Dan, pada hari itu (ketika tembok terbuka), kami biarkan mereka bercampur baur satu sama lain seperti gelombang.…” Dalam Alquran versi Departemen Agama, kalimat “pada hari itu” (yawma idhin) dari ayat ke-99 surah al-Kahfi ini diartikan sebagai hari kiamat. Namun, Dr Imran Nazar Hosein, cendekiawan Muslim kelahiran Trinidad dan Tobago 70 tahun silam punya pendapat lain atas ayat itu.

Karena ayat ke-98 menceritakan mengenai akan runtuhnya tembok penghalang Ya’juj dan Ma’juj maka lebih tepat bila kalimat pada hari itu ditafsirkan sebagai hari ketika tembok itu benar-benar runtuh. Hari ketika kaum perusak itu akhirnya bisa keluar dari lembah yang mengurung mereka dan kemudian bertebaran di seluruh penjuru Bumi seperti gelombang lautan dan kemudian bercampur baur dengan ras-ras manusia lainnya.

Ini dijelaskan juga dalam surah al-Anbiyaa ayat 96, dari terjemahan versi Departemen Agama. “Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya’juj dan Ma’juj dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi.”

Pertanyaan utamanya, kapankah tembok Zulkarnain itu runtuh? Atau, lebih tepatnya, apakah kaum Ya’juj dan Ma’juj itu sudah keluar dan bertebaran untuk membuat kerusakan di muka Bumi? Kisah dari Zainab binti Jahzy, hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim di atas dianggap Imran Hosein sebagai konfirmasi bahwa pada zaman Nabi Muhammad masih hidup tembok itu sudah mulai terbu ka. Artinya, dalam beberapa abad setelahnya, kemungkinan besar kaum Ya’juj dan Ma’juj sudah menemukan jalan keluar.

Dalam kisah sama yang diriwayatkan dalam sahih Bukhari, ada versi yang lebih panjang ketika Zainab binti Jahsy akhirnya bertanya kepada Nabi Muhammad. “Ya Rasulullah, apakah kita (bangsa Arab) akan dihancurkan walaupun masih ada orang beriman di antara kita?” Nabi menjawab, “Ya, ketika kemaksiatan merajalela.”

Pendapat Imran Hosein yang menulis beberapa buku mengenai hari akhir, terutama kajian takwil surah al-Kahfi, ini juga didasarkan pada belum ditemukannya bukti-bukti arkeologis apa pun mengenai tembok yang dibangun Zulkarnain. Saat ini, tak ada satu pun sudut Bumi yang belum pernah dijelajahi manusia atau luput dari intaian kamera satelit. Bila Ya’juj dan Ma’juj masih terkurung dalam lem bah maka seharusnya tembok buatan Zulkarnain itu masih kokoh menjulang dan mudah ditemukan. Bila sudah tak ada tanda- tanda keberadaan tembok besar di sebuah lembah curam maka ber arti tembok itu sudah runtuh dan menjadi tugas arkeolog untuk menemukan sisa-sisanya.

Ada pendapat sebagian mufasir yang mengatakan bahwa tembok itu dibangun di daerah Kaukasia, di antara dua lautan (Laut Hitam dan Laut Kaspia). Ini merupakan hasil penafsiran surah al-Kahfi ayat 86-90 berkenaan dengan perjalanan Zulkarnain yang bertemu dua perairan berwarna pekat di bagian barat dan timur dengan pen duduk yang bahasanya tak bisa dipahami. Wilayah dengan topografi penuh pegunungan tinggi dan lembah curam itu cocok dengan wilayah perbatasan antara Georgia dan Rusia, berada di barisan pegunungan Kakukasus antara Laut Hitam dan Laut Kaspia, tepatnya di Gunung Kazbek dan lembah Sungai Terek, yang dikenal dengan nama Ngarai Darial.

Orang Persia menyebutnya Gerbang Alan. Ngarai Darial dikenal juga sebagai Gerbang Kaukasia atau Gerbang Kaspia. Orang Georgia me nyebutnya Ralani, Darialani. Ada yang menyebutnya Porte Cu mana dan Fortes Sarmatica. Lalu, bangsa Tartar menyebutnya Darioly. Sejak zaman dulu, Ngarai Darial dan juga Derbent Pass telah menjadi jalur perlintasan penting di Kaukasia bagi berbagai ekspedisi militer dari Persia, suku-suku Turki kuno, kekhalifahan Islam, sampai akhirnya dikuasai Rusia. Jalur ini menjadi penghubung rute dari utara ke selatan Kaukasia.

Yerusalem
Namun, Imran Hosein yang dikenal mendukung tafsir semantik atas Alquran itu juga menjelaskan bahwa tanda-tanda lepasnya Ya’juj dan Ma’juj juga telah dinubuatkan. Salah satu petunjuknya ada pada surah al-Anbiyaa ayat 95, “Sungguh tidak mungkin atas penduduk suatu negeri yang telah kami binasakan bahwa mereka tak akan kembali.” Lihat bahwa ayat ke-96 kemudian menyebut mengenai runtuhnya tem bok penghalang Ya’juj dan Ma’juj. Artinya, ada suatu kaum yang dulu menghuni sebuah negeri atau tempat dan tak bisa kembali lagi ke tempat asal mereka sampai akhirnya mereka bisa kembali lagi setelah tembok penghalang Ya’juj dan Ma’juj runtuh dan kaum perusak itu menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Di sini, Alquran dan Injil bersepakat bahwa ada satu kaum yang dahulu menghuni sebuah negeri dan kemudian dihancurkan dan mereka dilarang kembali lagi ke negeri itu. Negeri itu, dalam hal ini adalah sebuah kota bernama Yerusalem yang merupakan kampung halaman bangsa Yahudi. Dalam sejarahnya, Nebukadnezar penguasa Babilonia (Mesopotamia) pernah menghancurkan Kerajaan Yehuda dan mengusir kaum Yahudi keluar dari Yerusalem pada abad ke-6 SM sehingga mereka berdiaspora.

Kaisar Romawi Hadrian kemudian membangun kembali sebuah kota di dekat reruntuhan Yerusalem pada 70 M yang diberi nama Aelia Capitolina. Langkah Hadrian menempatkan patung-patung dewa dan kuil Romawi di bekas Yerusalem menimbulkan perlawanan kaum Yahudi yang masih tersisa di tem pat itu yang dikenal dengan na ma pemberontakan Bar Kokhba. Hadrian murka dengan pemberontakan itu. Bertekad membasmi Yudaisme di Yerusalem, Romawi kembali mengusir kaum Yahudi. [republika]