14 Dzulhijjah 1442  |  Sabtu 24 Juli 2021

basmalah.png

Konsep Manusia ‘Saleh’ dan ‘Muslih’ Menurut Al Ghazali

Konsep Manusia ‘Saleh’ dan ‘Muslih’ Menurut Al GhazaliFiqhislam.com - Kitab Ihya Ulumuddin ternyata punya prespektif yang ‘genuine’ soal sosok manusia dalam kaitannya sebagai mahluk pribadi maupun makhluk sosial. Al Ghazali dalam kitab itu menjelaskan bahwa menjadi manusia yang baik (soleh/saleh) itu memang penting. Tapi yang lebih penting lagi adalah menjadi manusia yang lebih untuh yakni saleh secara pribadi dan saleh secara sosial.

‘’Ada hikmah atau ajaran yang bisa dipetik ketika mempelajari kitab Ihya Umuluddin karya Imam Al Ghazali. Kitab ini memang membahas sosok manusia secara utuh. Jadi tak hanya membahas soal tasawuf saja, Ihya Umuluddin ternyata juga membahas manusia daam kaitannya dengan soal interakaksi sosial, persoalan muamalah (hubungan antarmanusia) seperti halnya kemudian terkait dalam soal akad dalam bisnis (usaha) sampai soal politik,’’ kata Zumroh Najiyah Asrori (santriwati Ponpes Darun Najah Malang), pemenang lomba Musabqoh Kitab Kuning PKB’, di Jakarta, Sabtu (14/5).

Najiyah lebih lanjut mengatakan ada dua definisi ‘orang baik’ di dalam kitab itu, yakni ‘soleh’ dan ‘’muslih’. Dan dari dua dimensi definisi itu kemudian mencuatkan  perbedaan yang jelas. Orag ‘soleh’ menurut Imam Gazali adalah orang yang baik secara pribadi. Sedangkan oleh ‘muslih’ adalah orang yang baik secara pribadi serta sosial.

Atau dengan kata yang lain, ‘soleh’ adalah kualitas kebaikannya hanya untuk diri sendiri, sedangkan ‘muslih’ kualitas kebaikannya bisa merambah dan menjadi petunjuk orang lain atau masyarakat luas.

‘’Kalau ditanya mana yang lebih baik antara menjadi orang ’soleh’ atau ‘muslih’ jawabnya tentu saja orang yang ‘muslih’. Istilahnya adalah orang ‘muslih’ itu punya kedalaman sekaligus ketinggian tauhid yang kemudian diimplementasikan dalam kenyataan sosial kemasyarakatan,’’ kata Najiyah.

Ihya Umuluddin Kitab Yang Lengkap Membahas Soal Sisi Seorang Manusia

Dari kajian Naziyah, berbeda dengan kitab kuning yang lain, misalnya kitab ‘Fatkhul Muin’, pemikiran Imam Al Ghazali tentang sosok manusia memang terasa lebih komprehensif atau lengkap. Di dalam kitab tersebut, dimensi manusia yang dijadikan bahasan bukan hanya ditelisik dari satu sisi saja.

Alhasil,  materi bahasan kitab Ihya Umuluddin itu tidak hanya mengupas manusia dalam kaitannya dalam perbuatan halal-haram atau bersifat sebatas fiqh saja (seperti misalnya kajian manusia dalam kitab Fatkhul Mu'in). Namun, di dalam kitab tersebut pembahasannya ternyata mencakup seluruh sisi atau penjuru bmengenai cara  menjadi orang Islam yang berakhlak utuh (kaffah).

‘’Saya rasa ajaran kitab ‘Ihyaumuluddin’ juga cocok bagi dunia politik. Sebab, bagaimanapun akhirnya seorang manusia itu pasti akan melakukan interaksi dengan orang lain. Nah, ketika berinteraksi dengan orang lain itulah yang membuat perlunya akhlak yang baik. Harapannya, ketika orang sudah menjadi ‘muslih’ maka ketika dia menjalankan profesi hidupnya, maka dia pun mampu melakukannya dengan landasan akhlak yang baik dalam arti secara pribadi maupun secara sosial. Sebab, siapa pun orangnya, menurut Imam Al Ghazali, harus memperjuangkan kepentingan perbaikian kualitas diri secara pribadi, sekaligus memperjuangkan perbaikan perilaku kehidupan  orang lain,’’ ujar Najih.

Kitab Kuning Perlu Dipubliksikan

Terkait dengan penyelenggaraan loma Musabaqah Kitab Kuning (Kitab Ihya Umuluddin), Seken Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Kadir Karding mengatakan memang ada banyak hikmah yang didapat dalam ajang lomba kali ini. Di antaranya adalah adanya kenyataan meski mempunyai nilai luhur bagi kehidupan bangsa, ajaran kitab kuning seperti Ihya Ulumuddin itu belum tersebarnya secara luas ke publik. Istilahnya  ‘mutiara’ hikmah dan ajaran berbagai kitab klasik yang selama ini hanya tekesan menjadi mlik atau kajian para santri belaka.

‘’Ke depan kami akan terus memperkenalkan kazanah kitab kuning secara lebih luas ke publik. Yang pertama ini memang mengkaji kitab Ihya Umuluddin. Tapi di tahun mendatang akan ada kajian kitab-kitab yang lain,’’ kata Karding.

Bila Najiyah keluara sebagai juara dari kelompok wanita, maka pemenang Lomba Musabaqoh Kitab Ihya Umuluddin kelompok pria kali ini adalah Mufid Kholilullah Khudori yang merupakan santri pondok Pesantren Al Keniyah Jakarta.

Sebagai hadiah kepada para pemenang PKB memberangkatkan keduanya melakukan ibadah umrah ke tanah suci dan melakukan ziarah ke makam Imam Al Ghazali yang berada di Masyhad Iran.

‘’Musabaqoh kitab Ihya Umuluddin yang berlangsung semenjak bulan April itu telah diikuti 1.500 peserta yang tersebar di seluruh Indonesiia, yakni di 29 provinsi. Ke depan musabaqoh serupa ini akan kami  gelar kembalii,’’ katanya.

yy/republika

 

Tags: ghazali | shaleh | saleh | soleh | ulama