pustaka.png.orig
basmalah.png


15 Dzulqa'dah 1442  |  Jumat 25 Juni 2021

Etos Saudagar Muslim

Etos Saudagar Muslim

Fiqhislam.com - Namanya Abdurrahman bin Auf. Pada masa jahiliyah, dikenal dengan nama Abdul Amar. Sahabat Nabi SAW ini masuk Islam setelah Abu Bakar Shiddiq, tergolong generasi awal yang ikut hijrah ke Khabasyah. Dia ikut Perang Badr, Uhud, dan Tabuk di garda depan. Sosok ini cerdas berilmu hingga Umar bin Khattab mengangkat sebagai satu dari enam formatur untuk pemilihan khalifah utama.

Lebih spesial lagi, Abdurrahman bin Auf adalah sosok saudagar Muslim yang merintis perniagaan dari nol hingga sukses menjadi konglomerat ternama dalam sejarah Islam. Kekayaannya melimpah sekaligus mujahid tangguh di jalan Allah dengan jiwa dan hartanya. Dia sangat dermawan dan menjadi penanggung banyak orang yang mengalami kesusahan ekonomi.

Ketika hijrah ke Yasrib, Abdurrahman di persaudarakan dengan Sa'ad bin Rabi al-Anshari, seorang penduduk yang kaya raya di Madinah.

Namun, Abdurrahman tidak mau menumpangkan hidupnya lewat tanggungan orang lain meskipun para sahabat Anshar itu sangat terbuka dan sarat rasa persaudaraan dalam menerima para Muhajirin.

Ketika Sa'ad menawarkan bantuan dengan tulus, Abdurrahman malah berujar sarat gelora, "Tunjukkanlah padaku di mana letak pasar di kota ini!" Lalu, ditunjukkan kepadanya pasar dan bergegaslah dia untuk memulai berniaga. Sejak itu, niaganya makin lama kian sukses. Jadilah Abdurrahman bin Auf menjadi saudagar ternama di kalangan Muslimin dan bangsa Arab kala itu.

Kekayaan Abdurrahman melimpah dan jiwanya dermawan sebagaimana Abu Bakar dan Utsman. Pada waktu Perang Tabuk, dia menginfakkan hartanya yang terbanyak. Karena kedermawanan, ilmu, kesalehan, dan sifat mujahadahnya, Rasulullah memasukkan putra Auf bin Abdil Harits ini sebagai salah seorang penghuni surga.

Kekuatan niaga 

Umat Islam di negeri manapun jika ingin kuat dan berdaya saing tinggi, harus menjadi saudagar sebagaimana Abdurrahman bin Auf. Jika Rasulullah mengidealisasikan Muslim terbaik sebagai orang yang "tangannya di atas" dan bukan mereka yang "bertangan di bawah", kekuatan niaga menjadi salah satu pilar utama. Islam pun mengidealisasikan umatnya agar menjadi pemberi zakat ketimbang menjadi mustahik karena di antara kebajikan seorang Muslim ialah yang mampu menafkahkan hartanya di jalan Allah. (QS al-Baqarah: 177).

Umat terbaik ialah umat yang kuat. Umat mukmin yang kuat jauh lebih baik dan dicintai Allah daripada yang lemah sebagaimana pesan Nabi. Kuat iman, ilmu, dan amalnya, termasuk kuat secara ekonomi.

Dengan kemampuan ekonomi yang kuat, di samping ilmu dan karakter diri, umat Islam berpeluang besar menjadi khaiyra ummahsebagaimana diisyaratkan Allah dalam Alquran. (QS Ali Imran: 110).

Perkembangan Islam di nusantara yang gemilang, salah satu faktornya terletak karena jasa para saudagar yang menyebarluaskan Islam dengan cara damai melalui jalur perniagaan.

Jasa para saudagar di wilayah- wilayah pesisir sebagai pintu utama penyebaran Islam di negeri ini sungguhlah besar. Etos sejarah para saudagar ini sungguh luar biasa meski yang banyak berkembang di masyarakat Islam nusantara justru mitos para wali. 

Tesis Max Weber tentang spirit kapitalisme dalam "Etika Protestan" sesungguhnya melekat dengan sejarah dan perkembangan Islam. Weber juga menemukan etos niaga pada religi Tokugawa di masyarakat Jepang dan Kundutse di Cina kala itu. Sayang, Bapak Sosiologi Jerman itu hanya melihat Islam sebagai agama "prajurit" lewat ekspansi jihad Muslimin, sebagaimana dikritik keras oleh Brian Turner. Padahal, secara faktual, peran para saudagar Islam di jalur ekonomi atau perdagangan sangatlah besar.

Di negeri ini, saat ini bahkan uang atau kekuatan modal menjadi penentu dunia politik.

Demikian ekstrem keadaannya hingga perpolitikan Indonesia berwatak "padat modal". Hatta sebagian para dai dan dunia dakwah pun kini masuk kepusaran kapitalisasi sehingga tumbuh fenomena komodifikasi dakwah.

Ketika uang, kekayaan, dan ekonomi menjadi sarana dakwah yang benar dan konstruktif bagi kemajuan umat, berniaga sebagai mana etos para saudagar menjadi niscaya. Tentu saja semuanya harus dibingkai moral dan nilai-nilai dasar agama yang kokoh dan autentik agar tidak terjerumus pada penyakit mata'

al-ghururdan ta'bid `an al-mawadyang membuat orang-orang Islam kehilangan kepribadiannya. Harta sebagaimana takhta selalu memiliki dua sisi dari mata uang.

Etos produktif Dari mana harus mulai?

Tentu jawabannya simpel, mulailah dari membangun etos niaga melalui kerja-kerja produktif yang nyata dan membumi. Membangun kekuatan ekonomi umat dengan etos berniaga dan menjadi saudagar itu tidaklah sekali jadi. Untuk menjadi saudagar diperlukan kerja-kerja nyata, cerdas, inovatif, produktif, dan dapat dituai hasilnya dengan dimulai dari awal sebagaimana Abdurrahman bin Auf memberi keteladanan.

Umat Islam di Indonesia itu mayoritas. Bukan hanya di ranah domestik, jumlah Muslim Indonesia juga mayoritas di dunia.

Inilah kekuatan terbesar dari segi kuantitas. Dengan jumlah yang besar itu, tentu terbuka peluang untuk memberi warna pada masyarakat dunia Islam. 

Muslim Indonesia banyak dikenal dengan perilakunya yang positif ketika berhaji yang diakui positif oleh bangsa lain. Sikap Muslim Indonesia yang dikenal moderat juga merupakan kekuatan yang positif di dunia Islam saat ini sehingga menjadi role model.

Kini, sudah waktunya membangun daya saing umat dengan kerja-kerja produktif di berbagai aspek kehidupan nyata yang menjadikan umat mandiri, unggul, dan berkemajuan. Kurangi terlalu banyak ritual sosial, simbolisasi, dan kegiatan-kegiatan beraroma mercusuar yang hanya meninabobokan diri. 

Lakukan kerja-kerja produktif dan strategis, serta jauhi kebiasaan menjual kesuksesan semu ala demagogis. Dalam semboyan Muhammadiyah, gelorakan semangat "Sedikit bicara, banyak bekerja!" serta "Siapa menanam, mengetam!"  [yy/republika]

Oleh Haedar Nashir