5 Jumadil-Awal 1443  |  Kamis 09 Desember 2021

basmalah.png

Menghindari Kegembiraan yang Meluap-luap

Menghindari Kegembiraan yang Meluap-luap

Fiqhislam.com - Gembira merupakan hal yang manusiawa. Kita sebagai manusia tentunya pernah merasakan bahagia. Namun perasaan gembira bisa membuat darah menyala manakala terjadi secara sangat kuat. Hal itu dapat merugikan bahkan kerap kali mematikan.

Perasaan gembira seyogyanya terjadi secara wajar, tidak berlbihan untuk mengimbangi kesedihan. Kegembiraan yang berlebihan mencerminkan kelengahan dan kelalaian seseorang. Karena bagi seseorang yang beriman dan berakal tiada jalan untuk bergembira seperti itu. Orang yang berakal hanya akan gembira secara alamiah manakala ada hal yang menggembirakan kemudian mengingat-ingat kembali serta takut akan akibat sehingga kegembiraannyaitu menjadi sirna.

Ketika kelalaian dan kelengahan akibat perasaan gembiran, maka hal tersebut akan mengantarkan kepada kesombongan dan kufur nikmat. Sehubungan dengan ini Allah berfirman bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang bersukacita melewati batas, yang dengannya mereka menjadi sombong dan kufur nikmat.

Untuk mengobati kegembiraan yang meluap-luap manusia harus mengingat-ingat dosa-dosa masalalunya serta berpikir tentang kesulitan-kesulitan di masa yang akan datang. Al-Hasan Al-Basri berkata, “Kematian akan menelanjangi keburukan-keburukan dunia bagi orang yang berakal.”

yy/islampos
Referensi: Mengobati Jiwa yang Lelah/Karya: Ibnu al-Jauzy/Penerbit: Mirqat