14 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 21 Oktober 2021

basmalah.png

Luqman Al-Hakim, Manusia Penuh Hikmah

Luqman Al-Hakim, Manusia Penuh HikmahFiqhislam.com - Walau dianggap bukan golongan nabi, nama Luqman diabadikan sebagai salah satu surat Alquran.

Tak banyak yang benar-benar mengenal Luqman al-Hakim. Sejumlah riwayat menyatakan Luqman berasal dari Nuba, dari penduduk Ailah yang kini berada di negara bagian Kordofa, Sudan Selatan.

Ada juga yang berkata bahwa dia berasal dari Ethiopia. Pendapat lain mengatakan, ia berasal dari Mesir Selatan yang berkulit hitam. Tiga versi ini menunjukkan bahwa Luqman berasal dari ras kulit hitam, negro.

Bila benar dia dari Pegunungan Nuba, fisiknya bisa dipastikan tinggi besar menjulang layaknya warga Nuba masa kini. Tetapi, ada pula sebagian sejarawan yang berpikir bahwa dia berasal dari Ibrani.

Selain asal-usulnya, profesinya pun diperselisihkan. Ada yang berkata dia penjahit, pengumpul kayu, tukang kayu, atau penggembala. Tak ada yang bisa memastikannya.

Tetapi, semuanya setuju bahwa Lukman adalah seorang bijak sehingga dia pun dijuluki al-Hakim. Dia adalah manusia yang sangat bersyukur akan keislamannya, bersyukur atas dirinya dan kehidupan yang dimilikinya.

Seperti diceritakan dalam kitab tafsir Al-Misbah karya Prof Quraish Syihab, suatu ketika Luqman sedang tidur pada siang hari, tiba-tiba dia mendengar suara memanggilnya seraya berkata, “Hai Luqman maukah engkau dijadikan Allah khalifah yang memerintah di bumi?”

Luqman tak ragu menjawab. “Kalau Tuhanku memberiku pilihan, aku memilih afiat (perlindungan), tidak memilih ujian. Tetapi, bila itu ketetapannya, akan kuperkenankan dan kupatuhi karena kau tahu bahwa bila itu ditetapkan Allah bagiku, pastilah Dia melindungiku dan membantuku,” katanya.

Para malaikat yang tidak dilihat oleh Luqman bertanya, “Mengapa demikian?” yang kemudian dijawab oleh Luqman bahwasanya karena pemerintah atau penguasa adalah kedudukan yang paling sulit dan paling keruh. Kezaliman menyelubunginya dari segala penjuru.

Bila penguasa itu adalah seorang yang adil, wajar ia selamat. Dan bila ia keliru, keliru pula ia menelusuri surga.

Seorang yang hidup hina di dunia lebih aman daripada dia hidup mulia dalam pandangan manusia.

“Dan siapa yang memilih dunia dengan mengabaikan akhirat, dia pasti dirayu oleh dunia, dijerumuskan olehnya, dan tidak akan memperoleh sesuatu di akhirat,” kata Luqman.

Para malaikat kagum dengan ucapannya. Selanjutnya, Luqman tertidur lagi dan ketika ia terbangun, jiwanya telah dipenuhi hikmah dan sejak itu seluruh ucapannya adalah hikmah.

Atas hikmah yang dimilikinya, banyak orang pada masa itu yang berpikir dia adalah seorang nabi.

Sahabat Ibn Umar menyatakan bahwa suatu hari Rasulullah bersabda, “Aku berkata benar, sesungguhnya Luqman bukanlah seorang nabi, tetapi dia adalah seorang hamba Allah yang banyak menampung kebajikan, banyak merenung dan keyakinannya lurus. Dia mencintai Allah, maka Allah mencintainya dan menganugerahkan kepadanya hikmah,” tutur Nabi.

Hikmah yang dimilikinya tersebut tak disimpan sendiri oleh Luqman, tetapi diwasiatkan kepada anaknya melalui nasihat-nasihat yang terus-menerus diutarakannya. Nasihat-nasihat itu dirangkum di dalam Alquran surah Luqman ayat 12 hingga 19 agar manusia lainnya bisa belajar dari apa yang diyakini Luqman dalam hidupnya.

Diabadikannya nama Luqman sebagai nama surah ke-31 dalam Alquran menunjukkan bahwa meski statusnya mungkin bukan nabi, tetapi derajatnya pasti sangat tinggi.

Sejumlah riwayat menyatakan, nasihat yang disampaikan Luqman kepada anaknya disebabkan oleh sang anak adalah seorang musyrik.

Maka dari itu, Luqman terus-menerus menasehati sampai akhirnya sang putra mengakui akan kebenaran konsep tauhid.

Tetapi, tak sedikit yang memilih untuk berpikir positif atas anak Luqman bahwa nasihat yang diberikan Luqman murni sebagai nasihat yang penuh hikmah yang memang seharusnya disampaikan oleh sang ayah kepada anaknya tercinta.

Nasihat tersebut pun memberikan isyarat bahwa mendidik hendaknya didasari oleh rasa kasih sayang.

Kepada anaknya, Luqman mengingatkan agar tidak mempersekutukan Tuhan, seperti yang diutarakannya dalam surah Luqman ayat 13. “Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah kezaliman yang besar,” katanya.

Larangan yang disampaikan Luqman mengandung pengajaran tentang wujud dan keesaan Allah. Dia menekankan perlunya meninggalkan sesuatu yang buruk sebelum melakukan yang baik.

Di ayat selanjutnya, Luqman mengingatkan sang anak untuk berbakti kepada kedua orang tuanya. Dia bahkan menyebutkan bahwa bakti seorang anak terhadap orang tuanya menempati tempat kedua setelah pengagungan kepada Allah.

Allah SWT, menurut Luqman, telah secara naluriah menjadikan orang tua rela terhadap anaknya.

Allah SWT, kata Luqman al-Hakim, telah secara naluriah menjadikan orang tua rela terhadap anaknya.

Kedua orang tua bersedia mengorbankan apa saja demi anaknya tanpa keluhan. Maka, sudah sepantasnyalah sang anak menghormati ibu dan bapaknya.

“Sesungguhnya Allah telah menjadikan aku rela kepadamu sehingga dia tidak mewasiatkan aku terhadapmu, tetapi dia belum menjadikan engkau rela kepadaku maka dia mewasiatkanmu berbakti kepadaku,” pesan Luqman.

Meskipun demikian, Luqman menyatakan, seorang anak boleh tidak setuju pada orang tua bila keduanya memaksanya untuk mempersekutukan Allah.

Bahwa sang anak harus mampu berpegang dalam prinsipnya dan tetap mengikuti jalan untuk kembali pada Allah meskipun kedua orang tuanya memaksanya untuk berkata jangan.

Luqman pun tidak lupa menasihati anaknya untuk mengerjakan shalat dan bersabar atas segala masalah yang dihadapinya.

“Memang engkau akan mengalami banyak tantangan dan rintangan dalam melaksanakan tuntutan Allah, karena itu tabah dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu.”

Dia juga mengingatkan agar anaknya tidak berjalan di dunia dengan kesombongan dan keangkuhan. “Dan, sederhanakanlah dalam berjalanmu dan lunakkanlah suaramu,” ujarnya.

Luqman mengakhiri nasihat yang mencakup pokok-pokok tuntutan agama. Di sana ada akidah, syariat, dan akhlak, tiga unsur dalam ajaran Alquran. Di sana ada akhlak terhadap Allah, terhadap orang lain, dan terhadap diri sendiri.

Ada juga perintah moderasi yang merupakan ciri dari segala macam kebajikan serta perintah bersabar yang merupakan syarat mutlak meraih sukses, duniawi dan akhirat. Demikian Luqman mendidik anaknya, dengan hikmah yang patut dicontoh.
[yy/republika]