21 Safar 1443  |  Rabu 29 September 2021

basmalah.png

GhuruurDalam bahasa Arab, kata ghuruur mengandung beberapa arti, antara lain, tipu (memperdaya), baik terhadap diri sendiri atau terhadap orang lain secara bersamaan. Gharrahu ghuruuran berarti mendustainya. (Kitab Lisanul Arab, 5/11). Ayat Qur'an yang menunjukkan makna ghuruur ini yakni:

وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلاَّ غُرُورًا ﴿١٢٠

"Padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka kecuali tipuan belaka". (QS. An-Nisaa' [4] : 120)

Sesuatu yang menyebabkan penipuan dan mendorong untuk terjerumus ke dalamnya. Al-Jauhari berkata, "Ghuruur berarti apa-apa yagn menyebabkan seseorang tertipu (terperdaya) karena ia mengharapkan kenikmatan dunia". (Kitab Shihaah, 2/768). Firman Allah yang senada dengan makna mengenai hal ini yakni:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ ﴿٥

"Hai manusia, sesungguhnya janji Allah itu adalah benar. Maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdaya kamu,dan sekali-kali janganlah setan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang Allah." (QS. Fathir [35] : 5)

Fakktor-Faktor Penyebab Ghuruur

Pertama, mengabaikan penyelidikan dan perhitungan terhadap dirinya.

Seperti yang dijelaskan bahwa cikal bakal penyakit ghuruur ini bermula dari penyakit 'ujub. Jika orang yagn terserang penyakit 'ujub ini tidak mau berintrospeksi diri (muhasabah) atau membiarkan penyakit tersebut bercokol dan berkembang dalam hatinya, maka penyakit 'ujubnya itu akan mennjadi penyakit ghuruur.

Indikasinya, kalau dahulu dia hanya bangga terhadap dirinya, maka lama kelamaan dia akan bersikap meremehkan dan menganggap perbuatan orang lain itu kecil, jika dibandingkan dengan perbuatan dirinya.

Itulah indikasi dari penyakit ghuruur ini. Oleh karena itu, dalam ajaran Islam banyak kita temukan perintah untuk berintrospeksi dan memantau hati sebelum melakukan segala sesuatu. Firman Allah Ta'ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ ﴿١٨

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap jiwa melihat apa yang telah dipersembahkannya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui perbuatan yang kalian lakukan." (QS. Al- Hasyr [59] : 18)

Kedua, tidak manu menerima nasihat serta bimbingan dari orang lain.

Ada sebagian aktivis yang mengidap penyakit 'ujub, namun sayangnya dia tidak mau meminta bantuan orang lain yang dapat membimbingnya dalam membersihkan penyakit tersebut, padahal dirinya tergolong orang yagn lemah dan cepat putus asa. Akibatnya, penyakit 'ujubnya itu baukanya sembuh, justru sebaliknya, semakin terus bertambah menjadi penyakit yang jauh lebih dahsyat lagi, yakni penyakit ghuruur.

Allah dan rasul-Nya menganjurkan agar kita senantiasa menghidupkan sikap saling bahu membahu dan tolong menolong antar sesama kaum muslimin. Firman Allah Ta'ala:

وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى

"Dan hendaklah kalian saling tolong menolong dalam (melakukan) kebajikan." (QS. Al-Maidah [5] : 2)

Begitu pula sabda Rasulullah Shallahu alaihi wassalam: "Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin, yang akan mencukupi kekurangannya dan menjaganya dari belakang." (HR. Abu Daud)

Ketiga, bersikap ekstrim dan berlebih-lebihan dalam menjalani agama.

Sebagian aktivis ada yagn mencoba melaksanakan ajaran-ajaran Islam dengan jalan ghuluw (berlebihan) atau tasyaddud (ekstrim) serta menganggap atau menilai mereka yang bersikap dan menempuh jalan pertengahan sebagai hal tidak baik dan tafriith (menyepelekan) terhadap ajaran agama.

Jika terus dibiarkan praduga dan penilaian semacam itu tidak jarang akan dapat menimbulkan sikap peremehan dan penghinaan terhadap cara-cara pengamalan ajaran agama yang dilakukan oleh dirinyalah yang paling benar.

Sebenarnya Islam mengajarkan kepada pemeluknya agar menggunakan konsep wasathiyah (pertengahan) dan bersikap waspada terhadap sikap berlebih-lebihan dalam menjalan agama.

eramuslim.com

SAHIH BUKHARI

MUALAF