fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


5 Ramadhan 1442  |  Sabtu 17 April 2021

MUI Terus Lakukan Pengecekan Tentang Ormas Gafatar

MUI Terus Lakukan Pengecekan Tentang Ormas Gafatar

Fiqhislam.com - Salah satu organisasi masyarakat (Ormas) bernama Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) mulai menjadi buah bibir di masyarakat Indonesia. Pasalnya ormas‎ ini disebut-sebut menjadikan dua pegawai negeri sipil asal Purbalingga menghilang tanpa diketahui beradaannya.

debMenanggapi hal ini, Wakil Sekertaris Jendral (Wasekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zaitun Rasmin menjelaskan bahwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah melakukan pengecekan untuk mengetahui lebih jelas mengenai keberadaan Ormas Gafatar. Namun MUI dipastikan akan membeberkan lebih dalam mengenai Gafatar dalam waktu dekat.

"Tunggu saja. Kita belum bisa bicara banyak. Nanti kita akan beberkan apakah benar Ormas terkait hilang PNS di beberapa daerah," papar Zaitun.

Mengenai keterlibatan Orgmas Gafatar dengan kemungkinan aksi terorisme di Indonesia, Ketua Wahdah Islamiyah ini belum mengetahui secara pasti isu tersebut. Yang jelas, MUI tengah meneliti apakah organisasi ini juga berpotensi melakukan aksi terorisme di Indonesia. "Belum, masih belum ke situ," kata Zaitun.

Sementara, Sekertaris MUI Sulsel Muhammad Ghalib menuturkan, ‎pihaknya hanya sedikit mendengar keberadaan Ormas Gafatar di Provinsi Sulsel. Tapi Ghalib tidak menampik jika Ormas Gafatar telah sampai di Sulsel.

"Ya memang ada itu, tapi kita juga masih mencari tahu. Apakah benar Ormas ini Gafatar atau ormas lain," papar Ghalib.

Keberadaan organisasi Gafatar sebelumnya sempat mengundang kontroversi di masyarakat. Beberapa kalangan mengaitkan organsisasi yang didirikan Mahful M Tumanurung itu dengan paham aliran Al-qiyadah Al Islamiyah yang disebarkan Ahmad Musadeq. Pada aliran tersebut, Musadeq menahbiskan diri sebagai nabi terakhir atau mesiah. Gafatar mengakui Ahmad Musadeq

Gafatar Disebut Preteli Ajaran Islam

Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) menulai polemik karena disebut menjadi organisasi masyarakat (ormas) tempat menampung beberapa pegawai negeri sipil (PNS) yang hilang di daerah. 

Pembicara kajian Islam tadabbur Alquran Masjid At Tin, Jakarta,  Parwis L Palembani mengungkapkan, Gafatar sudah mempreteli ajaran Islam. Padahal, dia menjelaskan, umat Islam mempunyai hal baku dalam berkeyakinan yang ditunjukkan dengan adanya rukun iman dan hal baku dalam beribadah yang ditunjukkan oleh rukun Islam. 

Parwis mengatakan banyak aliran menyimpang yang ditemui, mempreteli kedua hal tersebut, misalnya mengajarkan pengikutnya untuk tidak melakukan shalat lima waktu. "Makanya kalau rukun tersebut sudah diutak-atik, maka tidak usah dipertanyakan lagi. Berarti sudah di luar Islam," kata Parwis. Ini juga dapat menjadi indikator untu menilai apakah suatu aliran menyimpang atau tidak dari ajaran Islam.

Dia mengungkapkan, Gafatar menjual nilai sosial untuk menarik anak muda menjadi anggotanya. Ormas ini menunjukkan sisi humanis terhadap sesama seperti berbagi kepada anak yatim ataupun warga kurang mampu. Dari sisi sosial, tidak ada yang salah dengan hal tersebut. "Namun bukan berarti ini menjadi indikator bahwa aliran tersebut bukan aliran menyimpang," ujarnya.

Benarkah Gafatar Sempalan Gerakan Ahmad Musadeq?

Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) diduga merupakan kelanjutan dari sebuah aliran kepercayaan yang dipimpin Ahmad Musaddeq. Pada akhir 2006, Musaddeq membawa gerakan Al-Qiyadah al-Islamiyah yang akhirnya diputuskan oleh MUI sebagai aliran sesat karena karena menyimpang dari ajaran Islam dan melakukan sinkretisme agama. 

Pembicara kajian Islam tadabbur Alquran Masjid Attin, Jakarta, Parwis L Palembani kepada Republika.co.id, Senin (11/1), mengungkapkan, aliran tersebut melakukan sinkretisme ajaran dari Alquran, Injil dan Yahudi.

Meski pernah menyatakan diri bertobat Musaddeq hingga kini dianggap masih menyebarkan ajarannya dengan menggunakan nama lain diantaranya Milah Abraham dan Gafatar yang masih aktif di beberapa wilayah Indonesia.

"Walau ada yang menampik tidak ada arah ke sana. Tapi yang namanya aliran menyimpang selalu bilang murni sosial," ujarnya. Orang-orang yang tergabung dalam Gafatar, kata dia, banyak terdapat di Jakarta dan Jawa Barat. Namun saat ditanyakan apakah Gafatar ada kaitannya dengan sejumlah orang yang hilang belakangan ini, Parwis menyebut hal itu masih butuh penelitian lebih lanjut.

Gafatar Klaim Bukan Organisasi Keagamaan

Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) kerap disebut-sebut sebagai organisasi yang diikuti oleh beberapa pegawai negeri sipil (PNS) yang hilang di beberapa daerah. Tidak kurang, Bupati Budi Wibowo menyebutkan, berdasarkan informasi yang diperoleh dari Kesbangpolinmas, kedua PNS tersebut diduga bergabung dalam ormas Gafatar.

''Awalnya kita menduga ada kaitannya dengan gerakan radikal ISIS. Namun, kemudian ada informasi mereka ikut Gafatar,'' katanya menjelaskan, Kamis (7/1).

Lewat situs resminya yang beralamat di gafatar.org, ormas ini menjelaskan dasar pemikiran pendirian organisasi tersebut. "Patut digaris bawahi, Gerakan Fajar Nusantara (GAFATAR) didirikan bukan atas dasar kepentingan kelompok, golongan, aliran, suku, agama, kepercayaan atau ras manapun,"ungkap artikel yang di dalam keterangannya ditulis Zulfahmi itu.

Gafatar pun mengklaim, sebagai gerakan untuk melakukan reinterpretasi dan reaktualisasi nilai Pancasila.

"Kami, Gerakan Fajar Nusantara (GAFATAR), berpendapat bahwa saat ini, kita perlu melakukan gerakan reinterpretasi dan reaktualisasi nilai-nilai luhur Pancasila dalam memperkuat kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama dalam rangka menghadapi berbagai permasalahan bangsa menuju fajar kebangkitan dan kejayaan Nusantara di masa datang. Gerakan ini semakin niscaya dalam rangka upaya memperkuat paham kebangsaan kita dan sekaligus memberi solusi atas sebuah ketidakpastian, ke mana biduk peradaban bangsa ini akan berlayar di tengah lautan dunia yang penuh tantangan dan multikrisis."

Gafatar juga mendeklarasikan diri sebagai ormas yang bertekad untuk memperjuangkan Keadilan, Kemakmuran, dan Kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia menuju tatanan kehidupan damai sejahtera, dengan jalan mengembalikan jati diri dan nilai-nilai luhur bangsa, serta mengangkat harkat, martabat dan kejayaan Nusantara di tengah-tengah percaturan dunia. [yy/republika]

KATEGORI REVIEW