25 Dzulhijjah 1442  |  Rabu 04 Agustus 2021

basmalah.png

Muslim Swedia Merenda Warna Kemajemukan

Fiqhislam.com - Sejak dibuka pada 2000, jembatan Oresund yang menghubungkan Swedia dan Denmark telah menjadi simbol menjulang bagi integrasi masyarakat Eropa. 

Masyarakat antarnegara bebas melintas tanpa pemeriksaan. Pada awal pekan ini, simbol itu seolah runtuh. Untuk pertama kalinya dalam setengah abad, Swedia mulai memberlakukan aturan ketat untuk membatasi gelombang migran.

Setahun penuh kejutan gelombang migrasi dan terorisme telah menciptakan perkembangan signifikan di Eropa. Pos- pos pemeriksaan muncul di sisi jembatan sepanjang delapan kilometer itu. Para petugas menelisik dokumen tiap-tiap pendatang. 

Dilansir dari Associated Press, migran tanpa identitas resmi tidak diizinkan masuk. \"Kita akan memutar kembali waktu,\" 

kata Andreas Onnerfors, seorang profesor sejarah yang tinggal di Lund, Swedia.
Kendati tidak semua migran asal Suriah dan Timur Tengah memeluk Islam, perbincangan soal migran tentu tak lepas dari identitas Muslim. Islamofobia yang menguat di Barat adalah perpaduan antara ketakutan terhadap Islam dan migran. 

Tahun lalu, Swedia tiba-tiba harus meng hadapi lebih dari 160 ribu pencari suaka, terutama dari Suriah, Irak, dan Afghanistan. Sebelum Swedia, langkah pembatasan sudah lebih dulu dilakukan oleh Hungaria, Slovakia, Kroasia, dan beberapa negara lain.

Ottoman Islam bukan hal baru bagi negara monarki ini. Selama paruh kedua abad ke- 17 dan awal abad ke-18, konstelasi politik Swedia membuat mereka harus menjalin hubungan dengan Islam. Jonas Otterbeck dalam \"The Depiction of Islam in Sweden\", The Muslim World 2002, menuturkan, pesaing politik terkuat Swedia waktu itu datang dari Rusia.

Satu-satunya kekuatan besar yang dianggap bisa diajak berkoalisi adalah Kekhalifahan Turki Utsmani. Maka, pada 1657, atas perintah Raja Karl X Gustav, berangkatlah seorang duta besar Swedia ke Istanbul guna mendapatkan dukungan penguasa Ottoman.

Hubungan keduanya semakin intim ketika Swedia meminta suaka dari Ottoman. Pada 1709, tentara Swedia meng alami kekalahan telak dalam pertem puran di Poltava.
 
Selama lima tahun, Raja Karl XII menghabiskan waktu di bawah perlindungan Ottoman sebelum kembali ke Swedia. Sebagai balas budi, Muslim dan Yahudi yang datang ke Swedia dari Kekaisaran Ottoman sejak 1718 mendapat jaminan bebas mempraktikkan agama mereka.

Kontak antara Swedia dan Ottoman terus menerus terjalin sepanjang abad ke-18. Di antara kaum elite Swedia, ada orang-orang yang mengagumi peradaban Ottoman. Studi Turki dan Persia didorong oleh kerajaan. 
Kedutaan Swedia didirikan di Istanbul yang konon masih ada di samping Mevlevi hanesi di Istaklal Caddesi. Swedia ada lah kerajaan yang membutuhkan dukungan dari Ottoman. Relasi ini sangat memengaruhi pandangan rakyat Swedia terhadap Muslim.

Multikultural Situasi kemudian berubah pada abad- abad berikutnya. Ottoman runtuh. Kini, imigran Muslim dari Asia dan Timur Tengah yang mencari suaka ke Swedia. 
Muslim pertama yang tercatat di Swedia adalah etnis Tatar Finlandia. Mereka bermigrasi dari Finlandia dan Estonia pada 1940-an. 

Populasi Muslim Swedia meningkat secara signifikan selama kuartal terakhir abad ke-20. Dari hanya beberapa keluarga pada 1950, melonjak ke angka ratusan ribu pada akhir 1980-an. Eksistensi komunitas Muslim mulai kokoh setelah masuknya migran asal Timur Tengah pada 1970-an.

Islam merupakan agama resmi kedua di Swedia setelah Kristen. Ada hampir lima persen populasi Muslim di Swedia dari total populasi sembilan juta jiwa. 
Sebagian besar dari kalangan imigran atau keturunan migran. 
Mayoritas Muslim tinggal di kota-kota besar dengan lebih dari 60 persen berada di tiga wilayah kota besar, Stockholm, Goteborg, dan Malmo. Populasi Muslim Swedia sangat beragam. Mereka berasal lebih dari 40 negara yang berbeda. 

Di negara ini, Islam datang dibawa oleh para imigran yang lari dari rezim komunis atau konflik regional. Sebagian besar Suni, selain populasi Syiah dan Ahmadiyah.

Selain kaum migran, Muslim asli Swedia kian bertambah. Tidak ada catatan pasti, tapi dapat diperkirakan kelompok Muslim asli Swedia yang mualaf telah mencapai ribuan orang. 

Salah seorang mualaf, Mohammed Knut Bernstrom, menerjemahkan Alqu\ran ke dalam bahasa Swedia pada 1998. Yang me- narik, banyak juga mualaf Swedia tertarik masuk tarekat-tarekat sufi. 
Yang tersohor, ada pelukis kenamaan Ivan Agueli yang mengikuti tarekat Sya- dziliyah, penulis filsafat-spiritual Tage Lindbom alias Sidi Zayd, tokoh intelektual dan spiritual Kurt Almqvist, serta Tord Olsson. Tage Lindbom dan Kurt Almqvist ini banyak berbicara tentang filsafat pere nial.

Kebebasan beragama dijamin di ne- gara ini. Akan tetapi, Islamofobia dan radikalisme menjadi tantangan tersendiri bagi Muslim Swedia. Pada dekade 2000- an, Masjid Bellevue di Gothenburg dan Brandbergen di Stockholm sempat menyita perhatian publik lantaran dituduh sebagai pusat rekrutmen dan propaganda terorisme.

Generasi muda Menurut Pieter Bevelander dan Jo nas Otterbeck dalam Young People\'s At ti- tudes towards Muslims in Sweden, pan- dangan generasi muda terhadap Muslim dipengaruhi oleh berbagai faktor. Pandang- an itu berkaitan erat dengan faktor tanah kelahiran, latar sosio-ekonomi, tingkat pendidikan, persepsi terhadap gender, angka pengangguran, dan jumlah migran di lingkungannya. 

Otterbeck menulis, laki-laki kebanyakan berpandangan lebih buruk terhadap Islam dibanding perempuan. Tingkat pen didik- an yang lebih tinggi mempunyai pan- dangan lebih baik dibanding pemuda ber pendidikan rendah. Sementara, me- reka yang tinggal di kota besar seperti Stockholm lebih berpandangan positif dibanding yang tinggal di kota-kota kecil. 

Kembali lagi soal migran, Muslim, dan Swedia. Bagi negara-negara Muslim, memanasnya situasi politik Timur Tengah- -khususnya Suriah--telah menguatkan perbenturan ideologi. Tapi, negara-negara Barat menghadapi tantangan yang lebih riil; gelombang migran. 

Seperti dilansir dari laman The Guar- dian, kendati rumit, situasi ini mungkin mem bawakan secercah harapan. Krisis peng ungsi akan meningkatkan keragaman budaya, etnis, dan agama di Eropa s eca ra transformatif pada tahun-tahun menda- tang. \"Lonjakan migrasi yang tiba-tiba menimbulkan tantangan nyata, tetapi per lu diingat kita telah mengalami ini se- belumnya,\" tulis artikel itu. 

Swedia telah mengalami semua, mulai dari transfer populasi besar-besaran pasca- Perang Dunia, kedatangan pekerja migran pada 1950-1960-an, para pencari suaka Iran-Irak, korban perang Bosnia, dan kini gelombang pengungsi Suriah. 


Melihat pola kerja sejarah, Islam bisa jadi akan kian membumi di tanah Swedia pada tahun-tahun mendatang--tentu saja bila disertai integrasi sosial yang mulus.

nashih nashrullah/republika

SAHIH BUKHARI

MUALAF