fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


5 Ramadhan 1442  |  Sabtu 17 April 2021

Jarak Antara Iran dan Saudi Semakin Lebar

Jarak Antara Iran dan Saudi Semakin Lebar

Fiqhislam.com - Pemerintah Saudi dan Iran tak juga menurunkan skala ketegangan. Perang kata-kata masih terus berlanjut di antara kedua negera.  Pada Ahad Menteri Luar Negeri Saudi Adel al-Jubeir kembali menuding Iran telah melakukan intervensi terhadap dunia Arab dan memicu ketegangan sektarian.

Sebaliknya pada Senin, Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif yang meminta agar Saudi menghentikan perang sektarian.
"Jarak antara Iran dan Saudi semakin lebar dari hari ke hari," ujar Saeid Golkar, pengamat Iran dari Global Affairs di Chicago kepada Aljazirah.

Golkar mengatakan, memburuknya situasi di kawasan semakin membuat sulit kedua negara untuk memperbaiki hubungan dalam jangka pendek. Kendati demikian kedua negara sepertinya tidak akan melakukan konflik secara langsung. Keduanya melampiaskan kegeramannya dalam perang proksi di kawasan, termasuk di Yaman dan Suriah.

Fawaz Gergez dari Studi Timur Tengah di London School of Economics khawatir jika konflik akan berlanjut di Suriah dan tidak ada satu pun yang melanjutkan pembicaraan damai.  Hubungan Saudi dan Iran memanas setelah Riyadh mengeksekusi ulama Syiah Nimr al-Nimr. Eksekusi itu memicu demonstrasi besar-besaran di Iran.

Pendukung Nimr menyerang dan membakar kantor Kedutaan serta Konsulat Saudi di Iran. Pascainsiden itu, Saudi dengan tegas memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran.  Sekutu Saudi seperti Bahrain, Sudan dan Uni Emirat Arab juga memutuskan atau mengurangi hubungan diplomatik dengan Saudi.

Iran Eksekusi 1.000 Orang pada 2015

Lembaga kemanusiaan Amnesty Internasional (AI) melaporkan, Iran telah mengeksekusi lebih dari 1.000 orang pada tahun 2015.
\"Iran telah mengeksekusi sekitar 700 orang dalam enam bulan pertama tahun 2015. Rata-rata tiga orang setiap hari dan disimpulkan jumlah eksekusi di tahun terakhir mungkin lebih dari 1.000 di akhir tahun,\"
menurut laporan tersebut, seperti dikutip dari laman Arab News, Jumat (8/1).


AI melaporkan, sebagian besar orang yang dieksekusi karena terlibat perdagangan narkoba. Namun, ada juga beberapa orang da ri etnik dan agama minoritas dibunuh karena melawan agama dan korupsi. Jumlah yang dieksekusi Iran pada 2015 meningkat dibandingkan 2014 yang sebanyak 743 orang.

Wakil direktur Amnesty International untuk Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA) Said Boumedouha mengatakan, korban eksekusi Iran untuk semester pertama 2015 melukiskan gambaran menakutkan mesin pelaksanaan negara yang telah direncanakan. `\'Ini menimbulkan kekhawatiran di negara seperti Iran, tempat pengadilan secara terang-terangan bersifat tidak adil,\'\' ujarnya.

Di antara mereka yang dikirim ke tiang gantungan termasuk ulama dan aktivis dari minoritas Suni, termasuk Shahram Ahadi.
Adiknya, Bahram Ahmadi, dieksekusi pada tahun 2012 bersama lima ulama Suni lainnya.

Selain itu, Iran mengeksekusi Rehana Jabbari di Oktober 2014 meski ada desakan untuk penangguhan hukuman. Namun, Iran menolak laporan tersebut dan mengklaim ha nya mengeksekusi 247 orang pada tahun 2015 dan 289 orang pada 2014. Perbedaan ang ka ini, menurut AI, adalah bukti bahwa Pemerintah Iran menolak mengakui semua eksekusi yang mereka lakukan. 

\"Setiap tahun, Pemerintah Iran mengakui sejumlah eksekusi peradilan. Bagaimanapun, lebih banyak eksekusi yang dilakukan tetapi tidak diakui dan orang-orang yang dikirim ke tiang gantungan jauh melebihi hitungan res mi,\" kata laman resmi AI. AI mengatakan, beberapa ribu orang saat ini terancam hukuman mati di Iran. 

Tingkat eksekusi di Cina lebih tinggi dibandingkan Iran. Namun, dalam hal eksekusi per kapita, Iran dengan populasi sekitar 77 juta memiliki tingkat rata-rata eksekusi tertinggi di dunia. 

Putuskan hubungan dagang Pada Kamis (7/1), Iran menyatakan memutuskan semua hubungan dagangnya dengan Arab Saudi. Iran juga menuduh Saudi dan koalisinya melakukan penyerangan ke kedutaannya di Yaman. 

Dalam rapat kabinet yang dipimpin oleh Presiden Iran Hassan Rouhani pada Kamis, Teheran telah melarang semua impor dari Arab Saudi. Iran juga mengatakan, pesawat tempur Saudi telah menyerang kedutaan mereka di Sanaa, Yaman. \"Arab Saudi bertanggung jawab atas kerusakan gedung kedutaan dan cedera beberapa stafnya,\" ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Hos sein Jaber Ansari.

Menanggapi serangan, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian mengatakan akan menyampaikan hal ini dalam laporan resmi ke PBB.
Namun, menurut keterangan warga dan saksi, tak ada kerusakan di gedung kedutaan yang terletak di Distrik Hadda tersebut.

Mereka mengatakan, serangan menghantam la pangan umum sekitar 700 meter dari kedutaan. Hanya beberapa batu dan pecahan peluru yang mendarat di halaman kedutaan.
Hubungan Saudi dan Iran memburuk setelah Saudi mengeksekusi 47 orang yang dinyatakan bersalah dalam aksi terorisme.


Dari jumlah tersebut, eksekusi salah satu pemimpin Syiah, Nimr al-Nimr, telah menyulut kemarahan Iran. Menurut Aljazirah, para terhukum lain umumnya adalah Muslim Suni.

Iran: Ada Dua Pilihan Buat Arab Saudi

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif meminta seterunya Arab Saudi di antara dua pilihan. 

Pertama, mereka tetap melanjutkan dukungan terhadap ekstremis dan mempromosikan kebencian sektarian. Kedua, Saudi memainkan peran konstruktif dalam menjaga stabilitas kawasan.

"Sekarang mereka harus menentukan pilihan itu," ujar Zarif dalam kicauan di Twitter, Senin (11/1).

Hubungan Saudi dan Iran memanas setelah Riyadh mengeksekusi ulama Syiah Nimr al-Nimr. Eksekusi itu memicu demonstrasi besar-besaran di Iran. Pendukung Nimr menyerang dan membakar kantor Kedutaan serta Konsulat Saudi di Iran. Pascainsiden itu, Saudi dengan tegas memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran.

Sekutu Saudi, seperti Bahrain, Sudan, dan Uni Emirat Arab, juga memutuskan atau mengurangi hubungan diplomatik dengan Iran.

Liga Arab Kutuk Campur Tangan Iran dalam Masalah Arab

Menteri Luar Negeri Emirat Arab, Abdullah bin Zayed Al Nahyang dalam sidang darurat Liga Arab, Minggu (10/1), menuduh Republik Islam Iran dengan sengaja gagal melindungi kantor-kantor diplomatik Saudi.

Dilansir VOA Indonesia, Arab Saudi memohon sidang itu untuk membicarakan serangan terhadap kedutaannya di Teheran, yang terjadi setelah eksekusi ulama terkemuka Shiah, Nimr al-Nimr, di kerajaan itu bulan ini.

Ketua Liga Arab, Nabil al-Arabi, menyerukan pertemuan diplomat di Kairo untuk “mengambil sikap bersama yang kuat dan jelas yang meminta kepada Iran agar menghentikan semua bentuk campur-tangan dalam masalah-masalah negara Arab.”

Krisis tersebut telah mengakibatkan Arab Saudi dan beberapa negara Arab memutuskan atau menguragi hubungan diplomatik dengan Iran. [yy/republika]

KATEGORI REVIEW