fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


5 Ramadhan 1442  |  Sabtu 17 April 2021

'Kedok' Gafatar untuk Menyatukan Seluruh Agama

'Kedok' Gafatar untuk Menyatukan Seluruh Agama

Fiqhislam.com - Kadiv Humas Polri, Irjen Anton Charliyan mengatakan, Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) mengajarkan ajaran kasih sayang yang digunakan untuk mendapatkan pengikut. Mereka juga mengajarkan anti kekerasan.

Kelompok tersebut juga mengajak kepada pengikutnya untuk mencari peradaban baru yang diridhai Allah. Mereka berkeyakinan menyatukan seluruh agama. "Ini kedok, agama dipermudah. Sehingga bagi orang yang tidak ingin rumit sesuatu yang sangat menarik," ujar Anton, di Mabes Polri, Selasa (12/1).

Anton mencontohkan, mereka tidak perlu melaksanakan shalat asalkan melakukan perbuatan baik dan mengutamakan kasih sayang. Karena itu, Anton menegaskan, kelompok tersebut mengajak mencari peradaban baru.

Jenderal bintang dua mengimbau kepada masyarakat agar berhati-hati terhadap kelompok tersebut. Sebab, nama kelompok tersebut selalu berubah-ubah. "Masalah Gafatar berubah-ubah, mulai asalnya Komat, berubah jadi Gafatar, berubah lagi," ucap Anton.

Menurut Anton, Gafatar sudah dianggap organisasi masyarakat terlarang di Sulawesi maupun di Yogyakarta. Hal tersebut sesuai kesepakatan antara Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan tokoh agama. [yy/republika]

Membungkus Agama dengan Organisasi Sosial

Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) disebut menjadi salah satu penyebab hilangnya beberapa warga Yogyakarta dan sekitarnya merupakan organisasi yang sudah dilarang.

Dikutip http://gafatar.org, Gafatar dideklarasikan pada 21 Januari 2012 di Gedung JIEXPO Kemayoran, dengan Ketua Umum Mahful M Tumanurung.

Diduga ada empat orang yang berasal dari DIY hilang karena mengikuti gerakan ini. Adapun dr Rica Tri Handayani dan anaknya, Diah Ayu Yulianingsih, seorang ibu putra satu anak dari Sleman; seorang PNS RSUP Dr Sardjito berinisial ES; serta Ahmad Kevin Aprilio pelajar SMA yang hilang bersama ayahnya.

Paman Diah Ayu Yulianingsih yang ditemui di Mapolda DIY, M Faried Cahyono mengatakan organisasi tersebut sesat dan pemerintah sudah melarang. Hal itu terbukti dengan surat Ditjen Kesbangpol Kementerian Dalam Negeri RI Nomor 220/3657/D/III/2012 Tanggal 20 November 2012.

"Organisasi ini sesat, tetapi mereka pintar karena dibungkus dengan organisasi sosial," kata Faried yang juga Peneliti Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian UGM, Senin (11/1/2016).

Dia mengatakan, dalam organisasi ini memperbplehkan pengikut tidak salat dan puasa Ramadan. Ayu sendiri masuk Gafatar tahun 2006. "Setelah suami Ayu meninggal, situasi ini dimanfaatkan untuk mempengaruhinya," ulasnya.

Faried meminta agar MUI, Muhammadiyah, dan NU ikut mencermati ajaran Gafatar dengan sungguh-sungguh. "Organisasi ini sudah dilarang dan mati tapi muncul dengan organisasi baru," tandasnya. [yy/okezone]

Pernah Bina Gafatar, Bibit Samad Putuskan Mundur

Mantan pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bibit Samad sempat menjadi ketua dewan pembina ormas Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara) selama dua periode. Namun, dia mundur setelah diberi tahu bahwa organisasi ini tunduk pada mesiah.

"Setelah saya cari tahu mesiah itu siapa, Musadeq yang pernah dihukum karena penodaan agama," ujar dia kepada Republika.co.id, Selasa (12/1).

Bibit mengaku selama menjadi pembina Gafatar, ia hanya hadir sebagai pembicara. Saat itu, dia menilai Gafatar merupakan organisasi sosial yang bagus terkait kebersihan lingkungan dan ketahanan pangan.

Bibit juga tertarik karena ingin menyosialisasikan GNPK (Gerakan Nasional Pemberantasan Korupsi). Materi yang dibahas Bibit pun terkait gerakan antikorupsi.

Bibit mundur pada 2014 dari jabatan dan keanggotaanya sebagai dewan pembina. Bibit sempat ikut dalam rapat kerja nasional dua kali di Denpasar dan Makassar. [yy/republika]

Mendagri: Gafatar Organisasi Terlarang

Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo, mengatakan aliran Gafatar tidak terdaftar di Kementerian Dalam Negeri sebagai organisasi resmi.

"Kami sudah memantau secara baik lewat direktur jenderal politik kami, bahwa di tingkat nasional Gafatar itu tidak terdaftar," kata dia, di Jakarta, Selasa (12/1).

Kemendagri menurut Tjahjo, terus berkoordinasi dengan polda-polda dan kesatuan bangsa dan politik di seluruh Indonesia, dan khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta. Koordinasi itu dilakukan untuk memantau keberadaan organisasi tersebut.

Ia juga mengatakan ormas tersebut sebagai organisasi yang terlarang. "Telaah dari dirjen kami, kalau memang arahnya seperti itu, itu sudah terlarang, banyak korban," kata Tjahjo.

Ia menjelaskan, tugas untuk memantau dan melacak keberadaan Ormas Gafatar ini merupakan tugas sejumlah lembaga hukum dan intelijen. "Dan itu bukan hanya tugas kepolisian saja, tapi juga tugas BIN, BAIS, dan lain-lain," kata dia.

Sebelumnya, dokter Rica Tri Handayani dan putranya hilang pada 30 Desember 2015. Menurut keterangan suami Rica, dokter Aditya Akbar Wicaksono, Rica pernah terlibat aktif dalam organisasi yang disebut-sebut metamorfosa dari organisasi Gafatar.

Meski berhenti setelah menikah, komunikasi Rica dengan organisasi tersebut diduga terjalin kembali selama suaminya melanjutkan studi Kedokteran spesialisasi ortopedi di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Kemudian pada Senin (11/1), Rica dan putranya akhirnya ditemukan di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.

Rica dan anak balitanya ditemukan pada saat akan melakukan lapor diri, di Bandara Iskandar, Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah pada pukul 06.20 WIB yang rencananya terbang menuju Jakarta dengan pesawat Trigana Air pukul 07.30 WIB.

Bersama dia, E dan V yang diduga perekrut Rica, juga ditahan. E dan V kini masih diperiksa polisi, sementara Rica dipulangkan ke keluarganya.? [yy/republika]

KATEGORI REVIEW