pustaka.png
basmalah.png


8 Dzulqa'dah 1442  |  Jumat 18 Juni 2021

Kemenag Berencana Revisi Sirah Nabawi, Ini Komentar Pakar Sejarah IslamFiqhislam.com - Pakar Sejarah Islam UIN Jakarta, Dadi Darmadi mengatakan, usulan dari kementerian Agama yang ingin merevisi sirah nabawiyah boleh-boleh saja. Namun, perstiwa sejarah peperangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perang umat terdahulu. Sehingga sebaiknya tidak terlalu dipaksakan.

"Kalau biografi soal perjalanan Nabi Muhammad. Jadi mau tidak mau tetap ada unsur peperangannya. Atau ini merupakan unsur yang tidak terhindarkan," ujar Dadi Darmadi  kepada Republika.co.id, Senin (11/1).

Ia menjelaskan, esensi dari sirah nabawiyah ialah kumpulan dari cerita yang ditulis oleh sahabat paling awal dari nabi Muhammad. Sehingga ditulis oleh orang yang berbeda. Termasuk oleh orang yang ikut perang dengan nabi.

Untuk itu, jika pemerintah ingin menonjlkan akhlak dari Nabi Muhammad maka pemerintah dapat memberikan sumber yang lain seperti hadist dan Alquran.

Ia melanjutkan, sebaiknya proses perevisian bukan menjadi urusan negara. Tetapi menjadi tugas tim ahli atau komisi pendidikan. Ini dikarenakan  masih banyak urusan lain terkait masalah publik yang menjadi tugas negara.

Selain itu, jika hal ini menjadi tugas negara maka dikhawatirkan akan menimbukan gejolak di masa akan datang. Karena sebuah perspektif pada masa ini belum tentu sama di masa depan.

Sebelumnya diberitakan, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berencana memperbaiki pencitraan Nabi Muhammad di dunia pendidikan Islam. Hal ini karena Rasulullah cenderung ditonjolkan sebagai pribadi yang gemar perang daripada sebagai individu toleran dan penyebar kasih sayang.

Menurutnya, materi pendidikan sirah nabawiyah di kelas lebih banyak diceritakan soal berbagai perang yang melibatkan nabi Muhammad seperti perang Badar dan perang Uhud. Sayangnya, sisi lain dari Nabi Muhammad justru kurang terekspose seperti keteladanan Rasulullah yang mengajarkan kasih sayang dan toleransi.

MUI Minta Kemenag Jangan Sepihak Interpretasi Sirah Nabawiyah

Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta Kementerian Agama melibatkan ormas-ormas Islam dalam wacana perbaikan materi pendidikan sejarah kenabian (sirah nabawiyah). Ketua Bidang Pendidikan MUI Abdullah Jaidi mengatakan, perlu ada koordinasi antara Kemenag dan ormas khususnya yang memiliki lembaga pendidikan untuk membahas wacana tersebut.

"Kemenag perlu mengundang tokoh-tokoh ormas untuk duduk bersama dan evaluasi ide-ide tersebut karena interpretasi (atas sirah nabawiyah) tidak bisa sepihak," ujar Abdullah kepada Republika, Senin (11/1). 

Sebelumnya, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin  melontarkan wacana untuk memperbaiki citra Nabi Muhammad SAW di dunia pendidikan Islam. Ini lantaran citra Rasulullah cenderung ditonjolkan sebagai pribadi yang gemar berperang daripada individu toleran dan penebar kasih sayang. 

Abdullah mengaku, pihak Kemenag belum pernah berkoordinasi terkait wacana tersebut. Ketua Pimpinan Pusat Al Irsyad itu menilai, hal paling fundamental pengajaran sejarah kenabian yakni menyampaikan visi dan misi Rasulullah SAW membawa rahmat bagi semesta alam. 

Abdullah mengakui, penulisan sejarah memang bergantung erat pada kemampuan penulis dan kadar intelektualitasnya. Ia menyebut, terkadang ada penulis yang menyisipkan hal-hal kontroversial bahkan pelintiran sejarah. 

Ia menyampaikan, dalam membaca sirah nabawiyah murid bisa mencontoh perilaku Rasulullah dalam meniti hidupnya di berbagai aspek seperti berkeluarga, berdakwah, berinteraksi sosial, dan menghadapi keberagaman.

Rasulullah, kata Abdullah, mencontohkan interaksi dengan masyarakat plural di Madinah. "Rasulullah menghormati masyarakat Yahudi karena masyarakat Yahudi juga menghormatinya," ujarnya.

Libatkan Ormas dalam Revisi Materi Sejarah Nabi

Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta Kementerian Agama (Kemenag) melibatkan ormas-ormas Islam dalam merevisi materi pendidikan sejarah kenabian (sirah nabawiyah). Ketua Bidang Pendidikan MUI Abdullah Jaidi mengatakan, perlu ada koordinasi antara Kemenag dan ormas Islam, khususnya yang memiliki lembaga pendidikan, untuk membahas rencana tersebut.

"Kemenag perlu mengundang tokoh-tokoh ormas untuk duduk bersama dan mengevaluasi ide tersebut karena interpretasi (atas sirah nabawiyah) tidak bisa sepihak," ujar Abdullah kepada Republika, Senin (11/1).

Sebelumnya, Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin melontarkan wacana untuk memperbaiki citra Nabi Muhammad SAW di dunia pendidikan Islam. Hal ini penting lantaran Rasulullah SAW cenderung ditonjolkan sebagai pribadi yang gemar berperang daripada individu toleran dan penebar kasih sayang.

"Dari riset Litbang Kemenag diketahui bahwa siswa mempersepsikan Rasulullah sebagai sosok yang senang berperang daripada kebaikan yang lainnya," ungkap Menag saat berbicara pada Milad ke-15 Yayasan Roushon Fikr di Jombang, Jawa Timur, Sabtu (9/1).

Sejauh ini, kata Abdullah, pihak Kemenag belum pernah berkoordinasi terkait wacana revisi tersebut. Ketua PP Al Irsyad itu menilai, hal paling fundamental dalam pengajaran sejarah kenabian adalah menyampaikan visi dan misi Rasulullah SAW yang membawa rahmat bagi semesta alam.

Perang, menurut Abdullah, merupakan bagian penting dalam sejarah Islam. "Karena itu, (perang) adalah bagian dari upaya untuk menyampaikan ide-ide dalam perjuangan dakwah," katanya.

Dalam hal ini, Rasulullah berperang untuk mengubah kondisi yang penuh kemungkaran menjadi kebaikan dan ketenteraman. Perang yang dilakukan Rasulullah, lanjut dia, juga bukan hanya sebuah pengambilalihan kekuasaan melainkan sebagai perjuangan untuk menata kehidupan masyarakat supaya lebih baik.

Karena itu, lanjut dia, penting bagi para guru agama untuk mampu menyampaikan makna dari peperangan yang dijalani Rasulullah. Terkait hal itu, kata Abdullah, kini ormas-ormas Islam yang memiliki lembaga pendidikan pun melakukan pelatihan kepada guru-guru agama agar mereka tidak hanya bergantung pada buku teks dalam mengajar.

"Dia (guru agama) perlu punya wawasan untuk mengimplementasikan pemahaman dari buku dan dijabarkan secara baik ke peserta didik."

Perlunya meningkatkan kompetensi guru juga disampaikan Ketua Bidang Pendidikan, Kebudayaan, dan Litbang PP Muhammadiyah Muhadjir Effendy. Menurutnya, perlu ada peningkatan pelatihan bagi para pengajar sirah nabawiyah. Bahkan, ia menilai, hal itu lebih penting daripada upaya merevisi materi pendidikan sejarah kenabian seperti yang diwacanakan Kemenag. 

"Yang penting adalah melatih guru-guru agar mampu memberikan makna sesuai kurikulum," ujarnya.

Fakta sejarah, menurutnya, tetap perlu dipaparkan apa adanya. Akan tetapi, perlu ada interpretasi untuk membangkitkan semangat kepada murid sesuai visi dan misi pendidikan. Saat ini, ia melihat, banyak guru yang belum kompeten dalam membawakan materi sirah nabawiyah. Hal itu karena saat ini belum ada kurikulum khusus guru sejarah Islam.

"Padahal, ini perlu diajar oleh guru berlatar belakang pendidikan sejarah untuk bisa menyampaikan semangat perjuangan Islam."

Ditangani tim ahli

Pakar sejarah Islam dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dadi Darmadi, berpendapat, boleh-boleh saja Kemenag berencana merevisi materi sirah nabawiyah. Namun, patut diingat bahwa peperangan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan hidup Rasulullah SAW.

"Kalau soal biografi Nabi Muhammad, mau tidak mau tetap ada unsur peperangannya. Dengan kata lain, ini merupakan unsur yang tidak terhindarkan," ujar dia kepada Republika, Senin.

Mengenai proses revisi, ia berpendapat, sebaiknya tidak menjadi urusan negara, melainkan di tangani tim ahli atau komisi pendidikan. Hal ini karena masih banyak urusan lain terkait masalah publik yang menjadi tugas negara. Selain itu, jika hal ini menjadi tugas negara, dikhawatirkan akan menimbulkan gejolak pada masa yang akan datang. "Sebab, sebuah perspektif pada masa ini belum tentu sama di masa depan." [yy/republika]

KATEGORI REVIEW