29 Dzulqa'dah 1443  |  Rabu 29 Juni 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Perkembangan teknologi informasi di era industri 4.0, dinilai akan menggerus tenaga manusia di dunia kerja. Disebutkan bahwa masyarakat bakal bersinggungan langsung dengan teknologi sehingga akan banyak perkerjaan yang tidak lagi membutuhkan tenaga manusia.

Hal ini, disampaikan oleh Executive Director Center for Education Regulations and Development Analysis (CERDAS) Indra Charismiadji saat menjadi narasumber webinar Utilisasi Teknologi Sebagai Pendukung Karya Tulis, Feedback dan Penilaian yang diselenggarakan oleh perusahaan teknologi integritas akademik Turnitin baru-baru ini.

Indra mengakatan, nantinya akan terjadi transisi di mana kebutuhan fisik semakin berkurang sedangkan kebutuhan kecerdasan atau kemampuan berpikir semakin meningkat.

Dia menyampaikan, McKinsey Global Institute telah memprediksikan jika pada 2030 ada sekitar 400-800 juta manusia yang pekerjaannya akan digantikan oleh mesin atau robot.

“Dulu kita dituntut untuk menghafal, memahami dan mengaplikasi informasi dalam situasi yang dikenal. Maka sekarang kita dituntut berada pada level mencipta, yaitu mengeluarkan ide, produk baru dan cara pandang baru,” kata dia.

Menurutnya, dunia telah mamasuki zaman industri 4.0, yaitu era informasi. Kalau era sebelumnya, orang yang punya formula untuk menciptakan produk tertentu yang akan menguasai (industri).

"Pada masa tersebut, kerahasiaan merupakan hal yang sangat penting. Sedangkan saat ini, informasi begitu terbukanya sehingga kita bisa mengakses dengan mudah,” ujarnya.

Indra menerangkan, perubahan era industri menuntut banyak hal dalam metode pembelajaran. Dalam setiap zaman masyarakat memiiki metode belajar yang berbeda-beda bergantung dari kebutuhan pada masa tersebut.

"Di era Industri 1.0 misalnya, metode pendidikan lebih menekankan pada unsur kemandirian, bukan lembaga atau institusi resmi. Masyarakat saat itu mengumpulkan makanan dan berpindah-pindah tempat (nomaden) sehingga mereka belajar sendiri tentang bagaimana cara menggunakan panah, berburu, pakai tombak dan sebagainya," papar dia.

Barulah saat memasuki era 2.0, sambung Indra, masyarakat mulai belajar tentang berternak dan budidaya menggantikan berburu. Di sini, mulai dikenal konsep baca tulis meskipun bukan sebuah keharusan. Pada masa ini, sudah mulai muncul istilah karyawan dan pemberi pekerjaan.

Sementara itu, terang dia, era 3.0 merupakan era manufaktur menuntut kemampuan membaca, menulis, dan berhitung karena masyarakat sudah mulai bekerja di pabrik-pabrik.

Di lain pihak, School Director Sampoerna Academy, Dr. Mustafa Guvercin, mengutarakan bahwa kemampuan menciptakan adalah sesuatu yang baru tidak bisa digantikan oleh mesin pintar. Kompetensi ini, hanya dimiliki oleh manusia dan untuk membentuk SDM berkarakter seperti ini dibutuhkan metode pendidikan khusus.

“Nalar dalam berpikir kritis dilatih dalam materi-materi tentang sains, teknologi, rekayasa teknik, seni dan matematika. Cabang-cabang ilmu ini yang mendorong seseorang untuk memiliki pola pikir solutif dan inovatif,” jelas Mustafa.

Dia mengungkapkan, ada metode yang disebut STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts and Mathematics) yang bisa diterapkan agar pendidikian tidak tertinggal dengan laju era industri 4.0.

Mustafa menyebutkan, STEAM sendiri bukanlah metode baru, namun hanya sedikit lembaga pendidikan di seluruh dunia yang menerapkan konsep ini dalam kurikulum belajarnya. Dan Sampoerna Academy adalah pelopor pendidikan STEAM di Indonesia yang sampai saat ini memiliki cabang di berbagai kota di Indonesia.

“Kami melihat bahwa para orang tua ternyata sudah mulai menyadari betapa pentingnya menyiapkan anak-anak mereka di masa depan dalam menghadapi Industri 4.0," tuturnya.

Menurut dia, besar kemungkinan anak-anak di masa mendatang akan hidup di era Industri 5.0 yang nantinya bakal banyak digantikan oleh mesin dan robot.

Oleh karenanya, lanjut Mustafa, melalui konsep STEAM pihaknya berkeyakinan bahwa mereka akan menjadi SDM unggulan di masa depan karena kemampuan berpikir dan berinovasinya.

Dia menegaskan, membentuk sumber daya yang high qualified mutlak dibutuhkan karena di masa depan, para pencari kerja tidak saja bersaing dengan manusia tapi juga dengan mesin dan komputer.

Misalnya, pekerjaan seperti merancang strategi, memahami psikologi konsumen, membaca tren pasar tentu tidak bisa diserahkan dengan algoritma robot. Dibutuhkan sentuhan dan pikiran orisinal dari manusia.

“Kami mendorong siswa untuk berpikir kritis sehingga mereka mampu melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat oleh orang lain sejak dini. Memandang masalah bukan dari apa yang tampak saja, tapi juga dari apa yang tidak tampak. Kompetensi seperti ini sangat dibutuhkan di era industri berbasis teknologi,” ucapnya.

Ia menambahkan, rasionalitas tidak bisa digantikan oleh mesin pintar. Manusia tetap lebih unggul di sisi ini. Namun, rasionalitas harus dilatih dan dikembangkan. Pendidikan berbasis STEAM adalah jawaban untuk masalah ini. [yy/okezone]