25 Dzulqa'dah 1443  |  Sabtu 25 Juni 2022

basmalah.png

Pengusaha Muslim Indonesia Disebut tidak Punya Pola Pikir untuk Kaya


Fiqhislam.com - CEO dan Founder Salam Rancage Agus Gusnul Yakin menilai, kesempatan pengusaha muslim untuk bisa masuk dalam daftar orang terkaya di Indonesia terbuka lebar. Hanya saja, kata dia, kebanyakan pengusaha muslim tidak memiliki pola pikir untuk menjadi kaya.

''Jadi lebih banyak tidak mempunyai maindset jadi orang kaya. Jadi salah memaknai kekayaan, Rasulullah sendiri saja kaya,'' kata Agus, saat dihubungi Republika.co.id, Selasa (28/3).

Menurut dia, masalah lain yang dihadapi adalah budaya kerja yang belum mencerminkan kebiasaan untuk menjadi kaya. Bukan hanya itu, ikatan pengusaha Muslim pun belum sekuat pengusaha dari golongan yang lain. ''Walaupun inisiasi ke sana sudah jalan. Ikatannya masih belum sekuat yang seharusnya,'' ucapnya.

Agus yang menjadi pelopor membuat perusahaan daur ulang koran itu menyatakan, pengusaha tidak perlu intervensi dari luar seperti pemerintah. Sebab pengusaha mesti bisa menumbuhkan perusahaannya sendiri. yang diperlukan adalah iklim usaha yang kondusif dan nyaman.

Pengusaha muslim di Indonesia pun dinilai punya potensi besar untuk menjadi orang-orang super kaya di Indonesia. Sebab, pasar Indonesia yang merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia yang bisa dimanfaatkan oleh mereka. [yy/republika]

Pengusaha Muslim Indonesia Disebut tidak Punya Pola Pikir untuk Kaya


Fiqhislam.com - CEO dan Founder Salam Rancage Agus Gusnul Yakin menilai, kesempatan pengusaha muslim untuk bisa masuk dalam daftar orang terkaya di Indonesia terbuka lebar. Hanya saja, kata dia, kebanyakan pengusaha muslim tidak memiliki pola pikir untuk menjadi kaya.

''Jadi lebih banyak tidak mempunyai maindset jadi orang kaya. Jadi salah memaknai kekayaan, Rasulullah sendiri saja kaya,'' kata Agus, saat dihubungi Republika.co.id, Selasa (28/3).

Menurut dia, masalah lain yang dihadapi adalah budaya kerja yang belum mencerminkan kebiasaan untuk menjadi kaya. Bukan hanya itu, ikatan pengusaha Muslim pun belum sekuat pengusaha dari golongan yang lain. ''Walaupun inisiasi ke sana sudah jalan. Ikatannya masih belum sekuat yang seharusnya,'' ucapnya.

Agus yang menjadi pelopor membuat perusahaan daur ulang koran itu menyatakan, pengusaha tidak perlu intervensi dari luar seperti pemerintah. Sebab pengusaha mesti bisa menumbuhkan perusahaannya sendiri. yang diperlukan adalah iklim usaha yang kondusif dan nyaman.

Pengusaha muslim di Indonesia pun dinilai punya potensi besar untuk menjadi orang-orang super kaya di Indonesia. Sebab, pasar Indonesia yang merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia yang bisa dimanfaatkan oleh mereka. [yy/republika]

Pengusaha Muslim Dinilai Harus Masuk ke Pasar Bisnis Besar

Pengusaha Muslim Dinilai Harus Masuk ke Pasar Bisnis Besar


Pengusaha Muslim Dinilai Harus Masuk ke Pasar Bisnis Besar


Fiqhislam.com - Pengamat Ekonomi Islam School of Islamic Economics (SEBI), Aziz Setiawan mengatakan banyak sektor publik yang bisa dimanfaatkan oleh para pengusaha Muslim. Ia mengatakan sektor mass market bisa menjadi salah satu potensi yang bisa dikembangkan oleh pengusaha muslim.

Aziz mengatakan sektor usaha yang bersinggungan langsung dengan masyarakat pada umumnya menjadi peluang bisnis yang baik. Sektor seperti makanan, fashion, dan properti menjadi peluang untuk dikembangkan.

"Beberapa sektor penting itu produk-produk mass market ya. itu jadi penting. Jangan sampai pengusaha Muslim hanya masuk di pinggiran," ujar Aziz saat dihubungi Republika.co.id, Selasa (28/3).

Ia mengatakan selama ini para pengusaha Muslim hanya masuk dalam bisnis kecil. Ia mengatakan sektor yang masuk dalam bisnis besar masih dikuasai oleh kelompok lain."Nah, jangan sampai kue besar ini malah tidak dilihat oleh pengusaha Muslim. Pengusaha Muslim hanya masuk ke kue kecil, harus masuk ke kue besar," ujar Aziz.

Ia mengatakan pengusaha Muslim harus bisa membangun strategi untuk bisa masuk ke sektor bisnis besar, baik strategi jangka panjang maupun jangka menengah untuk merebut kue besar dan bisa menjadi dominan. "Ini perlu ketekunan dan keseriusan untuk bisa masuk ke sektor itu. melakukan inovasi, riset pengembangan dan harus udilakukan secara berkelanjutan dan kuat," ujar Aziz. [yy/republika]