25 Dzulqa'dah 1443  |  Sabtu 25 Juni 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Perkembangan teknologi 5G di Indonesia terus menunjukkan tren positif. Bukan hanya layanan komersialisasi yang secara konsisten terus bertambah, tapi juga upaya mmbangun ekosistem teknologi yang lebih komprehensif.

Menurut Juru Bicara Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Dedy Permadi, tren yang baik juga terlihat dari kerja sama sejumlah industri vertikal, seperti industri elektronik, pertambangan, dan otomotif, dengan operator seluler dalam mengkaji potensi implementasi teknologi 5G.

Selain itu, tren 5G juga terus menguat seiring dengan konsolidasi dan kolaborasi industri seluler. “Salah satu upaya optimalisasi potensi coverage 5G di Indonesia yang dilakukan melalui perluasan cakupan 5G secara khusus adalah di destinasi pariwisata superprioritas, kawasan industri, dan rencananya pada lokasi gelaran sidang G-20 di berbagai wilayah di Indonesia pada 2022,” ujarnya.

Menurut Deddy, penguatan use case 5G akan semakin signifikan melalui penyediaan konektivitas internet yang lebih stabil dan cepat. Baik untuk kebutuhan di rumah melalui fixed wireless access (FWA) maupun kebutuhan mobilitas melalui enhanced mobile broadband (eMBB).

Implementasi 5G juga akan diterapkan untuk memfasilitasi otomasi industri. Salah satunya melalui fasilitas Pusat industri Digital Indonesia 4.0 (PIDI 4.0) yang disiapkan oleh Kementerian Perindustrian.

Kemudian, pada 2021, infrastruktur 5G telah disiapkan di berbagai titik residensial dan gerai/kantor operator seluler. Titik-titik tersebut akan menjadi starting point pengembangan infrastruktur 5G lebih lanjut. Diperkirakan, pada 2022, layanan 5G akan melebar ke area publik.

Untuk gawai, Dedy melanjutkan, pada 2022, kehadiran gawai yang mampu mengakses jaringan 5G diperkirakan akan makin terjangkau oleh masyarakat. Hal itu dipicu oleh persaingan para produsen untuk terus memperbaiki positioning-nya di pasar Indonesia.

Sementara itu, untuk SDM, kata Dedy, Kemenkominfo akan mengintensifkan program-program literasi digital, pelatihan talenta digital, dan pelatihan kepemimpinan digital. Dengan begitu, suplai jaringan 5G dapat makin bermanfaat bagi anak bangsa.

Salah satu operator di Indonesia, XL Axiata, saat ini sudah memiliki jaringan 5G. Jaringan itu dapat dinikmati di 15 lokasi, di antaranya XL Center (XLC) di Axiata Tower, XLC Ciputra World Kuningan Jakarta, XLC Central Park Jakarta, XLC Bintaro Xchange, sebagian jalan Margonda Raya Depok, XLC Martadinata Bandung, XLC Adisucipto Yogyakarta, dan XLC Pemuda Surabaya.

Group Head Corporate Communication XL Axiata Tri Wahyuningsih mengatakan, cakupan jangkauan dan pengembangan jaringan 5G akan sangat bergantung pada ketersediaan spektrum dan tingkat penetrasi perangkat pengguna yang mendukung jaringan 5G. Jika spektrum 5G telah tersedia, kemudian penetrasi perangkat sudah cukup signifikan, perempuan yang akrab disapa Ayu ini menyatakan, tentunya jaringan 5G operator akan diperluas secara bertahap mengikuti permintaan yang ada di masyarakat.

“Dengan mempertimbangkan lebar spektrum yang tersedia saat ini, use case yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat masih berada di seputar enhanced mobile broadband, seperti video streaming, cloud gaming, serta internet of things,” kata Ayu.

Menanti frekuensi

Keberhasilan implementasi 5G di Indonesia juga akan sangat bergantung pada ketersediaan frekuensi. Ketua Umum Asosiasi IoT Indonesia Teguh Prasetya berpendapat, pada 2022 nanti pasti akan ada lelang frekuensi baru untuk jaringan 5G oleh pemerintah. Frekuensi tersebut bisa berasal dari hasil analog switch off (ASO) pada pita frekuensi 700 MHz dan milimeter-wave band yang berada di pita frekuensi 26 GHz.

“Analog switch off yang di 700 MHz itu pasti akan dilelang di situ. Terus kemudian mungkin akan ada frekuensi milimeter band yang akan dilelang oleh pemerintah,” ujar Teguh. Setelah itu mungkin barulah para operator akan melakukan roll out jaringan 5G secara luas.

Menurut Teguh, langkah itu semua untuk memenuhi kebutuhan konsumen, menambah kapasitas, dan meningkatkan kualitas mobile broadband. “Pastinya tidak akan full coverage seperti 4G, tetapi di area-area yang memang membutuhkan penebalan, kapasitas lebih, coverage untuk aplikasi-aplikasi yang membutuhkan 5G di sana. Rasanya itu sih yang akan terjadi untuk penggelaran jaringan 5G,” katanya.

Lalu, pengembangan jaringan 5G di 2022, menurut Teguh, akan bersifat ke pengembangan yang bersifat B2B untuk korporat. Korporat di sini merupakan korporat yang memang membutuhkan konektivitas khusus, misalnya kawasan industri.

Teguh menyampaikan, jaringan 5G juga pastinya akan dipakai oleh para penyedia layanan internet untuk mencapai daerah-daerah yang sulit dijangkau fiber optic. “Jadi 5G ini akan digunakan sebagai last mile dan meningkatkan penetrasi fixed wireless broadband yang ada,” ujarnya.

Terkait kesiapan perangkat di tahun depan, Teguh memperkirakan pasar akan menemukan makin banyak variasi. Saat ini memang perangkat 5G masih didominasi oleh smartphone level high-end dan mid-range. Pada tahun depan, kata Teguh, mungkin juga akan muncul ponsel cerdas 5G di level low-end.

“Handset-handset itu sejalan juga dengan chipset. Ada chipset 5G yang mahal, yang menengah ada, nanti yang entry level itu akan ada juga untuk 5G,” lanjutnya.

Artinya, range device akan makin lengkap. Namun, ketersediaan perangkat juga tentu tak hanya berhenti di sana. Akan ada pula modem untuk fixed wireless access yang bisa digunakan di luar atau di dalam ruangan dan telah dibekali konektivitas 5G.

Teknologi yang Mengubah Lanskap

• 5G berarti fifth generation. Teknologi ini merupakan penerus dari teknologi 1G sampai 4G yang telah sebelumnya ada. Teknologi 1G yang hadir pada 1997 dikenal juga sebagai GPRS dan menawarkan kecepatan sekitar 50 kilobyte per detik. Teknologi 2G yang lahir setahun kemudian dikenal sebagai EDGE menawarkan kecepatan 250 kilobyte per detik.

• Apabila teknologi 1G dan 2G menawarkan konektivitas suara, 3G dan 4G memperkenalkan layanan data.

• 5G akan memberikan kecepatan hingga 20 GB per detik atau 20 kali lipat lebih cepat daripada layanan 4G.

• Tidak hanya menawarkan kecepatan, latensi yang amat minim juga akan membawa berbagai layanan baru, seperti operasi jarak jauh dan mobil swakemudi menjadi mungkin dilakukan. Begitu pula dengan industri robotik. Hal itu jugalah yang membuat 5G tidak hanya ditujukan untuk konektivitas antarmanusia, tapi juga antara manusia dan mesin atau antara mesin dan mesin.

• 5G juga akan memberikan lompatan besar dalam pengalaman pengguna menikmati dunia virtual, hiburan yang imersif, dan permainan gim yang jauh lebih memuaskan.

• Dari segi efisiensi, 5G mengonsumsi energi yang lebih sedikit dibandingkan dengan 4G. Keunggulan itu akan membuat industri IoT yang memerlukan sensor dan baterai untuk bekerja makin mendominasi pada masa depan.

• Kehadiran 5G diprediksi akan melahirkan 22 juta pekerjaan pada 2035 dan menumbuhkan GDP global sebesar 3 triliun dolar Amerika Serikat (AS) secara kumulatif, mulai dari 2020 hingga 2035.

• Data per November 2021 menunjukkan, jumlah koneksi 5G pada 2025 diperkirakan akan mencapai 1,8 miliar koneksi. Jumlah itu sudah termasuk konektivitas IoT.

• Saat ini, 5G masih berada di tingkat penetrasi awal, yaitu 7 persen dari seluruh konektivitas di dunia.

• Khusus untuk region Asia Pasifik, India, Indonesia, dan Malaysia akan menjadi tiga negara yang menyumbang konektivitas terbesar.

• Sebanyak 170 layanan komersial 5G telah diluncurkan dan akan meningkatkan jumlah konektivitas hingga 25 persen pada empat tahun mendatang. [yy/republika]

Oleh Noer Qomariah Kusumawardhani