25 Dzulqa'dah 1443  |  Sabtu 25 Juni 2022

basmalah.png

Praktik tersebut ditemukan oleh Kepala Kebijakan Brave, Johnny Ryan, yang melacak data pribadinya, lalu menemukan data itu diperdagangkan di platform pertukaran iklan Google yang secara resmi dikenal sebagai DoubleClick.

"Google telah melabeli (data pribadi saya) dengan pelacak yang kemudian diumpankan ke perusahaan pihak ketiga yang masuk ke situs tersembunyi," kata Ryan.

Brave merupakan peramban yang berfokus pada privasi, menurut perusahaan. Dalam penyelidikannya, ia menemukan fakta, Google menggunakan halaman situs rahasia yang tersembunyi untuk mengumpulkan data pengguna, kemudian membuat profil yang mampu mejadikan pengguna sebagai sasaran iklan para merek

Bukti itu sedang ditinjau oleh regulator data Irlandia. "Perusahaan diduga mengeksploitasi data pribadi tanpa kontrol yang memadai, sehingga ada kekhawatiran atas perlindungan data," demikian bunyi laporan investigasi itu.

Menanggapi hal itu, Google mengatakan akan bekerja sama dengan regulator data Irlandia dalam proses investigasi. Jika terbukti melanggar Undang-Undang Data, Google berpotensi dikenakan denda berdasarkan General Data Protection Regulation (GDPR).

"Kami tidak menayangkan iklan yang dipersonalisasi ataupun mengirim permintaan penawaran kepada pengiklan tanpa persetujuan pengguna," tambah Google kepada Financial Times.

Tak sampai di situ, Brave kemudian mengadakan penelitian terhadap ratusan orang dan melakukan hal yang sama seperti Ryan. Dari penelitian itu muncul asumsi dari Brave bahwa Google menciptakan pengidentifikasi situs rahasia yang unik untuk tiap pengguna.

Pengidentifikasi itu mencatat lokasi dan waktu dari aktivitas pengguna internet, kemudian membagikan beberapa data tersebut ke perusahaan periklanan guna meningkatkan efektivitas iklan dengan target. [yy/republika]