25 Dzulqa'dah 1443  |  Sabtu 25 Juni 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Faisal bin Abdul Aziz bin Abdurrahman as-Saud adalah raja ketiga yang memerintah kerajaan Arab Saudi . Dia tewas karena dibunuh keponakannya sendiri, Pangeran Faisal bin Mussaid.

Kejadian ini terjadi lebih dari 40 tahun lalu, tepatnya pada 25 Maret 1975. Raja Faisal sendiri merupakan putra dari pendiri kerajaan Arab Saudi, Abdul Aziz.

Sang raja dikenal sebagai sosok yang pandai bicara. Meski dikenal sebagai pribadi yang tidak banyak bicara, ia dianggap memiliki kemampuan memimpin sebuah negara.

Pengaruhnya pun sangat besar. Sebab, dialah tokoh penting yang mereformasi dunia pendidikan di Arab Saudi serta menghapus perbudakan, sehingga membawa negara ini lebih maju dan modern dari sebelumnya.

Mengutip history.com, Raja Faisal bertempur dalam kampanye militer pada 1920-an dan 1930-an yang selanjutnya membantu proses modernisasi Arab Saudi.

Sebelum diangkat menjadi raja, ia juga pernah menjabat sebagai duta besar Arab Saudi untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Pada 1953, ia dilantik sebagai perdana menter. Sebelas tahun kemudian, tepatnya tahun 1964, ia menggantikan Raja Saud sebagai penguasa Arab Saudi.

Raja Faisal juga dikenal karena ketegasannya menolak dukungan terhadap Amerika Serikat (AS) atas keputusan negara tersebut membela Israel dalam menjajah wilayah Palestina.

Di bawah pimpinannya, Arab Saudi pernah melakukan boikot suplai minyak pada negara-negara barat pada tahun 1973. Hal ini berdampak pada terjadinya krisis minyak di beberapa negara.

Alasan di balik kematiannya hingga saat ini masih menjadi misteri. Hari itu, 25 Maret 1975, Raja Faisal sedang menghadiri pertemuan bilateral dengan menteri perminyakan Kuwait ketika sang keponakan memasuki ruang pertemuan.

Ketika rapat berakhir, Raja Faisal pun menghampirinya. Ia mencium kepala dan hidung sang pangeran sebagai bagian dari tradisi keluarga.

Tidak ada yang menduga bahwa Pangeran Faisal bin Musaid akan memasukkan tangannya ke saku dan mengeluarkan pistol.

Tiga timah panas kemudian ditembakkan ke kepala Raja Faisal. Ahmed bin Abdul Wahab, orang yang menemani Raja Faisal, langsung menyerang Faisal bin Musaid dan menangkapnya.

Sedangkan sang raja segera dilarikan ke rumah sakit pusat. Namun, pada pukul 14.00 waktu setempat, Raja Faisal dikabarkan meninggal dunia.

Kepergian Raja Faisal untuk selamanya itu masih menyisakan misteri besar bagi dunia tentang siapa dalang sebenarnya pembunuhan tersebut. [yy/Andin Danaryati/sindonews]

 

Fiqhislam.com - Faisal bin Abdul Aziz bin Abdurrahman as-Saud adalah raja ketiga yang memerintah kerajaan Arab Saudi . Dia tewas karena dibunuh keponakannya sendiri, Pangeran Faisal bin Mussaid.

Kejadian ini terjadi lebih dari 40 tahun lalu, tepatnya pada 25 Maret 1975. Raja Faisal sendiri merupakan putra dari pendiri kerajaan Arab Saudi, Abdul Aziz.

Sang raja dikenal sebagai sosok yang pandai bicara. Meski dikenal sebagai pribadi yang tidak banyak bicara, ia dianggap memiliki kemampuan memimpin sebuah negara.

Pengaruhnya pun sangat besar. Sebab, dialah tokoh penting yang mereformasi dunia pendidikan di Arab Saudi serta menghapus perbudakan, sehingga membawa negara ini lebih maju dan modern dari sebelumnya.

Mengutip history.com, Raja Faisal bertempur dalam kampanye militer pada 1920-an dan 1930-an yang selanjutnya membantu proses modernisasi Arab Saudi.

Sebelum diangkat menjadi raja, ia juga pernah menjabat sebagai duta besar Arab Saudi untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Pada 1953, ia dilantik sebagai perdana menter. Sebelas tahun kemudian, tepatnya tahun 1964, ia menggantikan Raja Saud sebagai penguasa Arab Saudi.

Raja Faisal juga dikenal karena ketegasannya menolak dukungan terhadap Amerika Serikat (AS) atas keputusan negara tersebut membela Israel dalam menjajah wilayah Palestina.

Di bawah pimpinannya, Arab Saudi pernah melakukan boikot suplai minyak pada negara-negara barat pada tahun 1973. Hal ini berdampak pada terjadinya krisis minyak di beberapa negara.

Alasan di balik kematiannya hingga saat ini masih menjadi misteri. Hari itu, 25 Maret 1975, Raja Faisal sedang menghadiri pertemuan bilateral dengan menteri perminyakan Kuwait ketika sang keponakan memasuki ruang pertemuan.

Ketika rapat berakhir, Raja Faisal pun menghampirinya. Ia mencium kepala dan hidung sang pangeran sebagai bagian dari tradisi keluarga.

Tidak ada yang menduga bahwa Pangeran Faisal bin Musaid akan memasukkan tangannya ke saku dan mengeluarkan pistol.

Tiga timah panas kemudian ditembakkan ke kepala Raja Faisal. Ahmed bin Abdul Wahab, orang yang menemani Raja Faisal, langsung menyerang Faisal bin Musaid dan menangkapnya.

Sedangkan sang raja segera dilarikan ke rumah sakit pusat. Namun, pada pukul 14.00 waktu setempat, Raja Faisal dikabarkan meninggal dunia.

Kepergian Raja Faisal untuk selamanya itu masih menyisakan misteri besar bagi dunia tentang siapa dalang sebenarnya pembunuhan tersebut. [yy/Andin Danaryati/sindonews]

 

Pangeran Faisal bin Mussaid

 

Pangeran Faisal bin Mussaid, Jual Narkoba dan Bunuh Raja Arab Saudi


Fiqhislam.com - Cerita tentang keluarga kerajaan Arab Saudi tidak pernah lengkap tanpa kisah kontroversial yang menyelimuti kematian Raja Faisal bin Abdul Aziz. Raja ketiga Arab Saudi ini tewas pada 25 Maret 1975 lantaran dibunuh dengan cara ditembak keponakannya sendiri, Pangeran Faisal bin Mussaid.

Pangeran Faisal bin Mussaid lahir di Riyadh, Arab Saudi, pada 4 April 1994 dan merupakan anak dari Pangeran Mussaid bin Abdul Aziz al-Saud.

Ia memiliki saudara laki-laki bernama Pangeran Khaled bin Mussaid, yang diduga meninggal dalam bentrokan massa di stasiun televisi Riyadh pada 1966.

Selain Pangeran Khaled, Faisal juga memiliki saudara laki-laki lain, Pangeran Bandar, dan seorang saudari perempuan, Putri Al Jawhara.

Melansir unofficialroyalty.com, Pangeran Faisal sempat mengenyam pendidikan di beberapa universitas di Amerika Serikat (AS). Selama dua semester, ia belajar di San Fransisco State College.

Dia digambarkan oleh teman-temannya sebagai pemuda yang pendiam, menyenangkan, dan tidak suka belajar.

Setelah itu, Pangeran Faisal melanjutkan pendidikannya di Universitas Colorado. Melansir berbagai sumber, Profesor Universitas Colorado Edward Rozek menggambarkannya sebagai murid dengan kemampuan pas-pasan.

Pada 1970, sang pangeran ditangkap di Boulder, Colorado karena diketahui menjual narkoba jenis LSD dan hashish. Namun, jaksa distrik tersebut tidak dapat menjatuhkan hukuman karena sang pangeran memiliki kekebalan diplomatik.

Setahun kemudian, pada 1971, ia menerima gelar sarjana dalam bidang ilmu politik di Universitas Colorado di Boulder, Amerika Serikat.

Selanjutnya, ia mengambil program pascasarjana ilmu politik di Berkeley. Namun, ia harus meninggalkan Amerika Serikat sebelum menyelesaikan pendidikannya.

Di Amerika Serikat, ia tinggal dengan kekasihnya, Christine Surma, aktris yang sempat bermain dalam film Bite of the Cobra.

Menurut kesaksiannya, Surma memaparkan, “Pangeran Faisal merupakan pria sempurna yang bangga dengan keluarga dan negaranya.”

Sang pangeran sendiri tetap menjalin hubungan dengan Surma bahkan setelah kembali ke Arab Saudi.

Setelah meninggalkan Amerika Serikat, Pangeran Faisal pergi ke Beirut, Lebanon. Di sini ia kembali terlibat kasus penyalahgunaan narkoba.

Karena masalah yang ditimbulkannya, otoritas Arab Saudi menyita paspor milik sang pangeran ketika ia kembali ke tanah kelahirannya.

Kasus penembakan yang dilakukan Pangeran Faisal terhadap Raja Faisal bin Abdul Aziz, memunculkan banyak spekulasi mengenai alasan sang pangeran melakukan tindakan tersebut.

Surat investigasi menyatakan sang pangeran melakukan tindakan ini sendiri, tanpa kerja sama dengan orang atau organisasi yang mungkin menginginkan kematian Raja Faisal.

Motif paling mungkin yang menjadi latar belakang kejadian ini adalah balas dendam yang dilakukan sang pangeran untuk menebus kematian saudara laki-lakinya, Pangeran Khaled, yang tewas terbunuh oleh pasukan kemanan Arab Saudi setelah aksinya memimpin demo menentang stasiun televisi di Riyadh pada 1966.

Pada 18 Juni 1975, Pangeran Faisal dihukum mati atas kesalahannya membunuh Raja Faisal. Menurut saksi, saat hukuman dijatuhkan, sang pangeran terlihat diam dan tenang ketika dibawa ke tempat eksekusi.

Setelah proses hukuman dijalankan, kepalanya diperlihatkan selama beberapa waktu di tiang kayu sebelum dipindahkan dengan ambulans bersama dengan tubuhnya untuk dimakamkan. [yy/sindonews]