27 Dzulqa'dah 1443  |  Senin 27 Juni 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Ratusan pengunjuk rasa pro-Palestina dari koalisi organisasi sayap kiri berbaris di Museum of Modern Art (MoMA) di Manhattan, Amerika Serikat, Jumat (17/9). Mereka juga mengibarkan bendera Palestina dan spanduk 'Intifada global'.

Dilansir dari Wafa News, Ahad (19/9), pawai tersebut merupakan bagian dari protes ke MoMA, yang dimulai sebagai rangkaian protes mingguan yang dimulai dari April lalu. Protes dilakukan karena dugaan keterlibatan MoMA dalam pencatutan perang, perusakan lingkungan, dan perampasan komunitas di seluruh dunia.

Intifada Palestina dipilih sebagai model perlawanan terhadap kekerasan dan penindasan kolonial. Mereka juga membuat spanduk bertuliskan "Hormati Para Martir Palestina."

Inisiatif 10 pekan ini didirikan oleh komunitas Strike MoMA Working Group yang merupakan bagian dari kelompok yang disebut International Imagination of Anti-Imperial Feelings (IIAAF). “Tidak ada perjuangan yang tersisa ketika kita bergerak bersama dan individu, tetapi dalam kebersamaan. Di MoMA, kerangka abolisi, dekolonisasi, anti-kapitalisme, dan anti-imperialisme tumpang tindih dalam perjalanan perjuangan,” kata keterangan kelompok tersebut.

Kelompok lain yang berpartisipasi adalah Within Our Lifetime, yang bertujuan membebaskan Palestina. Kelompok ini menyebut AS dan zionisme sebagai dua bentuk penindasan kolonial. Sejumlah besar organisasi ambil bagian dalam protes tersebut, termasuk kelompok-kelompok yang disebut Decolonize This Place, MoMA Divest, dan Front Aksi Langsung untuk Palestina. [yy/republika]

 

Fiqhislam.com - Ratusan pengunjuk rasa pro-Palestina dari koalisi organisasi sayap kiri berbaris di Museum of Modern Art (MoMA) di Manhattan, Amerika Serikat, Jumat (17/9). Mereka juga mengibarkan bendera Palestina dan spanduk 'Intifada global'.

Dilansir dari Wafa News, Ahad (19/9), pawai tersebut merupakan bagian dari protes ke MoMA, yang dimulai sebagai rangkaian protes mingguan yang dimulai dari April lalu. Protes dilakukan karena dugaan keterlibatan MoMA dalam pencatutan perang, perusakan lingkungan, dan perampasan komunitas di seluruh dunia.

Intifada Palestina dipilih sebagai model perlawanan terhadap kekerasan dan penindasan kolonial. Mereka juga membuat spanduk bertuliskan "Hormati Para Martir Palestina."

Inisiatif 10 pekan ini didirikan oleh komunitas Strike MoMA Working Group yang merupakan bagian dari kelompok yang disebut International Imagination of Anti-Imperial Feelings (IIAAF). “Tidak ada perjuangan yang tersisa ketika kita bergerak bersama dan individu, tetapi dalam kebersamaan. Di MoMA, kerangka abolisi, dekolonisasi, anti-kapitalisme, dan anti-imperialisme tumpang tindih dalam perjalanan perjuangan,” kata keterangan kelompok tersebut.

Kelompok lain yang berpartisipasi adalah Within Our Lifetime, yang bertujuan membebaskan Palestina. Kelompok ini menyebut AS dan zionisme sebagai dua bentuk penindasan kolonial. Sejumlah besar organisasi ambil bagian dalam protes tersebut, termasuk kelompok-kelompok yang disebut Decolonize This Place, MoMA Divest, dan Front Aksi Langsung untuk Palestina. [yy/republika]

 

Mesir Desak Israel

Mesir Desak Israel Hidupkan Kembali Pembicaraan Damai dengan Palestina


Fiqhislam.com - Mesir mendesak Israel untuk menghidupkan kembali pembicaraan damai dengan pihak Palestina guna mengakhiri konflik selama beberapa dekade. Desakan itu disampaikan Menteri Luar Negeri Mesir, Sameh Shoukry saat melakukan pembicaraan telepon dengan Menteri Luar Negeri Israel , Yair Lapid.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Mesir, Ahmed Hafez menuturkan, dalam pembicaraan tersebut Shoukry menekankan perlunya menciptakan cakrawala politik untuk melanjutkan negosiasi perdamaian Israel-Palestina.

“Dengan cara yang mengkonsolidasikan pilar stabilitas di kawasan itu dan menghindarkannya dari gelombang eskalasi dan ketegangan,” kata Hafez dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir Xinhua pada Senin (20/9/2021).

“Pembicaraan telepon Shoukry-Lapid juga membahas upaya yang dilakukan dalam koordinasi dengan Otoritas Palestina untuk rekonstruksi dan pengembangan wilayah Palestina yang diduduki,” sambungnya.

Pembicaraan itu terjadi beberapa hari setelah Presiden Mesir, Abdel-Fattah al-Sisi bertemu dengan Perdana Menteri Israel, Naftali Bennett di kota Sharm El-Sheikh dan membahas perkembangan masalah Israel-Palestina.

Mesir, yang menandatangani perjanjian damai yang disponsori Amerika Serikat (AS) dengan Israel pada 1979, selalu mendukung hak Palestina untuk mendirikan negara merdeka mereka sendiri sesuai dengan perbatasan 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya. [yy/sindonews]