25 Dzulqa'dah 1443  |  Sabtu 25 Juni 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Sejumlah laporan dari kota Laskar Gah di Afghanistan selatan menunjukkan puluhan pejuang Taliban tewas dalam serangan udara dan pertempuran sengit di jalan-jalan di tengah operasi pasukan pemerintah mengusir mereka.

Sebagian besar kota Laskar Gah - ibu kota strategis provinsi Helmand - sempat dikuasai oleh Taliban.

Banyak yang meninggal kota itu dan yang masih terperangkap kekurangan makanan, air dan obat-obatan. Sebagian pihak menggambarkan melihat mayat-mayat tergeletak di jalan-jalan.

Makin banyak anak-anak dan perempuan yang menjadi korban akibat pertempuran antara pasukan pemerintah Afghanistan dan kelompok Taliban dalam memperebutkan kota-kota utama, seperti Lashkar Gah dan Kandahar.

Sejumlah dokter mengungkapkan bahwa pihak rumah sakit tengah berjuang mengatasi lonjakan jumlah korban yang terluka.

"Saya tidak pernah mengalami situasi tegang seperti ini sepanjang hidup saya," tutur Dokter Masood Khan yang sudah tujuh tahun bekerja untuk lembaga Medecins Sans Frontieres (MSF).

"Akibat pertempuran, banyak orang terluka. Beberapa dari mereka bahkan tidak dapat menjangkau rumah sakit. Secara umum kami menerima lebih banyak pasien dari biasanya."

Milisi Taliban menangguk keuntungan di seluruh Afghanistan dan menguasai banyak distrik sejak pasukan Amerika Serikat meninggalkan negara tersebut bulan lalu.

Mereka kini menargetkan kota-kota dan selama sepekan terakhir terjadi pertempuran sengit di sekitar Herat, dekat perbatasan barat dengan Iran, serta Lashkar Gah dan Kandahar di bagian selatan.

Nasib Laskar Gah pun tergantung pada keseimbangan dan, ada laporan bahwa pasukan Taliban telah mengambil alih rumah-rumah, toko-toko dan pasar, sehingga orang-orang di kota itu terjebak.

Dokter Khan mengungkapkan tengah berjuang mengatasi pasien terluka parah yang terus-menerus mengalir datang ke rumah sakit Boost—dengan kapasitas 300 tempat tidur—dan merupakan satu-satunya rumah sakit rujukan di provinsi Helmand yang menangani layanan darurat dan bedah.

Dokter Khan mengatakan toko-toko di Lashkar Gah dan persediaan pun menipis.

Ia menuturkan, ketersediaan di rumah sakit itu sudah nyaris habis.

Selama tiga bulan terakhir, rumah sakit Dokter Khan merawat rata-rata lima orang yang terluka parah setiap harinya. Tapi dengan lonjakan kekerasan belakangan, itu artinya korban warga sipil pun bisa jadi akan lebih banyak.

Hanya dalam tiga hari antara 29 hingga 31 Juli, rumah sakit telah merawat 70 korban luka akibat pertempuran.

Dari 482 pasien yang dirawat di rumah sakit antara Mei hingga Juli, hampir 90 persen di antaranya mengalami cedera akibat tembakan dari beberapa jenis peluru. MSF mengatakan akan ada lebih banyak korban luka yang tak bisa mencapai ke rumah sakit.

"Konflik ini mempengaruhi semua orang. Bahkan di rumah sakit, kami tidak merasa betul-betul aman ketika mendengar suara tembakan," kata dia.

"Ada pertempuran di mana-mana. Kami mendengar banyak suara di rumah sakit kami." [yy/vivaNews]

 

Fiqhislam.com - Sejumlah laporan dari kota Laskar Gah di Afghanistan selatan menunjukkan puluhan pejuang Taliban tewas dalam serangan udara dan pertempuran sengit di jalan-jalan di tengah operasi pasukan pemerintah mengusir mereka.

Sebagian besar kota Laskar Gah - ibu kota strategis provinsi Helmand - sempat dikuasai oleh Taliban.

Banyak yang meninggal kota itu dan yang masih terperangkap kekurangan makanan, air dan obat-obatan. Sebagian pihak menggambarkan melihat mayat-mayat tergeletak di jalan-jalan.

Makin banyak anak-anak dan perempuan yang menjadi korban akibat pertempuran antara pasukan pemerintah Afghanistan dan kelompok Taliban dalam memperebutkan kota-kota utama, seperti Lashkar Gah dan Kandahar.

Sejumlah dokter mengungkapkan bahwa pihak rumah sakit tengah berjuang mengatasi lonjakan jumlah korban yang terluka.

"Saya tidak pernah mengalami situasi tegang seperti ini sepanjang hidup saya," tutur Dokter Masood Khan yang sudah tujuh tahun bekerja untuk lembaga Medecins Sans Frontieres (MSF).

"Akibat pertempuran, banyak orang terluka. Beberapa dari mereka bahkan tidak dapat menjangkau rumah sakit. Secara umum kami menerima lebih banyak pasien dari biasanya."

Milisi Taliban menangguk keuntungan di seluruh Afghanistan dan menguasai banyak distrik sejak pasukan Amerika Serikat meninggalkan negara tersebut bulan lalu.

Mereka kini menargetkan kota-kota dan selama sepekan terakhir terjadi pertempuran sengit di sekitar Herat, dekat perbatasan barat dengan Iran, serta Lashkar Gah dan Kandahar di bagian selatan.

Nasib Laskar Gah pun tergantung pada keseimbangan dan, ada laporan bahwa pasukan Taliban telah mengambil alih rumah-rumah, toko-toko dan pasar, sehingga orang-orang di kota itu terjebak.

Dokter Khan mengungkapkan tengah berjuang mengatasi pasien terluka parah yang terus-menerus mengalir datang ke rumah sakit Boost—dengan kapasitas 300 tempat tidur—dan merupakan satu-satunya rumah sakit rujukan di provinsi Helmand yang menangani layanan darurat dan bedah.

Dokter Khan mengatakan toko-toko di Lashkar Gah dan persediaan pun menipis.

Ia menuturkan, ketersediaan di rumah sakit itu sudah nyaris habis.

Selama tiga bulan terakhir, rumah sakit Dokter Khan merawat rata-rata lima orang yang terluka parah setiap harinya. Tapi dengan lonjakan kekerasan belakangan, itu artinya korban warga sipil pun bisa jadi akan lebih banyak.

Hanya dalam tiga hari antara 29 hingga 31 Juli, rumah sakit telah merawat 70 korban luka akibat pertempuran.

Dari 482 pasien yang dirawat di rumah sakit antara Mei hingga Juli, hampir 90 persen di antaranya mengalami cedera akibat tembakan dari beberapa jenis peluru. MSF mengatakan akan ada lebih banyak korban luka yang tak bisa mencapai ke rumah sakit.

"Konflik ini mempengaruhi semua orang. Bahkan di rumah sakit, kami tidak merasa betul-betul aman ketika mendengar suara tembakan," kata dia.

"Ada pertempuran di mana-mana. Kami mendengar banyak suara di rumah sakit kami." [yy/vivaNews]

 

Bantai 900 Orang di Kandahar

Taliban Dilaporkan Sudah Bantai 900 Orang di Kandahar


Fiqhislam.com - Kelompok Taliban telah membantai hingga sekitar 900 orang di provinsi selatan Kandahar, Afghanistan, dalam enam minggu terakhir.

Media setempat, TOLO News, melaporkan pembantaian besar-besaran tersebut dengan mengutip mantan kepala polisi provinsi itu; Tadin Khan.

Menurut Khan, yang juga anggota Dewan Tinggi Rekonsiliasi Nasional, kelompok Taliban tidak percaya pada hak asasi manusia (HAM).

Menurutnya, target mereka adalah tentara yang ditahan, petugas polisi, pemimpin suku, dan warga sipil, termasuk seorang komedian populer, yang semuanya mereka duga memiliki hubungan dengan pemerintah Afghanistan.

Khan mengatakan para milisi Taliban dengan paksa membawa para korban keluar dari rumah mereka dan kemudian melakukan eksekusi.

"Mereka mungkin membunuh 800 hingga 900 orang dalam satu setengah bulan terakhir. Orang-orang sangat menderita. Kebrutalan yang terjadi di [Spin] Boldak," kata Khan yang dilansir Jumat (6/8/2021).

Kelompok Taliban telah merebut kembali kendali atas sebagian besar provinsi Kandahar, termasuk ibu kotanya, saat kelompok itu melanjutkan perebutan kekuasaan dengan kekerasan di tengah penarikan pasukan asing pimpinan Amerika Serikat (AS). Ini bertentangan dengan pernyataan mereka sebelumnya bahwa kelompok tersebut berkomitmen untuk menyelesaikan konflik secara damai.

Pada hari Selasa, seorang saksi mata dan sumber di kepolisian Kabul mengatakan kepada Sputnik bahwa sebuah mobil diledakkan di dekat rumah Menteri Pertahanan Bismillah Khan Mohammadi, setelah itu beberapa orang bersenjata memasuki tempat itu. Kemudian pada hari itu, menteri mengonfirmasi bahwa baik dia maupun keluarganya tidak terluka. Namun demikian, serangan itu memang merenggut nyawa delapan orang dan menyebabkan 20 lainnya luka-luka.

Taliban mengaku bertanggung jawab atas serangan bom itu.

Di tengah perebutan teritorial besar oleh kelompok itu, Presiden Afghanistan Ashraf Ghani menyalahkan situasi keamanan yang memburuk di negaranya pada keputusan tiba-tiba Washington untuk menarik pasukannya.

Presiden Ghani mengatakan bahwa Kabul telah meluncurkan rencana keamanan enam bulan, di mana angkatan bersenjata akan fokus mempertahankan target strategis, sementara polisi akan memastikan keamanan di kota-kota dan distrik-distrik strategis.

Setelah dia mengungkapkan bahwa pasukan Amerika akan meninggalkan Afghanistan pada 31 Agustus, Presiden AS Joe Biden mengatakan bahwa dia tidak mempercayai Taliban, tetapi dia mempercayai kapasitas militer Afghanistan, karena pasukan itu lebih kompeten dalam hal melakukan perang jika perlu.

Kata-kata Biden datang tepat ketika laporan menunjukkan bahwa kelompok Taliban telah merebut penyeberangan perbatasan kunci ketiga.

Penarikan pasukan asing pimpinan AS merupakan salah satu poin kesepakatan yang dicapai kelompok Taliban dan Amerika Serikat di Doha pada Februari 2020. Bulan lalu, Komando Pusat (CENTCOM) AS mengatakan penarikan pasukan dari Afghanistan sudah lebih dari 95 persen selesai. [yy/sindonews]