27 Dzulqa'dah 1443  |  Senin 27 Juni 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan mengatakan kesepakatan normalisasi beberapa negara Arab dengan Israel, atau dikenal sebagai Abraham Accords, dapat dipandang secara positif. Sebab, kesepakatan itu menyebarkan keterlibatan di kawasan.

“Jadi dalam hal itu, keputusan negara-negara yang terlibat (dengan Israel) dapat dilihat secara positif,” kata Pangeran Faisal saat berbicara di Aspen Security Forum pada Selasa (3/8) dikutip dari laman Al Arabiya.

Menurut dia, negara lain di kawasan perlu membangun semangat tersebut. “Dan cara terbaik membangun semangat itu adalah menemukan jalan untuk menyelesaikan masalah Palestina dan menemukan jalan menuju negara Palestina, karena itu akan memberikan normalisasi lengkap bagi Israel di kawasan,” ujar Pangeran Faisal.

Pada Agustus tahun lalu, Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain telah melakukan normalisasi diplomatik dengan Israel. Hal itu dapat tercapai berkat bantuan mediasi pemerintahan mantan presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Kesepakatan normalisasi bersejarah itu dikenal dengan Abraham Accords.

Dalam perjanjian normalisasi itu, Bahrain dan UEA setuju membuka penerbangan langsung dari dan ke Israel. Mereka pun sepakat membuka kedutaan besar di negara masing-masing. Normalisasi Israel dengan Bahrain dan UEA merupakan pukulan besar bagi perjuangan kemerdekaan Palestina.

Palestina, yang selama ini selalu mendapat dukungan penuh dari negara Arab, memandang kesepakatan normalisasi sebagai sebuah tusukan dari belakang. Selain Bahrain dan UEA, pemerintahan Trump membantu Israel mencapai kesepakatan serupa dengan Sudan dan Maroko. [yy/republika]

 

Fiqhislam.com - Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan mengatakan kesepakatan normalisasi beberapa negara Arab dengan Israel, atau dikenal sebagai Abraham Accords, dapat dipandang secara positif. Sebab, kesepakatan itu menyebarkan keterlibatan di kawasan.

“Jadi dalam hal itu, keputusan negara-negara yang terlibat (dengan Israel) dapat dilihat secara positif,” kata Pangeran Faisal saat berbicara di Aspen Security Forum pada Selasa (3/8) dikutip dari laman Al Arabiya.

Menurut dia, negara lain di kawasan perlu membangun semangat tersebut. “Dan cara terbaik membangun semangat itu adalah menemukan jalan untuk menyelesaikan masalah Palestina dan menemukan jalan menuju negara Palestina, karena itu akan memberikan normalisasi lengkap bagi Israel di kawasan,” ujar Pangeran Faisal.

Pada Agustus tahun lalu, Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain telah melakukan normalisasi diplomatik dengan Israel. Hal itu dapat tercapai berkat bantuan mediasi pemerintahan mantan presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Kesepakatan normalisasi bersejarah itu dikenal dengan Abraham Accords.

Dalam perjanjian normalisasi itu, Bahrain dan UEA setuju membuka penerbangan langsung dari dan ke Israel. Mereka pun sepakat membuka kedutaan besar di negara masing-masing. Normalisasi Israel dengan Bahrain dan UEA merupakan pukulan besar bagi perjuangan kemerdekaan Palestina.

Palestina, yang selama ini selalu mendapat dukungan penuh dari negara Arab, memandang kesepakatan normalisasi sebagai sebuah tusukan dari belakang. Selain Bahrain dan UEA, pemerintahan Trump membantu Israel mencapai kesepakatan serupa dengan Sudan dan Maroko. [yy/republika]

 

Iran Semakin Berani di Timur Tengah

Pangeran Arab Saudi: Iran Semakin Berani di Timur Tengah


Fiqhislam.com - Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan al-Saud mengatakan dia melihat Iran semakin berani bertindak secara negatif di Timur Tengah.

Menurutnya, tindakan Teheran itu termasuk membahayakan pelayaran, mempersenjatai kelompok pemberontak Houthi Yaman, dan berkontribusi pada kebuntuan politik di Lebanon.

"Di seluruh kawasan, Iran terus menjadi berani," kata Pangeran Faisal kepada kelompok think tank Amerika Serikat (AS) dalam penampilan online.

Komentar diplomat Saudi itu merujuk pada laporan bahwa pasukan yang didukung Iran diyakini telah menyita sebuah kapal tanker minyak di lepas pantai Uni Emirat Arab.

"Iran sangat aktif di kawasan ini dengan aktivitas negatifnya, apakah itu terus memasok senjata kepada Houthi atau membahayakan pengiriman di Teluk Arab, yang kami terima laporannya hari ini yang mungkin mengindikasikan aktivitas tambahan di sana," katanya.

Iran, imbuh dia, telah mendukung kebuntuan politik yang telah merusak ekonomi Lebanon.

Berbicara pada pertemuan virtual Forum Keamanan Aspen, dia juga mengulangi sikap Riyadh bahwa ia dapat hidup dengan versi kesepakatan nuklir Iran 2015 yang "lebih lama dan lebih kuat" dengan kekuatan dunia jika memastikan Teheran tidak pernah memperoleh pengetahuan senjata nuklir.

"Kami tentu mendukung kesepakatan dengan Iran selama kesepakatan itu memastikan bahwa Iran sekarang atau tidak akan pernah mendapatkan akses ke teknologi senjata nuklir," katanya, seraya mengatakan bahwa Riyadh akan menyambut Iran yang berkontribusi pada stabilitas dan kemakmuran regional.

"Tapi itu akan membutuhkan (Iran) terlibat di kawasan ini sebagai aktor negara dengan cara yang normal..., tidak mendukung milisi, tidak mengirim senjata ke kelompok bersenjata, dan yang paling penting, menghentikan program nuklir yang mungkin digunakan.. .untuk mengembangkan senjata nuklir." [yy/sindonews]