25 Dzulqa'dah 1443  |  Sabtu 25 Juni 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Kelompok perlawanan Palestina Hamas pada Sabtu (31/7) mengecam Amerika Serikat (AS) karena terus memberikan dukungan militer kepada Israel sehubungan dengan kesepakatan senjata yang baru antara kedua negara sekutu itu.

"Keputusan AS untuk menyetujui kesepakatan senjata besar-besaran kepada entitas Zionis (Israel) mendorong pendudukan dan melanjutkan agresi terhadap rakyat kami dan tanah suci mereka," kata juru bicara Hamas Hazem Qassem dalam sebuah pernyataan.

Qassem mengatakan AS berisiko menjadi kaki tangan dalam agresi Israel terhadap Palestina dengan terus mendukungnya “dengan senjata, uang, dan perlindungan politik untuk menjalankan kebijakan pendudukan.”

Dia mencatat pendekatan seperti itu oleh AS membuat Israel berani memberontak terhadap hukum dan resolusi internasional dan terus meningkatkan ketegangan di kawasan itu.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Jumat bahwa mereka menyetujui penjualan 18 helikopter angkut berat Sikorsky CH-53K ke Israel sebagai bagian dari kesepakatan senilai 3,4 miliar dolar AS.

Kesepakatan itu menegaskan kembali komitmen AS terhadap keamanan Israel, kata pernyataan itu.

“Sangat penting bagi kepentingan nasional AS untuk membantu Israel mengembangkan dan mempertahankan kemampuan pertahanan diri yang kuat dan siap,” tambah pernyataan itu.

Pada bulan Mei, Washington Post melaporkan bahwa pemerintahan Biden telah menyetujui penjualan senjata senilai 735 juta dolar AS ke Israel ketika Tel Aviv melakukan serangannya di Jalur Gaza. Langkah itu menimbulkan oposisi di antara beberapa anggota Partai Demokrat Presiden AS Joe Biden, termasuk anggota Kongres Ilhan Omar yang menggambarkan kesepakatan itu sebagai "mengerikan" jika dilaksanakan.

“Jika ini (kesepakatan senjata) berjalan, ini akan dilihat sebagai lampu hijau untuk eskalasi lanjutan dan akan melemahkan upaya untuk menengahi gencatan senjata,” kata Omar pada saat perang 11 hari Israel di Gaza sedang berlangsung.

Setidaknya 260 warga Palestina tewas dan ribuan lainnya terluka dalam 11 hari serangan udara Israel di Jalur Gaza pada awal Mei. Perang itu dipicu oleh keputusan pengadilan Israel untuk mengusir keluarga Palestina dari rumah mereka di lingkungan Sheikh Jarrah di Yerusalem Timur yang diduduki.

Tiga belas warga Israel juga tewas oleh tembakan roket Palestina dari Gaza. Kekerasan terhenti di bawah gencatan senjata yang ditengahi Mesir yang mulai berlaku pada 21 Mei. [yy/republika]

 

Fiqhislam.com - Kelompok perlawanan Palestina Hamas pada Sabtu (31/7) mengecam Amerika Serikat (AS) karena terus memberikan dukungan militer kepada Israel sehubungan dengan kesepakatan senjata yang baru antara kedua negara sekutu itu.

"Keputusan AS untuk menyetujui kesepakatan senjata besar-besaran kepada entitas Zionis (Israel) mendorong pendudukan dan melanjutkan agresi terhadap rakyat kami dan tanah suci mereka," kata juru bicara Hamas Hazem Qassem dalam sebuah pernyataan.

Qassem mengatakan AS berisiko menjadi kaki tangan dalam agresi Israel terhadap Palestina dengan terus mendukungnya “dengan senjata, uang, dan perlindungan politik untuk menjalankan kebijakan pendudukan.”

Dia mencatat pendekatan seperti itu oleh AS membuat Israel berani memberontak terhadap hukum dan resolusi internasional dan terus meningkatkan ketegangan di kawasan itu.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan dalam sebuah pernyataan pada Jumat bahwa mereka menyetujui penjualan 18 helikopter angkut berat Sikorsky CH-53K ke Israel sebagai bagian dari kesepakatan senilai 3,4 miliar dolar AS.

Kesepakatan itu menegaskan kembali komitmen AS terhadap keamanan Israel, kata pernyataan itu.

“Sangat penting bagi kepentingan nasional AS untuk membantu Israel mengembangkan dan mempertahankan kemampuan pertahanan diri yang kuat dan siap,” tambah pernyataan itu.

Pada bulan Mei, Washington Post melaporkan bahwa pemerintahan Biden telah menyetujui penjualan senjata senilai 735 juta dolar AS ke Israel ketika Tel Aviv melakukan serangannya di Jalur Gaza. Langkah itu menimbulkan oposisi di antara beberapa anggota Partai Demokrat Presiden AS Joe Biden, termasuk anggota Kongres Ilhan Omar yang menggambarkan kesepakatan itu sebagai "mengerikan" jika dilaksanakan.

“Jika ini (kesepakatan senjata) berjalan, ini akan dilihat sebagai lampu hijau untuk eskalasi lanjutan dan akan melemahkan upaya untuk menengahi gencatan senjata,” kata Omar pada saat perang 11 hari Israel di Gaza sedang berlangsung.

Setidaknya 260 warga Palestina tewas dan ribuan lainnya terluka dalam 11 hari serangan udara Israel di Jalur Gaza pada awal Mei. Perang itu dipicu oleh keputusan pengadilan Israel untuk mengusir keluarga Palestina dari rumah mereka di lingkungan Sheikh Jarrah di Yerusalem Timur yang diduduki.

Tiga belas warga Israel juga tewas oleh tembakan roket Palestina dari Gaza. Kekerasan terhenti di bawah gencatan senjata yang ditengahi Mesir yang mulai berlaku pada 21 Mei. [yy/republika]

 

AS Jual Helikopter Militer

AS Jual Helikopter Militer ke Israel


Fiqhislam.com - Departemen Luar Negeri AS telah menyetujui potensi penjualan 18 helikopter angkat berat ke Israel. Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada Jumat (30/7), kesepakatan penjualan itu mencapai 3,4 miliar dolar AS atau setara Rp 48,96 triliun (kurs Rp 14.400 per dolar AS).

Menurut pernyataan itu, Israel akan menerima 18 helikopter angkut berat CH-53K untuk menggantikan skuadron Yasur yang sudah tua. Ini juga akan mencakup mesin, sistem navigasi, persenjataan, peralatan pendukung, suku cadang dan dukungan teknis.

"AS berkomitmen mengedepankan keamanan Israel, dan sangat penting bagi kepentingan nasional AS untuk membantu Israel mengembangkan dan mempertahankan kemampuan pertahanan diri yang kuat dan siap," ujar pernyataan pemerintah AS, dilansir Middle East Monitor, Ahad (1/8).

Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz mengatakan, pembelian helikopter buatan AS sangat penting untuk meningkatkan kemampuan militer Israel dalam melakukan berbagai operasi. Surat kabar Israel Haaretz melaporkan, Lockheed Martin Corp dan Israel General Electric Co adalah kontraktor utama dari kesepakatan tersebut.

"Keputusan itu dibuat setelah penilaian profesional yang mencakup penerbangan uji di semua pesawat yang diusulkan, serta pemeriksaan menyeluruh terhadap berbagai alternatif dalam hal teknik, teknologi, pemeliharaan, dan pertimbangan lainnya," ujar Gantz.

Pada Februari, Israel mengumumkan bahwa mereka akan membeli satu skuadron CH-53K untuk menggantikan armada helikopter Yasur di Pangkalan Udara Tel Nof. Pada Rabu (28/7) House of Representative AS meloloskan Undang-Undang Alokasi Negara Bagian, Operasi Luar Negeri dan Program Terkait tahun fiskal 2022, yang menyediakan dana untuk kepentingan luar negeri AS tahun mendatang.

The Jewish News Syndicate melaporkan bahwa, RUU tersebut disarankan oleh organisasi pro-Israel. Dalam RUU itu mencakup bantuan keamanan ke Israel senilai 3,3 miliar dolar AS, sebagai salah satu ketentuan utamanya yang diuraikan dalam Nota Kesepahaman (MOU) pada 2016 antara kedua negara. [yy/republika]