25 Dzulqa'dah 1443  |  Sabtu 25 Juni 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Taliban menyebut tidak ingin berperang dengan pasukan Pemerintah di kota-kota Afganistan. Mereka lebih senang jika Pemerintah Afganistan menyerah.

Dilansir dari AFP, Selasa (13/7/2021), Kepala Komisi Taliban, Amir Khan Muttaqi menyebut, pertempuran sudah mendekati kota.

"Sekarang pertempuran dari pegunungan dan gurun telah mencapai pintu kota, Mujahiddin (Taliban) tidak ingin pertempuran di dalam kota," kata Amir dalam pesan yang di-tweet oleh juru bicara Taliban.

"Lebih baik, menggunakan saluran apa pun yang memungkinkan untuk berhubungan dengan komisi undangan dan bimbingan kami," katanya seranya menambahkan ini akan mencegah kota mereka dari kerusakan.

Beberapa jam setelah pesan Mattuqi, ledakan bom di pinggir jalan pada jam sibuk di pusat ibu kota Afganistan menewaskan empat warga sipil dan melukai 11 lainnya.

"Ledakan itu terjadi di pusat Kabul," kata Jubir polisi Ferdaws Faramurz, kepada wartawan.

Koementar Muttaqi muncul saat Kementerian Pertahanan mengatakan pasukan Afganistan telah membersihkan Kota Qala-i-Naw setelah pertempuran berhari-hari.

Diketahui, Amerika Serikat memerintahkan seluruh tentaranya di Afghanistan pulang dari negara yang dilanda perang tak berkesudahan itu. Angkat kakinya AS dari Afghanistan ini membuat kelompok Taliban mengklaim telah menguasai 85 persen wilayah Afghanistan.

Seperti diberitakan kantor berita AFP, Jumat (9/7), beberapa jam setelah Presiden AS Joe Biden mengeluarkan pembelaan tentang penarikan pasukan AS dari Afghanistan, Taliban mengatakan para petempurnya telah merebut kota perbatasan Islam Qala, perlintasan perbatasan utama dengan Iran. [yy/news.detik]

 

Fiqhislam.com - Taliban menyebut tidak ingin berperang dengan pasukan Pemerintah di kota-kota Afganistan. Mereka lebih senang jika Pemerintah Afganistan menyerah.

Dilansir dari AFP, Selasa (13/7/2021), Kepala Komisi Taliban, Amir Khan Muttaqi menyebut, pertempuran sudah mendekati kota.

"Sekarang pertempuran dari pegunungan dan gurun telah mencapai pintu kota, Mujahiddin (Taliban) tidak ingin pertempuran di dalam kota," kata Amir dalam pesan yang di-tweet oleh juru bicara Taliban.

"Lebih baik, menggunakan saluran apa pun yang memungkinkan untuk berhubungan dengan komisi undangan dan bimbingan kami," katanya seranya menambahkan ini akan mencegah kota mereka dari kerusakan.

Beberapa jam setelah pesan Mattuqi, ledakan bom di pinggir jalan pada jam sibuk di pusat ibu kota Afganistan menewaskan empat warga sipil dan melukai 11 lainnya.

"Ledakan itu terjadi di pusat Kabul," kata Jubir polisi Ferdaws Faramurz, kepada wartawan.

Koementar Muttaqi muncul saat Kementerian Pertahanan mengatakan pasukan Afganistan telah membersihkan Kota Qala-i-Naw setelah pertempuran berhari-hari.

Diketahui, Amerika Serikat memerintahkan seluruh tentaranya di Afghanistan pulang dari negara yang dilanda perang tak berkesudahan itu. Angkat kakinya AS dari Afghanistan ini membuat kelompok Taliban mengklaim telah menguasai 85 persen wilayah Afghanistan.

Seperti diberitakan kantor berita AFP, Jumat (9/7), beberapa jam setelah Presiden AS Joe Biden mengeluarkan pembelaan tentang penarikan pasukan AS dari Afghanistan, Taliban mengatakan para petempurnya telah merebut kota perbatasan Islam Qala, perlintasan perbatasan utama dengan Iran. [yy/news.detik]

 

Inggris Akan Bekerja Sama dengan Taliban

Inggris Akan Bekerja Sama dengan Taliban Jika Kuasai Afghanistan


Fiqhislam.com - Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace mengatakan Inggris akan bekerja sama dengan Taliban jika mereka masuk dalam pemerintahan Afghanistan.

"Siapa pun pemerintahnya saat ini, sepanjang mengikuti norma-norma internasional, pemerintah Inggris akan terlibat dengan mereka," kata Wallace saat wawancara dengan Daily Telegraph pada Selasa (13/7).

Namun, Wallace memperingatkan Inggris akan meninjau ulang hubungan dengan siapa pun "jika mereka berperilaku dengan cara yang sangat bertentangan dengan hak asasi manusia".

Kelompok Taliban yang pernah memerintah Afghanistan dengan tangan besi pada 1996-2001 telah bertempur selama 20 tahun untuk menjatuhkan pemerintah dukungan Barat di Kabul.

Didorong oleh penarikan pasukan asing yang berlangsung hingga September mendatang, kelompok pemberontak Muslim Sunni itu membuat tekanan baru dengan mengepung kota-kota dan merebut wilayah.

Dalam wawancaranya dengan Telegraph, Wallace menyadari bahwa rencana bekerja sama dengan Taliban akan menimbulkan kontroversi.

"Apa yang (Taliban) sangat inginkan adalah pengakuan internasional. Mereka butuh kekuatan finansial dan dukungan untuk membangun bangsa, dan Anda tak bisa melakukan itu dengan memakai balaclava teroris di kepala," terangnya.

"Anda harus menjadi mitra perdamaian jika tidak ingin dikucilkan. Pengucilan akan mengembalikan mereka ke tempat sebelumnya," tambahnya.

Wallace meminta agar Taliban dan Presiden Afghanistan Ashraf Gani bekerja sama untuk menciptakan stabilitas bagi negara mereka yang dilanda konflik selama puluhan tahun.

Pemimpin senior Afghanistan akan terbang ke Doha untuk berunding dengan Taliban pekan ini.

Kelompok pemberontak itu bersikap keras terhadap perundingan. Mereka bahkan memperingatkan Turki yang berencana mempertahankan pasukan mereka di Afghanistan untuk menjaga bandara utama Kabul.

Pemimpin Taliban pekan lalu mengatakan mereka telah menguasai 85 persen wilayah di Afghanistan. [yy/okezone]

 

Taliban dan Turki

Taliban Minta Turki tak Pertahankan Pasukan di Afghanistan


Fiqhislam.com - Taliban pada Selasa mengecam kemungkinan rencana Turki untuk memperluas kehadiran militernya di Afghanistan, dan menyebut mereka merugikan kedua belah pihak di tengah penarikan pasukan asing dari negara yang dilanda perang itu.

Dalam sebuah pernyataan yang diposting di situs kelompok itu, Taliban memperingatkan pihaknya akan mengambil sikap terhadap pasukan Turki jika mereka tetap berada di Afghanistan melewati September ini.

Jika pasukan Turki “melanjutkan pendudukan negara kami, Imarah Islam (Taliban) dan bangsa Afghanistan – sejalan dengan tugas agama, hati nurani dan patriotik mereka – akan mengambil sikap melawan mereka,” kata pernyataan itu.

Jika "urusan" tidak berakhir, tambah kelompok itu, "maka tanggung jawab atas semua konsekuensi akan berada di pundak mereka yang ikut campur dalam urusan orang lain dan membuat keputusan yang keliru seperti itu".

Sambil menekankan hubungan bersejarah, budaya, dan agama antara Turki dan Afghanistan, Taliban mengatakan bahwa bila Turki mempertahankan pasukan di negara itu maka mereka akan “tidak bijaksana, pelanggaran kedaulatan dan integritas teritorial kami, dan bertentangan dengan kepentingan nasional kami”.

“Kami sangat mendesak para pejabat Turki untuk membatalkan keputusan mereka karena merugikan kedua negara,” kata Taliban.​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​​

Perlu diperhatikan bahwa Turki belum mengirim pasukan tempur ke Afghanistan. Pada Januari 2021, tentara Turki memimpin Satuan Tugas Gabungan Kesiapan Sangat Tinggi NATO, menempatkan ribuan tentara dalam keadaan siaga, siap dikerahkan dalam beberapa hari.

Brigadir Jenderal Turki Selcuk Yurtsizoglu memimpin Komando Kereta, Saran, Bantuan di Kabul yang melakukan bantuan pasukan keamanan berbasis fungsional untuk melatih, memberikan masukan, dan membantu Divisi Ibu kota ke-111 di Kabul.

'Kehadiran Turki terlihat baik'

Tidak ada tanggapan segera dari pemerintah Afghanistan, tetapi pembantu dekat Presiden Mohammad Ashraf Ghani Fazal Mehmood Fazli mengatakan kepada penyiar negara RTA bulan lalu bahwa Afghanistan menyambut baik pasukan Turki ditempatkan di Bandara Internasional Hamid Karzai di ibu kota Kabul.

April ini AS menetapkan batas waktu 11 September bagi semua pasukan Amerika untuk ditarik dari Afghanistan, mengakhiri kehadirannya selama hampir 20 tahun. Pembicaraan antara AS dan Turki mengenai keamanan di bandara setelah penarikan AS tetap berlangsung.

AS pada Senin menyambut bantuan Turki dalam upaya berkelanjutan untuk menarik semua pasukan AS dan NATO dari Afghanistan menjelang tenggat waktu yang semakin dekat.

"Kami tentu menyambut baik peran konstruktif Turki dalam hal penarikan, dan situasi keselamatan dan keamanan yang lebih luas di Afghanistan," kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price kepada wartawan.

Pada Februari 2020, AS mencapai kesepakatan dengan Taliban untuk sepenuhnya menarik diri dari Afghanistan pada 2021. [yy/republika]