27 Dzulqa'dah 1443  |  Senin 27 Juni 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Seorang jurnalis CNN membuat heboh dunia setelah terang-terangan mengharapkan kehadiran sosok Adolf Hitler ketika Zionis Israel membombardir Jalur Gaza, Palestina .

Perang antara kelompok militan di Jalur Gaza dengan militer Zionis sudah memasuki hari kedelapan pada Senin (17/5/2021). Sebanyak 193 orang tewas di Gaza, dan 10 orang tewas di Israel.

Kontributor CNN, Adeel Raja, membuat komentarnya di Twitter pada hari Minggu. "Dunia saat ini membutuhkan seorang Hitler," tulis dia yang tak lama kemudian dihapus karena jadi kontroversi.

Adolf Hitler adalah pemimpin rezim Nazi Jerman. Dia terkenal karena rezimnya dianggap membantai umat Yahudi Eropa secara besar-besaran di masa silam.

Adeel Raja, yang profil LinkedIn-nya menyatakan bahwa dia adalah kontributor lepas di CNN yang berbasis di Pakistan, dan telah menulis artikel untuk media tersebut terkait masalah Pakistan.

Namanya muncul di lebih dari 50 artikel CNN, tetapi hingga Minggu malam, CNN tidak menautkan namanya ke profil media yang berbasis di Amerika Serikat (AS) tersebut.

Sementara Adeel Raja dengan cepat menghapus tweet-nya, posting lama yang mengungkapkan kekaguman terhadap pemimpin Nazi yang terkenal itu tetap online hingga Minggu malam.

Adeel Raja mendukung Jerman selama Piala Dunia 2014, dengan berkomentar saat itu; "Karena Hitler adalah seorang Jerman dan dia 'berbuat baik' dengan orang Yahudi itu!".

Dalam postingan tahun 2014 lainnya, dia menyatakan bahwa orang Jerman harus membangkitkan "jiwa Hitler" mereka, dan secara singkat mem-posting "Salam Hitler".

Yang membingungkan, Adeel Raja membandingkan Perdana Menteri India Nerandera Modi dengan Hitler pada banyak kesempatan, dengan perbandingan ini dimaksudkan secara negatif.

Namun, dia menyimpan cibiran terburuknya untuk negara Israel dengan tweet pada tahun 2014 berbunyi; “ISIS, TTP, Taliban tolong pergi ke Israel ASAP!”

Bahkan setelah dia menghapus tweet hari Minggu, para komentator online menghina Adeel Raja karena pemuja Hitler, dan menyerang CNN karena terus mempekerjakannya bahkan setelah banyak posting tentang Hitler.

Twitter juga dikecam karena menangguhkan akun mantan Presiden AS Donald Trump karena meminta para pendukungnya untuk melakukan protes secara damai, tetapi mengizinkan Adeel Raja untuk mempertahankan akun terverifikasi miliknya.

Memuji Hitler bukanlah sesuatu yang diharapkan dari setiap outlet media, kecuali untuk situs pinggiran absolut seperti "Daily Stormer".

Pada saat artikel ini dipublikasikan, pihak CNN belum mengomentari tweet berisi dukungan untuk Hitler dari kontributornya. [yy/sindonews]

 

Fiqhislam.com - Seorang jurnalis CNN membuat heboh dunia setelah terang-terangan mengharapkan kehadiran sosok Adolf Hitler ketika Zionis Israel membombardir Jalur Gaza, Palestina .

Perang antara kelompok militan di Jalur Gaza dengan militer Zionis sudah memasuki hari kedelapan pada Senin (17/5/2021). Sebanyak 193 orang tewas di Gaza, dan 10 orang tewas di Israel.

Kontributor CNN, Adeel Raja, membuat komentarnya di Twitter pada hari Minggu. "Dunia saat ini membutuhkan seorang Hitler," tulis dia yang tak lama kemudian dihapus karena jadi kontroversi.

Adolf Hitler adalah pemimpin rezim Nazi Jerman. Dia terkenal karena rezimnya dianggap membantai umat Yahudi Eropa secara besar-besaran di masa silam.

Adeel Raja, yang profil LinkedIn-nya menyatakan bahwa dia adalah kontributor lepas di CNN yang berbasis di Pakistan, dan telah menulis artikel untuk media tersebut terkait masalah Pakistan.

Namanya muncul di lebih dari 50 artikel CNN, tetapi hingga Minggu malam, CNN tidak menautkan namanya ke profil media yang berbasis di Amerika Serikat (AS) tersebut.

Sementara Adeel Raja dengan cepat menghapus tweet-nya, posting lama yang mengungkapkan kekaguman terhadap pemimpin Nazi yang terkenal itu tetap online hingga Minggu malam.

Adeel Raja mendukung Jerman selama Piala Dunia 2014, dengan berkomentar saat itu; "Karena Hitler adalah seorang Jerman dan dia 'berbuat baik' dengan orang Yahudi itu!".

Dalam postingan tahun 2014 lainnya, dia menyatakan bahwa orang Jerman harus membangkitkan "jiwa Hitler" mereka, dan secara singkat mem-posting "Salam Hitler".

Yang membingungkan, Adeel Raja membandingkan Perdana Menteri India Nerandera Modi dengan Hitler pada banyak kesempatan, dengan perbandingan ini dimaksudkan secara negatif.

Namun, dia menyimpan cibiran terburuknya untuk negara Israel dengan tweet pada tahun 2014 berbunyi; “ISIS, TTP, Taliban tolong pergi ke Israel ASAP!”

Bahkan setelah dia menghapus tweet hari Minggu, para komentator online menghina Adeel Raja karena pemuja Hitler, dan menyerang CNN karena terus mempekerjakannya bahkan setelah banyak posting tentang Hitler.

Twitter juga dikecam karena menangguhkan akun mantan Presiden AS Donald Trump karena meminta para pendukungnya untuk melakukan protes secara damai, tetapi mengizinkan Adeel Raja untuk mempertahankan akun terverifikasi miliknya.

Memuji Hitler bukanlah sesuatu yang diharapkan dari setiap outlet media, kecuali untuk situs pinggiran absolut seperti "Daily Stormer".

Pada saat artikel ini dipublikasikan, pihak CNN belum mengomentari tweet berisi dukungan untuk Hitler dari kontributornya. [yy/sindonews]

 

Tembakkan 3.000 Roket

Militan Gaza Sudah Tembakkan 3.000 Roket


Fiqhislam.com - Kecepatan kelompok militan di Gaza, Palestina , dalam menembakkan ribuan roket ke wilayah Israel telah membuat seorang jenderal militer Zionis heran. Militer Zionis mencatat sudah sekitar 3.000 roket ditembakkan sejak pertempuran pecah Senin pekan lalu.

Komandan garis depan Israel, Mayor Jenderal Ori Gordin, mengakui bahwa negaranya menghadapi tingkat serangan roket tertinggi. Roket-roket dari Gaza ditembakkan oleh beberapa kelompok militan termasuk Hamas dan Jihad Islam Palestina.

Dia mengatakan sekitar 3.000 roket sudah ditembakkan ke Israel, melampaui kecepatan selama eskalasi pada 2019 dan selama perang tahun 2006 dengan Hizbullah Lebanon.

Gordin, yang dilansir AFP, Senin (17/5/2021), memberikan grafik kepada wartawan dengan data roket yang ditembakkan ke Israel di tahun-tahun sebelumnya dan sekarang ini.

Selama eskalasi pada November 2019 antara tentara Zionis dan kelompok Jihad Islam Palestina, 570 roket ditembakkan dari Gaza menuju Israel selama tiga hari.

Dalam perang tahun 2006 dengan Hizbullah Lebanon yang didukung Iran, total 4.500 roket ditembakkan ke Israel selama 19 hari.

Ditanya apakah kecepatan serangan roket sejak Senin adalah yang tertinggi yang pernah terjadi di wilayah Israel, Gordin menjawab; "Saya tidak hanya setuju, ini adalah apa yang saya presentasikan."

Militer Israel mengeklaim sistem pertahanan rudal Iron Dome berhasil mencegat 90 persen roket dan rudal yang ditembakkan dari Gaza. Meski demikian, ada beberapa roket dan rudal yang lolos dan menyebabkan kerusakan parah dan korban jiwa di Israel.

Eskalasi selama seminggu dipicu oleh kerusuhan di Yerusalem timur yang dicaplok Israel, dan telah menyebabkan korban di Jalur Gaza yang berpenduduk padat meningkat menjadi 193 orang hingga saat ini, dan menjadi 10 orang di Israel. [yy/sindonews]

 

Perang Hari Ke-8: 192 Orang Tewas

Perang Hari Ke-8: 192 Orang Tewas di Gaza, di Israel 10 Orang


Fiqhislam.com - Perang antara kelompok militan di Jalur Gaza, Palestina dengan militer Israel sudah memasuki hari kedelapan pada Senin (17/5/2021). Sebanyak 192 orang tewas di Gaza, sedangkan di Israel 10 orang tewas termasuk seorang tentara militer.

Pada hari Minggu, serangan udara Zionis Israel di Kota Gaza meratakan tiga bangunan dan menewaskan sedikitnya 42 orang.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Minggu mengatakan bahwa berakhirnya permusuhan dengan kelompok militan Gaza tidak akan terjadi dalam waktu dekat, meskipun ada langkah diplomatik untuk memulihkan ketenangan.

Pemboman oleh militer Zionis pada hari Minggu juga menyasar rumah salah satu petinggi Hamas, Yehya al-Sinwar.

Dari total 192 orang yang meninggal di Gaza, 58 di antaranya adalah anak-anak. Sebanyak 34 perempuan juga ikut meninggal sejak serangan udara Zionis dilancarkan Senin pekan lalu.

Sedangkan pihak Israel melaporkan 10 orang tewas, termasuk dua anak, seorang tentara militer dan seorang warga India.

Dewan Keamanan PBB bertemu pada hari Minggu untuk membahas pecahnya kekerasan terburuk selama bertahun-tahun di Palestina dan Israel.

Sementara itu, Al Jazeera melaporkan jet-jet tempur Israel melakukan setidaknya 55 serangan udara di Gaza pada Senin (17/5/2021) pagi.

Jurnalis Al Jazeera yang berada di Gaza, Safwat al-Kahlout, melaporkan target serangan udara Zionis pagi ini termasuk beberapa pangkalan militer dan keamanan di wilayah Jalur Gaza, serta beberapa tanah kosong di timur Kota Gaza, Palestina.

Sebuah gedung berlantai empat juga dibom di pusat Kota Gaza, tetapi laporan awal menunjukkan bahwa para penghuni gedung itu dievakuasi sebelum serangan.

"Tembakan semakin intensif di pangkalan militer, pangkalan keamanan, kamp pelatihan yang kosong dan dievakuasi milik kelompok pejuang Palestina," katanya.

Belum jelas apakah ada korban yang dilaporkan dalam serangan udara pagi ini.

Militer Israel mengonfirmasi di Twitter bahwa mereka telah melancarkan serangan.

Minggu adalah hari paling mematikan dalam serangan militer Israel sejauh ini, dengan setidaknya 42 warga Palestina tewas dan puluhan lainnya luka-luka. [yy/sindonews]

 

Normalisasi dengan Israel Dikecam

OKI Sebut Zionis Biadab, Negara Arab yang Normalisasi dengan Israel Dikecam


Fiqhislam.com - Organisasi Kerjasama Islam (OKI) menggelar KTT darurat secara virtual pada hari Minggu di Arab Saudi. Mereka menghujat serangan Zionis Israel di Jalur Gaza, Palestina, yang mereka sebut biadab.

Beberapa negara OKI juga mengecam negara-negara Arab yang telah menormalisasi hubungan dengan Israel beberapa bulan lalu.

OKI, yang terdiri dari 57 negara anggota mayoritas Muslim dengan tajam mengutuk serangan Israel di Gaza dan Masjid Al-Aqsa di Yerusalem.

"OKI mengutuk dalam istilah terkuat serangan biadab yang diluncurkan oleh Israel, otoritas pendudukan, terhadap rakyat Palestina dan tanah serta situs suci mereka," bunyi pernyataan bersama OKI setelah KTT.

Kelompok tersebut meminta Israel untuk menghentikan semua pelanggaran yang dilakukan termasuk tidak menghormati situs suci.

"OKI meminta Israel, otoritas pendudukan, bertanggung jawab penuh atas memburuknya situasi yang ditimbulkan oleh kejahatan sistematisnya terhadap rakyat Palestina....khususnya, serangan militer biadab yang ekstensif di Jalur Gaza yang terkepung," lanjut pernyataan bersama OKI.

OKI selanjutnya mendesak Dewan Keamanan PBB untuk bertindak cepat mengakhiri serangan Israel. Desakan serupa juga disampaikan China pada hari yang sama.

Kekerasan di Israel dan wilayah Gaza, Palestina, telah meningkat selama berminggu-minggu setelah serangan 7 Mei di Masjid Al-Aqsa, situs tersuci ketiga dalam Islam, oleh polisi Israel yang melukai lebih dari 300 jamaah Muslim yang menghadiri salat Jumat terakhir Ramadhan tahun ini.

Protes terhadap penutupan Gerbang Damaskus Kota Tua Yerusalem dan upaya penggusuran keluarga Palestina dari lingkungan Sheikh Jarrah disambut dengan kekerasan oleh polisi Israel yang menyerang rumah dan orang-orang Palestina di jalan.

Hamas, kelompok yang berkuasa di Gaza, pada Senin pekan lalu akhirnya melepaskan hujan roket ke Israel sebagai tanggapan atas kekerasan Yerusalem. Militer Zionis Israel membalas dengan serangan udara yang terus berlanjut hingga pagi ini (17/5/2021).

Hingga saat ini, 193 orang telah dilaporkan tewas di Gaza oleh pemboman Israel, 55 di antaranya adalah anak-anak, dan lebih dari 10.000 orang telah mengungsi.

Sementara di Israel, 10 orang telah tewas, dua di antaranya adalah anak-anak.

“Kami menghadapi pendudukan jangka panjang. Itulah yang menjadi pangkal masalah," kata Menteri Luar Negeri Otoritas Palestina, Riad Malki, di awal KTT, seperti dikutip dari The New Arab.

"Kejahatan dilakukan terhadap Palestina tanpa konsekuensi," katanya.

Otoritas Palestina (PA) mengontrol Tepi Barat, yang sangat jenuh dengan menjamurnya permukiman Zionis, tetapi tidak dengan Jalur Gaza yang diperintah oleh Hamas. Pihak Hamas tidak ambil bagian dalam KTT OKI.

“Penderitaan rakyat Palestina adalah luka berdarah dunia Islam saat ini,” kata Menteri Luar Negeri Afghanistan, Mohammad Haneef Atmar.

Namun, KTT OKI, yang diselenggarakan secara virtual oleh Arab Saudi, juga menyaksikan perseteruan antara para menteri luar negeri dari beberapa anggota OKI setelah beberapa orang melontarkan kritik terhadap negara-negara Arab yang menandatangani normalisasi hubungan dengan Israel beberapa bulan lalu.

"Pembantaian anak-anak Palestina hari ini mengikuti normalisasi," kata Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif, yang dilansir AP.

"Rezim kriminal dan genosida ini sekali lagi membuktikan bahwa sikap ramah hanya memperburuk kekejamannya."

“Jangan salah, Israel hanya memahami bahasa perlawanan dan rakyat Palestina berhak sepenuhnya atas hak mereka untuk membela diri,” imbuh Zarif.

Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu ikut serta melontarkan kritik, dengan mengatakan negara-negara yang menandatangani kesepakatan damai dengan Israel telah kehilangan kompas moral mereka.

"Jika ada pernyataan setengah hati dalam keluarga kita sendiri, bagaimana kita bisa mengkritik orang lain? Siapa yang akan menganggap serius kata-kata kita?," kritik Cavusoglu.

Mulai September 2020, empat negara Arab menandatangani kesepakatan yang mengakui negara Israel dan menormalkan hubungan diplomatik normal dengan negara Yahudi tersebut. Empat negara Arab itu adalah Uni Emirat Arab, Bahrain, Sudan, dan Maroko.

Sebelumnya, Mesir dan Yordania melakukan hal yang sama masing-masing pada tahun 1978 dan 1994. Kesepakatan tersebut merupakan penolakan terhadap perjanjian “tiga tidak” yang ditandatangani oleh anggota Liga Arab di Khartoum pada tahun 1967 setelah terjadinya Perang Enam Hari yang menghancurkan.

Perjanjian "tiga tidak" menyatakan bahwa negara-negara Liga Arab tidak menjanjikan perdamaian, tidak ada pengakuan dan tidak ada negosiasi dengan Israel.

Dalam Perang Enam Hari 1967, Israel telah merebut Tepi Barat dan Yerusalem Timur dari Yordania, Sinai dari Mesir, dan Dataran Tinggi Golan dari Suriah.

Kesepakatan perdamaian beberapa bulan lalu, yang dikoordinasikan secara ketat oleh Jared Kushner, penasihat dan menantu Presiden AS saat itu Donald Trump, membuahkan hasil yang substansial bagi setiap penandatangan, termasuk kesepakatan senjata untuk Abu Dhabi dan Manaus dan pengakuan atas klaim kedaulatan Maroko atas wilayah sengketa tersebut.

Setelah KTT hari Minggu, Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud mengadakan panggilan telepon dengan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken untuk membahas perkembangan yang paling menonjol, yang terutama adalah perkembangan di Palestina, dan di kawasan Timur Tengah.

Meskipun Riyadh belum secara resmi mengakui Israel, hubungan informal adalah rahasia umum bahkan ketika kerajaan tersebut bersikap sebagai pendukung rakyat Palestina. [yy/sindonews]