27 Dzulqa'dah 1443  |  Senin 27 Juni 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Brasil melaporkan lebih dari 1.000 kematian karena COVID-19 untuk hari kelima secara berturut-turut. Laporan itu dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan negara yang berada di Amerika Selatan itu.

Dalam laporannya, Kementerian Kesehatan Brasil menyatakan, ada 61.567 kasus baru virus Corona yang terkonfirmasi dalam dalam 24 jam terakhir dan 1.050 kematian, hari kelima berturut-turut dengan lebih dari 1.000 kematian.

Brasil kini telah mencatat 8.455.059 kasus sejak pandemi dimulai, dan jumlah kematian resmi telah meningkat menjadi 209.296, menurut data kementerian. Ini adalah wabah terburuk ketiga di dunia di luar Amerika Serikat dan India seperti dikutip dari Reuters, Minggu (17/1/2021).

Selain menghadapi gelombang kedua, Brasil sekarang juga berurusan dengan varian virus Corona baru yang berpotensi lebih menular yang berasal dari Amazon. Kondisi ini mendorong Inggris untuk memberlakukan larangan masuknya orang Brasil. Langkah Inggris kemudian diikuti oleh Italia.

Pemerintahan Presiden Jair Bolsonaro , seorang sayap kanan yang merupakan mantan kapten angkatan darat dan sosok yang skeptis dengan pandemi COVID-19, mendapat kecaman keras atas penanganan krisis dan kegagalannya untuk menggelar program vaksinasi.

Bolsonaro dan pemerintahnya telah menyerukan "pengobatan dini" gejala COVID-19 sebagai bagian dari kampanye untuk mempromosikan penggunaan obat anti-malaria hydroxychloroquine, meskipun penelitian mendiskreditkan pengobatan semacam itu.

Platform media sosial Twitter bahkan sampai memperingatkan Kementerian Kesehatan Brasil bahwa tweet minggu lalu yang menyarankan orang-orang yang khawatir tentang gejala COVID-19 untuk memulai "pengobatan dini" melanggar aturannya tentang menyebarkan informasi yang menyesatkan dan berpotensi berbahaya tentang virus Corona baru.

"Namun, Twitter telah memutuskan bahwa mungkin merupakan kepentingan publik agar Tweet tetap dapat diakses," bunyi peringatan itu. [yy/sindonews]

 

Fiqhislam.com - Brasil melaporkan lebih dari 1.000 kematian karena COVID-19 untuk hari kelima secara berturut-turut. Laporan itu dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan negara yang berada di Amerika Selatan itu.

Dalam laporannya, Kementerian Kesehatan Brasil menyatakan, ada 61.567 kasus baru virus Corona yang terkonfirmasi dalam dalam 24 jam terakhir dan 1.050 kematian, hari kelima berturut-turut dengan lebih dari 1.000 kematian.

Brasil kini telah mencatat 8.455.059 kasus sejak pandemi dimulai, dan jumlah kematian resmi telah meningkat menjadi 209.296, menurut data kementerian. Ini adalah wabah terburuk ketiga di dunia di luar Amerika Serikat dan India seperti dikutip dari Reuters, Minggu (17/1/2021).

Selain menghadapi gelombang kedua, Brasil sekarang juga berurusan dengan varian virus Corona baru yang berpotensi lebih menular yang berasal dari Amazon. Kondisi ini mendorong Inggris untuk memberlakukan larangan masuknya orang Brasil. Langkah Inggris kemudian diikuti oleh Italia.

Pemerintahan Presiden Jair Bolsonaro , seorang sayap kanan yang merupakan mantan kapten angkatan darat dan sosok yang skeptis dengan pandemi COVID-19, mendapat kecaman keras atas penanganan krisis dan kegagalannya untuk menggelar program vaksinasi.

Bolsonaro dan pemerintahnya telah menyerukan "pengobatan dini" gejala COVID-19 sebagai bagian dari kampanye untuk mempromosikan penggunaan obat anti-malaria hydroxychloroquine, meskipun penelitian mendiskreditkan pengobatan semacam itu.

Platform media sosial Twitter bahkan sampai memperingatkan Kementerian Kesehatan Brasil bahwa tweet minggu lalu yang menyarankan orang-orang yang khawatir tentang gejala COVID-19 untuk memulai "pengobatan dini" melanggar aturannya tentang menyebarkan informasi yang menyesatkan dan berpotensi berbahaya tentang virus Corona baru.

"Namun, Twitter telah memutuskan bahwa mungkin merupakan kepentingan publik agar Tweet tetap dapat diakses," bunyi peringatan itu. [yy/sindonews]

 

Kematian Setelah Disuntik Vaksin Pfizer

Kematian Warga Norwegia Setelah Disuntik Vaksin Pfizer Jadi Perhatian


Fiqhislam.com - Otoritas kesehatan Australia segara mencari lebih banyak informasi dari Norwegia setelah negara tersebut melaporkan kematian pada pasien lanjut usia yang telah menerima vaksin Pfizer .

British Medical Journal (BMJ) melaporkan 23 pasien yang lemah dan lanjut usia di Norwegia meninggal tak lama setelah menerima vaksin Pfizer-BioNTech.

Otoritas medis Norwegia mengaku tidak khawatir, mengatakan tidak ada hubungan konkret antara vaksin dan kematian. Mereka mengatakan kematian terjadi pada pasien yang sangat lemah dan sudah menderita penyakit serius.

Australia sendiri telah memiliki kesepakatan untuk membeli 10 juta dosis vaksin Pfizier-BionTech. Vaksin ini belum disetujui untuk digunakan di Australia, dengan proses persetujuan berlanjut melalui Administrasi Barang Terapeutik.

Menteri Kesehatan Australia Greg Hunt mengatakan setelah kemunculan berita di Norwegia, pemerintah segera mencari informasi lebih lanjut.

“Saya telah menghubungi regulator medis Australia, TGA pagi ini dan meminta agar mereka mencari informasi tambahan, baik dari perusahaan, tetapi juga dari regulator medis Norwegia,” katanya.

"Menteri Luar Negeri Autsralia Marise Payne juga akan menugaskan Departemen Luar Negeri untuk meminta nasihat langsung dari pemerintah Norwegia," sambung Hunt seperti dikutip dari Sydney Morning Herald, Minggu (17/1/2021).

Dia juga telah memberi pengarahan kepada penjabat Perdana Menteri dan kantor Perdana Menteri pada hari Minggu pagi.

"Jika informasi lebih lanjut tersedia, kami akan membagikannya kepada publik Australia," ujar Hunt.

Hunt mengatakan sejauh ini, hasil dari peluncuran vaksin Pfizer di Amerika Serikat (AS) "menggembirakan". Pusat Pengendalian Penyakit AS telah meninjau kira-kira 1,8 juta dosis vaksin itu, dengan hasil yang sangat positif dalam hal keamanan dan kemanjuran.

Hunt menegaskan bahwa keselamatan adalah prioritas nomor satu regulator medis negara itu.

“Jadi kami akan terus mengikuti proses regulator medis, karena itu akan menjaga keamanan warga Australia dan pada akhirnya memberikan kepercayaan,” tukasnya.

Badan Obat Norwegia (NOMA) mengatakan kepada BMJ bahwa mereka telah menyelidiki 13 kematian sejauh ini, dan menyimpulkan bahwa efek samping umum dari vaksin mRNA, yang meliputi demam dan diare, mungkin telah berkontribusi pada kematian.

Tetapi direktur medis badan tersebut, Steinar Madsen mengatakan, efek samping yang tidak biasa ditimbulkan vaksin. Meskipun tidak berbahaya bagi pasien yang lebih muda dengan masalah kesehatan yang lebih sedikit, efek samping tersebut dapat memperburuk masalah kesehatan yang ada pada orang lanjut usia (lansia).

“Kami tidak takut atau khawatir tentang hal ini, karena kejadian ini sangat jarang dan terjadi pada pasien yang sangat lemah dengan penyakit yang sangat serius,” katanya.

"Kami sekarang meminta dokter untuk melanjutkan vaksinasi, tetapi untuk melakukan evaluasi ekstra terhadap orang yang sangat sakit yang kondisi dasarnya mungkin diperburuk olehnya," imbuhnya. [yy/sindonews]