25 Dzulqa'dah 1443  |  Sabtu 25 Juni 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz membela para pendemo yang menuntut Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mundur, setelah Netanyahu menuduh pendemo menginjak-injak demokrasi dan media Israel mendorong mereka untuk berdemo.

Netanyahu, 70 tahun, yang dilantik untuk masa jabatan kelima pada Mei setelah pemilihan umum, sering mengeluhkan bias pers terhadapnya. Beberapa dakwaan korupsinya berkaitan dengan dugaan upayanya agar media meliput positif tentang dirinya sebagai timbal balik suap.

Ribuan warga Israel turun ke jalan, termasuk berunjuk rasa di luar rumah Netanyahu di Yerusalem, untuk memprotes dugaan korupsi dan kesulitan ekonomi karena krisis virus corona.

Netanyahu, yang mengepalai partai sayap kanan Likud, telah membantah melakukan kesalahan dalam tiga kasus korupsi terhadapnya.

Pada pertemuan kabinet mingguan Netanyahu mengatakan para pendemo Israel berupaya untuk menginjak-injak demokrasi.

"Demonstrasi ini dipicu oleh mobilisasi media, yang tidak dapat saya ingat," katanya. Bibi, panggilan Netanyahu, menuduh pers Israel "mirip media Korea Utara" dan bias terhadapnya.

"Mereka tidak melaporkan demonstrasi (karena) mereka berpartisipasi di dalamnya. Mereka memanas-manasi," kata Netanyahu, yang kembali sebagai perdana menteri pada tahun 2009 setelah masa jabatan pertama dari 1996-99.

"Saya mengutuk kekerasan apapun. Kekerasan tidak memiliki tempat, di kedua sisi, dan kami tidak memiliki toleransi untuk manifestasi kekerasan atau ancaman kekerasan," kata Netanyahu pada pertemuan tersebut, dikutip dari Times of Israel. Netanyahu tampaknya merujuk pada demonstrasi penentang dirinya yang sering berujung ricuh.

Demonstran yang menuntut Netanyahu mundur kebanyakan adalah generasi muda Israel, disusul jajak pendapat yang menunjukkan popularitasnya menurun.

Mantan oposisi yang kini menjadi mitra koalisi utama Netanyahu, Menteri Pertahanan Benny Gantz dari Partai Biru Putih, membela demonstrasi.

"Hak untuk memprotes adalah darah kehidupan demokrasi," kata Gantz pada pertemuan kabinet.

"Sebagai pemerintah, kita memiliki tanggung jawab untuk membiarkan demonstrasi berlangsung dan melindungi para demonstran, yang sayangnya diserang kemarin," papar Gantz, yang juga merupakan calon perdana menteri alternatif di bawah kesepakatannya dengan Netanyahu.

Gantz mengatakan dia membahas masalah ini dengan Menteri Keamanan Publik Amir Ohana. Dia meminta agar semua orang menahan diri dari kekerasan, dan bagi Polisi Israel untuk bertindak dengan kekuatan minimum yang diperlukan untuk menjaga ketertiban.

Unjuk rasa terbaru di Yerusalem pada Sabtu malam menarik sekitar 10.000 orang, menurut perkiraan. Demonstrasi pada umumnya berlangsung damai, tetapi lima orang yang menuntut ditahan karena diduga menyerang pendemo Netanyahu, dan 12 orang ditahan pada akhir protes setelah polisi mengatakan mereka menolak mengosongkan daerah itu.

Para pendemo telah berminggu-minggu mengadakan unjuk rasa di luar kediaman Benjamin Netanyahu di Balfour Street di Yerusalem, serta di Tel Aviv dan daerah lainnya, menyerukan perdana menteri untuk mundur karena dakwaannya atas tuduhan korupsi. Mereka telah bergabung dalam beberapa minggu terakhir bersama warga Israel yang memprotes kebijakan ekonomi pemerintah selama pandemi virus corona, dengan ribuan massa yang kian bertambah. [yy/tempo]

 

Fiqhislam.com - Menteri Pertahanan Israel Benny Gantz membela para pendemo yang menuntut Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mundur, setelah Netanyahu menuduh pendemo menginjak-injak demokrasi dan media Israel mendorong mereka untuk berdemo.

Netanyahu, 70 tahun, yang dilantik untuk masa jabatan kelima pada Mei setelah pemilihan umum, sering mengeluhkan bias pers terhadapnya. Beberapa dakwaan korupsinya berkaitan dengan dugaan upayanya agar media meliput positif tentang dirinya sebagai timbal balik suap.

Ribuan warga Israel turun ke jalan, termasuk berunjuk rasa di luar rumah Netanyahu di Yerusalem, untuk memprotes dugaan korupsi dan kesulitan ekonomi karena krisis virus corona.

Netanyahu, yang mengepalai partai sayap kanan Likud, telah membantah melakukan kesalahan dalam tiga kasus korupsi terhadapnya.

Pada pertemuan kabinet mingguan Netanyahu mengatakan para pendemo Israel berupaya untuk menginjak-injak demokrasi.

"Demonstrasi ini dipicu oleh mobilisasi media, yang tidak dapat saya ingat," katanya. Bibi, panggilan Netanyahu, menuduh pers Israel "mirip media Korea Utara" dan bias terhadapnya.

"Mereka tidak melaporkan demonstrasi (karena) mereka berpartisipasi di dalamnya. Mereka memanas-manasi," kata Netanyahu, yang kembali sebagai perdana menteri pada tahun 2009 setelah masa jabatan pertama dari 1996-99.

"Saya mengutuk kekerasan apapun. Kekerasan tidak memiliki tempat, di kedua sisi, dan kami tidak memiliki toleransi untuk manifestasi kekerasan atau ancaman kekerasan," kata Netanyahu pada pertemuan tersebut, dikutip dari Times of Israel. Netanyahu tampaknya merujuk pada demonstrasi penentang dirinya yang sering berujung ricuh.

Demonstran yang menuntut Netanyahu mundur kebanyakan adalah generasi muda Israel, disusul jajak pendapat yang menunjukkan popularitasnya menurun.

Mantan oposisi yang kini menjadi mitra koalisi utama Netanyahu, Menteri Pertahanan Benny Gantz dari Partai Biru Putih, membela demonstrasi.

"Hak untuk memprotes adalah darah kehidupan demokrasi," kata Gantz pada pertemuan kabinet.

"Sebagai pemerintah, kita memiliki tanggung jawab untuk membiarkan demonstrasi berlangsung dan melindungi para demonstran, yang sayangnya diserang kemarin," papar Gantz, yang juga merupakan calon perdana menteri alternatif di bawah kesepakatannya dengan Netanyahu.

Gantz mengatakan dia membahas masalah ini dengan Menteri Keamanan Publik Amir Ohana. Dia meminta agar semua orang menahan diri dari kekerasan, dan bagi Polisi Israel untuk bertindak dengan kekuatan minimum yang diperlukan untuk menjaga ketertiban.

Unjuk rasa terbaru di Yerusalem pada Sabtu malam menarik sekitar 10.000 orang, menurut perkiraan. Demonstrasi pada umumnya berlangsung damai, tetapi lima orang yang menuntut ditahan karena diduga menyerang pendemo Netanyahu, dan 12 orang ditahan pada akhir protes setelah polisi mengatakan mereka menolak mengosongkan daerah itu.

Para pendemo telah berminggu-minggu mengadakan unjuk rasa di luar kediaman Benjamin Netanyahu di Balfour Street di Yerusalem, serta di Tel Aviv dan daerah lainnya, menyerukan perdana menteri untuk mundur karena dakwaannya atas tuduhan korupsi. Mereka telah bergabung dalam beberapa minggu terakhir bersama warga Israel yang memprotes kebijakan ekonomi pemerintah selama pandemi virus corona, dengan ribuan massa yang kian bertambah. [yy/tempo]

 

Yair Netanyahu

Benjamin Netanyahu dan Anaknya Ngamuk ke Media dan Pengunjuk Rasa


Fiqhislam.com - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengecam protes yang menentang pemerintahannya, dengan mengatakan bahwa mereka dihasut oleh media yang bias.

Netanyahu telah menghadapi gelombang protes dalam beberapa pekan terakhir. Ribuan pengunjuk rasa di depan rumah Netanyahu meminta dia mengundurkan diri karena dianggap tidak becus menangani pandemi corona.

Selain itu, menurut pengunjuk rasa Netanyahu sedang menjalani persidangan perkara korupsi, sehingga dia semestinya mundur dari jabatannya.

Dalam rapat kabinet, Netanyahu mengecam media dengan kata-kata kasar karena dianggap mengobarkan unjuk rasa untuk mendistorsi insiden kekerasan terhadap para demonstran.

"Atas nama demokrasi, saya melihat upaya menginjak-injak demokrasi," kata Netanyahu.

Pengadilan Magistrat Yerusalem kemarin, 2 Agustus 2020 memerintahkan Yair Netanyahu, putra perdana menteri, untuk menghapus ciutan yang mengintimidasi dan melukai para pemimpin unjuk rasa.

Pengadilan juga memerintahkan Yair Netanyahu untuk berhenti melecehkan para aktivis selama enam bulan dalam bentuk apa pun. Menurut Hakim Dorit Feinstein dalam putusannya cuitan anak Netanyahu dinilai mengarah pada pelecehan terhadap para pemimpin protes dan pelanggaran privasi mereka.

Media Israel memperkirakan sekitar 10 ribu pengunjuk rasa melakukan protes di dekat kediaman resmi Benjamin Netanyahu di Yerusalem tengah pada ada Sabtu malam lalu. Ribuan orang berbaris di jalan-jalan dengan riuh tapi teratur. Banyak yang memegang poster yang bertuliskan "Menteri Kriminal" dan "Bibi Go Home" [yy/tempo]