27 Dzulqa'dah 1443  |  Senin 27 Juni 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Virus corona SARS-CoV-2 masih terus menyebar dan menginfeksi nyaris 100 ribu orang setiap harinya.

Pandemi yang berawal dari Wuhan, Tiongkok ini sudah merambah ke 212 negara dan teritorial di seluruh dunia.

Bahkan, per Sabtu 9 Mei 2020, jumlah pasien yang terjangkit COVID-19 telah mencapai lebih dari 4 juta orang.

Dikutip Pikiran-Rakyat.com dari Worldometers, keseluruhan kasus pasien positif corona yang tercatat di seluruh dunia mencapai 4.009.472 jiwa.

Jumlah ini setara dengan setengah penduduk Metropolitan Bandung Raya atau proyeksi penduduk Provinsi DI Yogyakarta tahun 2020 yang mencapai 3.882.300 orang berdasarkan data BPS.

Kasus kematian akibat COVID-19 sendiri telah mencapai 275.914 orang, namun ada 1.377.704 pasien yang telah sembuh.

Saat ini, masih ada 2,35 juta orang yang sakit, 48 ribu di antaranya dalam kondisi kritis.

Meskipun demikian, pasien meninggal dunia sudah berangsur-angsur turun dibandingkan pada pertengahan April 2020 silam.

Amerika Serikat (AS) masih menjadi yang terdampak paling parah akibat pandemi virus corona ini.

1,32 juta penduduknya terjangkit virus dan 78,5 ribu orang di antaranya meninggal dunia.

Namun, mereka pun mencatat jumlah pasien sembuh paling tinggi, yaitu 222.935 orang.

Kendati demikian, jika dipersentasekan baru 16,8 persen pasien yang sembuh dari total kasus.

Di posisi lima besar, Rusia menjadi negara baru yang mencatat 187.859 pasien positif corona.

Negeri Beruang Merah itu tiba-tiba saja melesat dengan 10.699 pasien baru dalam satu hari.

Walaupun begitu, catatan kematian mereka masih sangat rendah, hanya 1.723 atau 0,9 persen.

Sementara itu, Singapura masih memimpin jumlah kasus infeksi virus corona di Asia Tenggara.

Setelah mengalami penurunan secara drastis pada akhir Mei 2020, Negeri Singa melaporkan kenaikan kembali dalam enam hari terakhir.

Saat ini, ada 21.707 pasien terjangkit virus corona dan 20 orang di antaranya meninggal dunia.

Indonesia masih di posisi kedua di kawasan Asia Tenggara dengan persentase kematian tertinggi di Asia, yaitu 7,1 persen.

Jumlahnya pun masih terus meningkat, meski beberapa kali pemerintah mengklaim penurunan penyebaran virus corona sebagaimana diberitakan Pikiran-Rakyat.com

 


Fiqhislam.com - Virus corona SARS-CoV-2 masih terus menyebar dan menginfeksi nyaris 100 ribu orang setiap harinya.

Pandemi yang berawal dari Wuhan, Tiongkok ini sudah merambah ke 212 negara dan teritorial di seluruh dunia.

Bahkan, per Sabtu 9 Mei 2020, jumlah pasien yang terjangkit COVID-19 telah mencapai lebih dari 4 juta orang.

Dikutip Pikiran-Rakyat.com dari Worldometers, keseluruhan kasus pasien positif corona yang tercatat di seluruh dunia mencapai 4.009.472 jiwa.

Jumlah ini setara dengan setengah penduduk Metropolitan Bandung Raya atau proyeksi penduduk Provinsi DI Yogyakarta tahun 2020 yang mencapai 3.882.300 orang berdasarkan data BPS.

Kasus kematian akibat COVID-19 sendiri telah mencapai 275.914 orang, namun ada 1.377.704 pasien yang telah sembuh.

Saat ini, masih ada 2,35 juta orang yang sakit, 48 ribu di antaranya dalam kondisi kritis.

Meskipun demikian, pasien meninggal dunia sudah berangsur-angsur turun dibandingkan pada pertengahan April 2020 silam.

Amerika Serikat (AS) masih menjadi yang terdampak paling parah akibat pandemi virus corona ini.

1,32 juta penduduknya terjangkit virus dan 78,5 ribu orang di antaranya meninggal dunia.

Namun, mereka pun mencatat jumlah pasien sembuh paling tinggi, yaitu 222.935 orang.

Kendati demikian, jika dipersentasekan baru 16,8 persen pasien yang sembuh dari total kasus.

Di posisi lima besar, Rusia menjadi negara baru yang mencatat 187.859 pasien positif corona.

Negeri Beruang Merah itu tiba-tiba saja melesat dengan 10.699 pasien baru dalam satu hari.

Walaupun begitu, catatan kematian mereka masih sangat rendah, hanya 1.723 atau 0,9 persen.

Sementara itu, Singapura masih memimpin jumlah kasus infeksi virus corona di Asia Tenggara.

Setelah mengalami penurunan secara drastis pada akhir Mei 2020, Negeri Singa melaporkan kenaikan kembali dalam enam hari terakhir.

Saat ini, ada 21.707 pasien terjangkit virus corona dan 20 orang di antaranya meninggal dunia.

Indonesia masih di posisi kedua di kawasan Asia Tenggara dengan persentase kematian tertinggi di Asia, yaitu 7,1 persen.

Jumlahnya pun masih terus meningkat, meski beberapa kali pemerintah mengklaim penurunan penyebaran virus corona sebagaimana diberitakan Pikiran-Rakyat.com

 

Mutasi Corona Melemah, Wabah Diharapkan Segera Berakhir

Mutasi Corona Melemah, Wabah Diharapkan Segera Berakhir


Fiqhislam.com - Para ilmuwan di Arizona State University menemukan mutasi baru dari virus Corona COVID-19 kian melemah. Hal ini dianggap menjadi salah satu harapan agar wabah ini cepat terselesaikan.

Mutasi ini hampir sama seperti yang ditemukan pada virus SARS 2003, yang kemungkinan sangat kecil untuk melewati sistem kekebalan tubuh manusia. Former Director of the World Health Organization (WHO) Cancer Programme, Karol Sikora, mengatakan mutasi virus itu sudah kehilangan sebagian potensinya.

"Para ilmuwan di Arizona telah mendeteksi mutasi dalam sampel virus Corona baru. Jangan khawatir, virus itu telah kehilangan sebagian potensinya," tulisnya dalam akun Twitter pribadinya.

"Selama terjadi selama wabah SARS, ini jadi tanda awal dari akhir wabah tersebut. Perlu diingat, ini hanya dari satu sampel. Kita perlu melihat apakah bisa menemukannya juga di tempat lain," lanjutnya.

Mengutip dari Express, para peneliti mengambil 382 sampel dari pasien Corona di negara bagiannya. Mereka menemukan adanya satu sampel yang sudah kehilangan sebagian besar materi genetik virusnya.

Mereka mengklaim hal itu membuat virus menjadi lebih lemah dan menjadi sinyal harapan wabah ini akan segera berakhir. Para peneliti memperkirakan kasus seperti ini akan muncul lebih banyak nantinya. Selain itu, mereka juga melaporkan dari 30.000 huruf asam ribonukleat (RNA) yang ada dalam virus ini, 81 huruf di antaranya telah menghilang.

"Protein-protein ini terkandung di sana tidak hanya untuk ditiru, tapi itu bisa membantu meningkatkan virulensi dan menekan sistem kekebalan tubuh. Dan itu akan berkembang dengan bentuk virus yang lebih lemah pada fase di akhir pandemi," kata Efrem Lim, kepala penelitian tersebut. [yy/health.detik]

WHO: Tidak Akan Ada Vaksin Virus Corona sampai Akhir 2021

WHO: Tidak Akan Ada Vaksin Virus Corona sampai Akhir 2021


Fiqhislam.com - Berbagai kalangan di dunia saat ini tengah berlomba-lomba mengembangkan vaksin untuk mengakhiri pandemi virus corona (Covid-19). Ini ditandai dengan beberapa perusahaan farmasi yang sudah mulai bergerak ke tahap uji klinis untuk vaksin-vaksin eksperimental mereka.

Akan tetapi, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperingatkan bahwa kecil kemungkinan masyarakat di bumi ini akan memiliki vaksin Covid-19 sebelum akhir 2021. Badan PBB itu punya argumen sendiri terkait prediksi tersebut.

Dilansir Alarabiyah, Jumat (8/5/2020), pengembangan dan distribusi massal vaksin secara luas memang dipandang sebagai cara yang paling mungkin untuk mengendalikan pandemi virus corona. Pemerintah di seluruh dunia telah menggelontorkan uang dalam jumlah besar untuk mendukung penelitian vaksin.

Berbagai perusahaan farmasi, pelaku bisnis pemula, perguruan tinggi, serta lembaga penelitian bekerja siang dan malam untuk mengembangkan vaksin yang diharapkan dapat digunakan dalam waktu dekat.

Tiga perusahaan farmasi besar AS, yaitu Inovio, Moderna, dan Pfizer, telah memulai uji klinis, yang dipandang sebagai tahap pertama pengembangan vaksin. Di Inggris, para peneliti di Universitas Oxford yang didukung oleh pemerintah setempat, mengatakan akan memproduksi vaksin secara massal pada musim gugur. Sebelumnya, hasil uji coba mereka terhadap beberapa kera dikatakan mampu membuat hewan-hewan itu kebal dari virus corona.

Di luar semua proses penelitian yang terus berlanjut di Amerika dan Inggris itu, pejabat senior WHO Dale Fisher dalam pekan ini memperingatkan bahwa vaksin Covid-19 tidak mungkin tersedia sampai akhir 2021. “Saya pikir akhir tahun depan adalah ekspektasi yang sangat masuk akal,” kata Fisher dalam wawancara dengan CNBC pada Senin (4/5/2020) lalu.

Dia berdalih, karena vaksin yang saat ini sedang dalam uji klinis masih berada dalam fase 1 dari proses pengembangan, itu artinya masih ada tahap lagi yang mesti dilalui oleh para peneliti. Setidaknya riset mereka akan melewati fase 2 dan 3 eksperimen untuk memastikan vaksin-vaksin itu aman dan dapat diandalkan.

Bahkan, begitu suatu vaksin ditemukan cocok, dia perlu diproduksi secara massal dan didistribusikan secara massal pula. Proses ini, kata Fisher, tentu memakan waktu yang tidak singkat.

Optimisme Donald Trump

Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah menyampaikan pernyataan bernada optimistis tentang pengembangan vaksin yang sedang berlangsung di negaranya. Trump mengatakan, dia yakin akan ada satu jenis vaksin corona yang tersedia pada akhir tahun ini.

“Kami sangat yakin bahwa kami akan memiliki vaksin pada akhir tahun, pada akhir tahun ini. Kami pikir kami akan memiliki vaksin pada akhir tahun ini, dan kami berusaha sangat keras,” ucapnya.

Namun, Fisher dan sebagian besar pakar kesehatan lainnya di dunia, menyangkal pernyataan Trump itu. Menurut dia, target untuk memperoleh vaksin Covid-19 pada akhir tahun ini tidaklah realistis. Dia juga menyebut pernyataan Trump itu “agak prematur”

Pandangan senada dengan Fisher juga disampaikan perusahaan farmasi besar di AS, Roche. “Saya tidak ragu bahwa karena begitu banyak perusahaan bekerja pada vaksin secara paralel, dan seperti yang kita lihat kolaborasi hebat dengan para regulator (pihak berwenang) termasuk FDA (semacam BPOM di Amerika), kita benar-benar dapat mempercepat persetujuan vaksin,” kata CEO Roche, Severin Schwan, kepada CNBC, Senin lalu.

“Tapi tetap saja, biasanya butuh bertahun-tahun untuk mengembangkan obat baru. Sebagian besar ahli sepakat bahwa dibutuhkan setidaknya 12 hingga 18 bulan sampai kita melihat vaksin yang tersedia dalam jumlah yang diperlukan untuk pasien,” tuturnya. [yy/iNews]

 

Australia Gerah Ajakan Amerika Salahkan Cina atas Virus Corona

 Australia Gerah Ajakan Amerika Salahkan Cina atas Virus Corona


Fiqhislam.com - Para pejabat Australia dikabarkan frustrasi dan terganggu oleh seruan Amerika Serikat untuk bersama-sama menuduh bahwa virus corona berasal dari laboratorium virologi Wuhan di Cina.

Serangan Gedung Putih terhadap Cina telah memberi ruang bagi Beijing untuk berargumen bahwa permintaan Australia untuk penyelidikan independen adalah bagian dari agenda yang dipimpin AS untuk menyalahkannya atas wabah virus corona, kata sumber intelijen, diplomatik, dan pemerintahan Australia kepada Reuters, dikutip 9 Mei 2020.

Canberra terperangkap dalam pertikaian diplomatik antara Washington, sekutu keamanan utamanya, dan hubungan yang tegang dengan Beijing. Australia adalah mitra dagang utama Cina bahkan ketika keberhasilan penanganan virus corona telah merencanakan untuk membuka kembali perekonomian.

Satu sumber pemerintah mengatakan bahwa para pejabat bekerja keras untuk menjadikan ulasan itu berpikiran terbuka dan global, dan bahwa ajakan Amerika untuk menyalahkan Cina tidak membantu.

Menteri Perdagangan Australia, Simon Birmingham, menanggapi kritik tentang apakah penyelidikan akan merusak perdagangan dengan Cina dengan berusaha untuk menggarisbawahi independensi Australia selama wawancara di radio ABC pada hari Jumat.

"Kami tidak melakukan ini sebagai semacam anjing peliharaan Amerika Serikat," katanya. "Anda akan melihat ada beberapa perbedaan mencolok antara beberapa hal yang telah dikatakan Pemerintah Australia dan beberapa komentar yang keluar dari Amerika Serikat dan itu karena kami mengambil analisis kami sendiri, bukti kami sendiri, saran kami sendiri dan kami akan membawa masalah ini ke Majelis Kesehatan Dunia. "

Kementerian luar negeri Cina mengatakan seruan untuk penyelidikan adalah manipulasi politik dan mengatakan Australia harus melepaskan prasangka ideologinya.

Akhir pekan lalu, surat kabar Daily Telegraph Sydney mengatakan, berkas yang disiapkan oleh pemerintah Barat menunjukkan Cina sengaja menekan atau menghancurkan bukti wabah virus corona.

Laporan itu diterbitkan tak lama setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan ia telah melihat bukti bahwa virus corona berasal dari sebuah laboratorium di Wuhan, pusat penyebaran wabah Covid-19.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan ada "sejumlah besar bukti" bahwa virus itu berasal dari laboratorium Wuhan, meskipun dia tidak membantah laporan intelijen AS bahwa virus corona bukan rekayasa manusia.

Pejabat pemerintah dan intelijen mengatakan dokumen yang dimaksud artikel itu adalah kompilasi laporan publik dan artikel surat kabar, dan tidak berdasarkan sumber intelijen.

"Ini adalah makalah penelitian. Saya dapat memberi tahu Anda, kami tidak memperhatikannya," kata sumber intelijen.

Tidak ada bukti publik yang mengaitkan wabah tersebut dengan laboratorium virologi di Wuhan, dan para ilmuwan mengatakan bahwa virus corona tampaknya telah berkembang secara alamiah.

Australia berbagi intelijen dengan Amerika Serikat di bawah kerja sama intelijen "Five Eyes" yang juga mencakup Kanada, Inggris, dan Selandia Baru.

Seorang pejabat yang akrab dengan dokumen setebal 15 halaman yang dikutip dalam artikel itu mengatakan kepada Reuters bahwa itu adalah milik Amerika, tampaknya dirancang untuk mengumpulkan dukungan klaim AS dan bukan merupakan karya intelijen.

Dokumen itu termasuk poin-poin singkat yang menggambarkan cara-cara Cina tidak transparan dalam menangani virus corona, bersumber dari artikel surat kabar dan klaim lain yang sudah ada dalam domain publik, kata pejabat itu.

Tidak ada masukan dari badan-badan Australia ke dalam dokumen, kata sumber itu.

Media Australia telah melaporkan kekhawatiran bahwa kedutaan AS di Canberra mungkin menjadi sumber dokumen. Kedutaan AS menolak berkomentar saat dihubungi oleh Reuters.

"Orang-orang Australia mendorong reformasi di Majelis Kesehatan Dunia, ini tidak membantu upaya itu. Anda dapat memahami frustrasi mereka," kata seorang diplomat Barat, yang menolak disebut sebagai diplomat, seperti pemerintah lainnya dan sumber-sumber intelijen, tidak berwenang berbicara dengan media.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison berulang kali mengatakan bahwa ia tidak melihat bukti yang mendukung teori bahwa virus itu berasal dari laboratorium, dan bahwa sumber yang paling mungkin adalah pasar satwa liar di Wuhan. Dia mengatakan tujuannya adalah untuk mengetahui bagaimana mencegah wabah lain.

"Itu tidak ditujukan pada siapa pun, kami hanya ingin tahu apa yang terjadi sehingga itu tidak terjadi lagi," kata Morrison pada hari Jumat, ketika ditanya apakah fokus AS pada teori lab Wuhan kontraproduktif.

"Ini pertanyaan yang cukup jujur, dengan niat jujur dan motif jujur. Dan saya melihat semakin banyak dukungan untuk posisi itu," katanya, merujuk pada tujuan Australia.

Morrison menulis kepada para pemimpin G20 minggu ini untuk mencari dukungan penyelidikan independen. Uni Eropa akan mengangkat masalah ini di Majelis Kesehatan Dunia bulan ini.

Australia berharap jika ada dukungan internasional yang luas untuk penyelidikan independen, Cina akan bekerja sama.

Tetapi Cina adalah mitra dagang terbesar Australia, dan hubungan diplomatik yang sebelumnya sudah penuh dengan ketegangan menjadi semakin tegang karena desakan untuk melakukan penyelidikan.

Duta Besar Cina memperingatkan bulan lalu bahwa konsumen Cina dapat memboikot produk Australia, yang menurut pemerintah merupakan intimidasi ekonomi. [yy/tempo]