25 Dzulqa'dah 1443  |  Sabtu 25 Juni 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Pihak berwenang Mesir telah menjadwalkan referendum nasional bagi perubahan konstitusi yang memungkinkan Presiden Abdel-Fattah el-Sisi berkuasa hingga 2030.

Lasheen Ibrahim, ketua Otorita Pemilu Nasional, mengatakan, referendum itu akan dilangsungkan Sabtu mendatang dan berakhir pada Senin. Ia mengatakan, warga Mesir yang berada di luar negeri bisa memberikan suara mereka dari Jumat hingga Minggu ini.

Parlemen dengan suara meyakinkan menyetujui amandemen itu pada Selasa. Amendemen itu hanya memperpanjang masa jabatan presiden dari empat tahun menjadi enam tahun. Namun, amandemen itu menyertakan ketentuan khusus bagi el-Sisi, yakni memperpanjang masa jabatan keduanya yang sekarang menjadi enam tahun, dan memungkinankan ia mencalonkan diri untuk masa jabatan ketiga pada 2024.

Referendum yang diusulkan itu dipandang banyak kritikus sebagai satu langkah mundur menuju otoritarianisme, delapan tahun setelah pemberontakan pro-demokrasi menggulingkan pemimpin otoriter Hosni Mubarak yang sempat berkuasa selama tiga dekade.

Amandemen Konstitusi, Mesir Memanas

Tensi politik di Mesir memanas menyusul seruan koalisi parpol oposisi kepada para pemilih untuk menolak usulan amandemen konstitusi yang memungkinkan Presiden Abdel-Fattah el-Sisi berkuasa hingga tahun 2030.

Referendum nasional selama tiga hari itu akan dilangsungkan mulai Sabtu (20/4/2019) besok.

Gerakan Demokrat Sipil, yang beranggotakan partai-partai liberal dan yang berhaluan kiri, mengadakan konferensi pers hari Kamis untuk mengecam Amendemen tersebut.

"Kami ingin rakyat memilih dan menyatakan tidak," kata Abdel-Aziz al-Husseini dari partai Karam.

Jika amendemen tersebut lolos, "impian dan harapan kita untuk memiliki presiden yang dipilih setiap dua masa jabatan akan berakhir," kata Khaled Dawood, tokoh oposisi lainnya dan juga mantan ketua partai Konstitusi yang berhaluan liberal.

El-Sisi mulai berkuasa tahun 2014 setelah menyingkirkan pendahulunya, presiden Islamis Mohammed Morsi, dari kelompok yang kini dilarang, Ikhwanul Muslimin. [yy/inilah]