25 Dzulqa'dah 1443  |  Sabtu 25 Juni 2022

basmalah.png

Berikut ini isi surat tersebut:

Gedung Putih, Washington, 24 Mei 2018

Kepada yang Mulia

Kim Jong Un

Pimpinan Negara Republik Rakyat Korea

Pyongyang

Yang Terhormat Saudara Pemimpin,

Kami sangat mengapresiasi waktu, kesabaran, dan usaha anda terkait dengan negosiasi dan diskusi kita baru-baru ini, sehubungan dengan pertemuan puncak yang telah lama diinginkan oleh kedua pihak, yang dijadwalkan berlangsung pada 12 Juni di Singapura.

Kami diberitahu bahwa pertemuan itu atas permintaan Korea Utara, tetapi hal itu sama sekali tidak relevan. Saya sangat menantikan untuk berada di sana bersama Anda.

Sayangnya, berdasarkan kemarahan luar biasa dan permusuhan terbuka yang ditampilkan dalam pernyataan terbaru Anda, saya merasa hal itu tidak pantas, saat ini, untuk melakukan pertemuan panjang yang direncanakan selama ini. Oleh karena itu, melalui surat ini saya menyatakan bahwa pertemuan di Singapura, demi kebaikan kedua belah pihak, tetapi merugikan dunia, tidak akan terjadi. Anda berbicara tentang kemampuan nuklir Anda, tetapi kemampuan kita begitu besar dan kuat sehingga saya berdoa kepada Tuhan, hal itu tidak akan pernah digunakan.

Saya memperjuangkan dialog yang indah antara Anda dan saya, dan akhirnya, hanya dialog itulah yang penting. suatu hari nanti, saya sangat ingin bertemu dengan Anda. Sementara itu, saya ingin mengucapkan terima kasih atas pembebasan sandera yang sekarang berada di rumah bersama keluarga mereka. Hal itu merupakan sikap yang indah dan sangat menghargai.

Jika Anda berubah pikiran terkait pertemuan puncak yang paling penting ini, jangan ragu untuk menelepon atau menulis untuk saya. Dunia dan Korea Utara khususnya, telah kehilangan kesempatan besar untuk perdamaian abadi dan kemakmuran dan kekayaan yang besar. Kesempatan yang hilang ini adalah momen yang benar-benar menyedihkan dalam sejarah.

Sebelum dibatalkan, pertemuan tersebut dijadwalkan akan berlangsung di Singapura pada 12 Juni 2018 mendatang dan diperkirakan menjadi pertemuan paling bersejarah di dunia. [yy/islampos]

Berikut ini isi surat tersebut:

Gedung Putih, Washington, 24 Mei 2018

Kepada yang Mulia

Kim Jong Un

Pimpinan Negara Republik Rakyat Korea

Pyongyang

Yang Terhormat Saudara Pemimpin,

Kami sangat mengapresiasi waktu, kesabaran, dan usaha anda terkait dengan negosiasi dan diskusi kita baru-baru ini, sehubungan dengan pertemuan puncak yang telah lama diinginkan oleh kedua pihak, yang dijadwalkan berlangsung pada 12 Juni di Singapura.

Kami diberitahu bahwa pertemuan itu atas permintaan Korea Utara, tetapi hal itu sama sekali tidak relevan. Saya sangat menantikan untuk berada di sana bersama Anda.

Sayangnya, berdasarkan kemarahan luar biasa dan permusuhan terbuka yang ditampilkan dalam pernyataan terbaru Anda, saya merasa hal itu tidak pantas, saat ini, untuk melakukan pertemuan panjang yang direncanakan selama ini. Oleh karena itu, melalui surat ini saya menyatakan bahwa pertemuan di Singapura, demi kebaikan kedua belah pihak, tetapi merugikan dunia, tidak akan terjadi. Anda berbicara tentang kemampuan nuklir Anda, tetapi kemampuan kita begitu besar dan kuat sehingga saya berdoa kepada Tuhan, hal itu tidak akan pernah digunakan.

Saya memperjuangkan dialog yang indah antara Anda dan saya, dan akhirnya, hanya dialog itulah yang penting. suatu hari nanti, saya sangat ingin bertemu dengan Anda. Sementara itu, saya ingin mengucapkan terima kasih atas pembebasan sandera yang sekarang berada di rumah bersama keluarga mereka. Hal itu merupakan sikap yang indah dan sangat menghargai.

Jika Anda berubah pikiran terkait pertemuan puncak yang paling penting ini, jangan ragu untuk menelepon atau menulis untuk saya. Dunia dan Korea Utara khususnya, telah kehilangan kesempatan besar untuk perdamaian abadi dan kemakmuran dan kekayaan yang besar. Kesempatan yang hilang ini adalah momen yang benar-benar menyedihkan dalam sejarah.

Sebelum dibatalkan, pertemuan tersebut dijadwalkan akan berlangsung di Singapura pada 12 Juni 2018 mendatang dan diperkirakan menjadi pertemuan paling bersejarah di dunia. [yy/islampos]

Pertemuan dengan Kim Batal, Warga Korsel: Trump Tak Mau 2 Korea Damai

Pertemuan dengan Kim Batal, Warga Korsel: Trump Tak Mau 2 Korea Damai


Pertemuan dengan Kim Batal, Warga Korsel: Trump Tak Mau 2 Korea Damai


Fiqhislam.com - Warga Korea Selatan (Korsel) marah atas keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang membatalkan pertemuan dengan pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong Un.

Mereka merasa dikhianati dan gagal meraih kesempatan bisa hidup dalam kedamaian, setelah puluhan tahun dilanda ketegangan dengan Korut.

Puluhan mahasiswa dan aktivis hak-hak perempuan melakukan aksi protes di Seoul, Jumat (25/5/2018), mengecam keputusan Trump itu. Mereka menilai Trump tidak adil dan terkesan mengambil keuntungan sepihak.

Trump diketahui membatalkan pertemuan yang sedianya digelar di Singapura pada 12 Juni, setelah berbulan-bulan ada kemajuan diplomatik antara Korut dan AS.

“Korea Utara sedang dalam proses melakukan semua yang dituntut darinya. Mereka bahkan meledakkan lokasi uji coba nuklir mereka,” kata seorang pekerja, Eugene Lim (29), seperti dilaporkan Reuters.

“Trump tidak tertarik pada perdamaian di negara kami. Kenapa dia tidak membiarkan kita, kedua Korea, hidup dalam damai?” ujar Lim.

Lim mengatakan Korut sudah meledakkan lokasi uji coba senjata nuklir yang berlokasi Punggye-ri, Kamis (24/5), untuk memastikan penghentian uji coba nuklir secara transparan.

Penghancuran fasilitas nuklir itu turut mengundang puluhan jurnalis internasional. Sebelumnya Kim berjanji menghentikan semua uji coba senjata nuklir dan rudal jarak jauh.

Kim juga membebaskan tiga tahanan AS sebagai iktikad baik untuk bertemu Trump.

Seorang demonstran, Kim Dong Ho (38), justru membela Korut. Menurut dia, langkah untuk kembali mengisolasi Korut saat negara itu berupaya bergabung dengan komunitas internasional, itu tidak benar.

"Lagi pula, kami yang tinggal di Semenanjung Korea menderita konsekuensi dari tindakan Anda (Trump)," kata Kim Dong Ho.

“Rasanya seperti Trump meruntuhkan semua upaya yang telah dibuat oleh kedua Korea untuk pertemuan AS-Korea Utara. Bagi saya, rasanya seperti Korea Utara lebih dari negara yang normal, dengan mengatakan akan memberi waktu untuk AS dan menunggu,” kata pengunjuk rasa lain, Yun Hae Ri (25).

"Saya tidak berpikir Trump melakukan hal yang benar jika dia ingin memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian," sebut Yun.

Sebelumnya, Presiden Donald Trump membatalkan pertemuan dengan Kim Jong Un, Kamis (24/5). Melaluu akun Twitter-nya, Trump mengunggah surat terbuka kepada Kim untuk mengumumkan pembatalan pertemuan yang sedianya digelar di Singapura pada 12 Juni.

Trump menyebut, pertemuan itu sebenarnya tidak perlu dan tetap akan merugikan dunia. Dia juga menyebut alasan pembatalan, salah satunya Korut melancarkan perselisihan terbuka dengan AS. [yy/iNews]