25 Dzulqa'dah 1443  |  Sabtu 25 Juni 2022

basmalah.png

Radikalisme Incar Masyarakat Stres

Fiqhislam.com - Sejumlah kota besar di Indonesia menjadi incaran paham radikalisme karena tingkat stres masyarakatnya yang tinggi, kata Guru Besar Ilmu Pendidikan Islam Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Abuddin Nata.

"Gerakan radikal umumnya muncul di kota-kota besar karena orangnya stres akibat aktivitas kerja, kemacetan lalu lintas, dan faktor lainnya," katanya di Bekasi, Ahad (17/1).

Pernyataan itu disampaikan Guru Besar Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah dalam seminar pendidikan "Peran Pendidikan Agama dalam Membentuk Karakter Anak" di Alexandria Islamic School Bekasi, Jawa Barat.

Menurut dia, situasi masyarakat kota besar relatif sangat mudah dipengaruhi paham radikalisme dengan iming-iming peningkatan status dan ekonomi masyarakatnya. "Problem politik dan ekonomi di kota besar lebih mudah dijual dalam masyarakat seperti itu. Agama hanya dijadikan alat untuk melegitimasi seolah kekeliruan itu dibenarkan oleh ajaran agama," ujarnya.

Adapun salah satu modus yang dilakukan oleh kaum radikal adalah dengan mengambil alih Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) di lingkungan masyarakat. "Dakwah masih banyak yang menyampaikan kekerasan, seperti masjid dikuasai komunitas radikal," katanya.

Abuddin menilai aksi teror dari kalangan radikalisme sulit untuk dideteksi dini karena pergerakannya yang tertutup. "Negara superpower saja masih kebobolan," katanya.

Meski demikian, dia mengapresiasi sikap Polri dan TNI yang dapat mengatasi kasus itu secara cepat dan profesional. "Namun, saya anggap penanganan kasus itu sebuah keberhasilan kepolisian dan TNI serta aparat keamanan lainnya," katanya.

Indonesia Darurat Radikalisme

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof Dr KH Said Aqil Siradj mengatakan, saat ini Indonesia sudah darurat radikalisme, terorisme, dan narkoba.

Untuk itu, organisasi lintas iman mengadakan Apel Kebhinekaan Bela Negara untuk mengingatkan kembali kepada masyarakat akan bahaya tersebut.  

"Apel ini kita rencanakan sebelum adanya bom (Sarinah). Tapi, ditambah kejadian kemarin menjadi semakin yakin dan mantap perlu apel ini," ujar Said Aqil Siradj dalam sambutannya dalam Apel Kebhinekaan Lintas Iman Bela Negara di Lapangan Banteng Jakarta, Ahad (17/1).

Ia menjelaskan, hal yang menyebabkan Indonesia darurat radikalisme, terorisme, dan narkoba karena reformasi yang  kebablasan sehingga ideologi dari luar mudah masuk ke Indonesia.

Padahal, kata dia, aliran yang ada di Timur Tengah tidak cocok di indonesia. Di negara Timur Tengah, tidak ada ulama yang nasionalis. Sedangkan di Indonesia, hampir semua ulamanya memiliki jiwa nasionalis. 

Said Aqil melanjutkan, sejak awal PBNU sudah mengingatkan pemerintah terkait bahaya ISIS, termasuk soal jumlah pengikut dan aliran dana.

Untuk itu, PBNU mengajak seluruh warga untuk ikut melawan ISIS dan mendukung revisi UU terorisme serta mendukung surat edaran hate speech demi kemaslahatan martabat bangsa.

Ia menambahkan, dalam Alquran disebutkan, tidak ada yang lebih zalim daripada orang yang melakukan kejahatan dengan mengatasnamakan Islam. "Itu orang paling kurang ajar," katanya menegaskan. [yy/republika]