27 Dzulqa'dah 1443  |  Senin 27 Juni 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Kasus positif Covid-19 di Indonesia pada Kamis, 10 Februari 2022 bertambah 40.618. Sehingga akumulasi positif Covid-19 saat ini lebih dari 4,5 juta kasus atau sebanyak 4.667.554 kasus.

Jumlah tersebut adalah hasil tracing melalui pemeriksaan sebanyak 386.063 spesimen yang dilakukan dengan metode real time polymerase chain reaction (PCR) dan tes cepat molekuler (TCM).

Kemudian, dilaporkan juga kasus yang sembuh dari Covid-19 pada hari ini tercatat 18.182 orang. Sehingga total sebanyak 4.234.510 orang sembuh. Sedangkan jumlah yang meninggal bertambah 74 orang. Sehingga total meninggal menjadi 144.858 orang.

Sebelumnya, total kasus positif Covid-19 di Indonesia per Rabu 9 Februari 2022 berjumlah 4.626.936 orang. Untuk kasus yang sembuh sebanyak 4.216.328 orang, sedangkan jumlah yang meninggal sebanyak 144.784 orang.

Data penambahan kasus positif Covid-19 di Indonesia ini dipublikasikan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui laman https://www.kemkes.go.id/. [yy/Dimas Choirul/okezone]

 

Fiqhislam.com - Kasus positif Covid-19 di Indonesia pada Kamis, 10 Februari 2022 bertambah 40.618. Sehingga akumulasi positif Covid-19 saat ini lebih dari 4,5 juta kasus atau sebanyak 4.667.554 kasus.

Jumlah tersebut adalah hasil tracing melalui pemeriksaan sebanyak 386.063 spesimen yang dilakukan dengan metode real time polymerase chain reaction (PCR) dan tes cepat molekuler (TCM).

Kemudian, dilaporkan juga kasus yang sembuh dari Covid-19 pada hari ini tercatat 18.182 orang. Sehingga total sebanyak 4.234.510 orang sembuh. Sedangkan jumlah yang meninggal bertambah 74 orang. Sehingga total meninggal menjadi 144.858 orang.

Sebelumnya, total kasus positif Covid-19 di Indonesia per Rabu 9 Februari 2022 berjumlah 4.626.936 orang. Untuk kasus yang sembuh sebanyak 4.216.328 orang, sedangkan jumlah yang meninggal sebanyak 144.784 orang.

Data penambahan kasus positif Covid-19 di Indonesia ini dipublikasikan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui laman https://www.kemkes.go.id/. [yy/Dimas Choirul/okezone]

 

Vaksin Merah Putih Halal

Komisi Fatwa MUI Putuskan Vaksin Merah Putih Halal


Fiqhislam.com - Ketua Komisi Fatwa MUI Hasanuddin AF menyatakan, bahwa vaksin Covid-19 Merah Putih buatan Universitas Airlangga (Unair) dengan PT Biotis Pharmaceuticals halal digunakan. Hasanuddin mengatakan, MUI telah memfatwakan vaksin tersebut pada Rabu, 9 Februari 2022.

"Iya sudah halal. Kemarin hari Rabu difatwakan vaksin Merah Putih ," kata Hasanuddin kepada MNC Portal, Kamis (10/2/2022).

Dirinya memastikan, vaksin merah putih ini tidak mengandung dari bahan-bahan haram seperti babi dan najis. "Kandungannya tidak ada unsur babi dan najis. Bebas sehingga halal," ujar dia.

Sebelumnya, MUI juga telah melakukan fatwa terhadap vaksin Covid 19 seperti Sinovac dan Zivivax asal Anhui China. Selain vaksin itu, MUI tetap memperbolehkan penggunaannya selama masa darurat dan ketersediaan vaksin di masyarakat.

Diberitakan sebelumnya, saat ini Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadikan vaksin Merah Putih sebagai program super prioritas untuk kemandirian vaksin.

Hal ini diungkapkan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy saat menghadiri pencanangan uji klinis fase-1 vaksin Merah Putih.

"Saya selaku Menko yang bertugas melakukan koordinasi, sinkronisasi, dan pengendalian program-program prioritas di mana vaksin Merah Putih adalah merupakan program super prioritas dari Bapak Presiden Joko Widodo untuk menuju ke Indonesia dengan kemandirian vaksin," kata Muhadjir dikutip dari keterangan resmi yang diterima, Kamis (10/2/2022).

Sementara itu Muhadjir mengatakan, vaksin Merah Putih nantinya selain digunakan sebagai vaksin booster (dosis ketiga), juga akan dihibahkan kepada negara-negara tetangga.

Setelah uji klinis fase-1 akan dilanjutkan ke tahap uji klinis fase-2, vaksin Merah Putih harus sesegera mungkin melakukan proses registrasi skala global di World Health Organization (WHO) dan mendapatkan listing internasional. Dengan demikian vaksin Merah Putih bisa digunakan dan dihibahkan kepada negara-negara yang membutuhkan. [yy/Widya Michella/sindonews]

 

Nose Sanitizer

Nose Sanitizer Terbukti Ampuh Sembuhkan Pasien Covid-19


Fiqhislam.com - Pengujian fase 3 nose sanitizer yang diklaim dapat menyembuhkan Covid-19 telah dipublikasi. Studi dilakukan di India oleh peneliti kesehatan Glenmark Pharmaceuticals bersama SaNOtize Research & Development Corp.

Peneliti mengumumkan hasil yang baik dari Uji klinis fase 3 Nitric Oxide Nasal Spray (NONS) atau yang dikenal di Indonesia dengan nama Enovid Nose Sanitizer dan di India diberi nama Fabispray. Bagaimana proses studi dan hasilnya?.

Pengujian dilakukan pada pasien dewasa Covid-19, yang dilakukan di 20 lokasi di India. Studi ini menganalisis pasien Covid-19 dengan risiko peningkatan gejala, pasien yang tidak divaksinasi, pasien dalam usia rentan dan menengah, serta pasien komorbid.

Studi ini mengevaluasi kemanjuran dan keamanan NONS dibandingkan semprotan hidung saline pada pasien dewasa. Dalam percobaan ini, fresh nitric oxide saat disemprotkan ke hidung untuk membunuh virus corona di saluran pernapasan atas.

Telah terbukti sifat anti-mikroba dengan efek virucidal langsung pada virus SARS-CoV-2. Saat disemprotkan di atas mukosa hidung bertindak sebagai penghalang dan pembunuh virus, pencegah inkubasi dan penyebaran virus ke paru-paru.

Menariknya, saat nose sanitizer disemprotkan pada pasien Covid-19 justru memperpendek kesembuhan. Yaitu pasien yang memakai spray ini sudah sembuh dalam waktu 4 hari dibandingkan dengan 8 hari pada kelompok plasebo (tidak diberikan).

Selain itu, nose sanitizer ini aman dan ditoleransi dengan baik oleh pasien. Tidak ada pasien yang mengalami efek samping sedang, berat, serius atau kematian dalam penelitian ini.

Wakil Presiden Senior & Kepala - Pengembangan Klinis, Glenmark Pharmaceuticals Ltd. Dr. Monika Tandon mengatakan, hasil dari uji coba Fase 3 ini sangat memberi dampak yang bagus. Demonstrasi pengurangan viral load memiliki dampak yang sangat membantu.

"Dalam skenario ini, dengan varian baru yang muncul menunjukkan transmisibilitas tinggi, alat semprot ini memberikan opsi yang berguna dalam perjuangan India melawan Covid-19," ujarnya.

Co-Founder dan CEO SaNOtize Dr. Gilly Regev juga sangat senang dengan hasil percobaan ini. Ditambah pihaknya dapat menyediakan pasien Covid-19 dengan produk terbukti memberikan penyembuhan lebih cepat.

"Dengan profil keamanan yang terbukti kuat dari studi fase 3 ini, kami berharap ini menjadi pilihan pertama pengobatan, jika tidak pertahanan, untuk menangani Covid-19 di seluruh dunia," tutupnya. [yy/okezone]

 

Pandemi Covid-19 Berakhir

Swedia Deklarasikan Pandemi Covid-19 Berakhir di Negaranya


Fiqhislam.com - Swedia deklarasikan pandemi Covid-19 berakhir di negaranya pada Rabu (9/2/2022). Negara tersebut tak lagi melakukan testing Covid-19 di sebagian besar wilayah, meskipun angka pasien Covid-19 di sistem perawatan kesehatan dinilai pakar masih terbilang tinggi.

Langkah ini membuat negara Skandinavia berselisih dengan sebagian besar Eropa. Tapi, Swedia menilai bahwa Omicron memiliki gejala yang lebih ringan sehingga pemerintah mulai mempertimbangkan untuk memperlakukan Covid-19 seperti penyakit endemik.

"Kami telah mencapai titik di mana biaya dan relevansi pengujian tidak lagi dapat dibenarkan," kata Kepala Badan Kesehatan Masyarakat Swedia Karin Tegmark Wisell, seperti dikutip CTV News, Kamis (10/2/2022).

"Jika kami melakukan pengujian ekstensif yang disesuaikan dengan semua orang yang memiliki Covid-19, itu berarti setengah miliar kronor seminggu (sekitar US$55 juta) dan 2 miliar per bulan ($220 juta)," tambah Tegmark Wisell.

Mulai Rabu, hanya petugas kesehatan dan perawatan lansia dan yang paling rentan yang berhak mendapatkan tes PCR gratis jika menunjukkan gejala, sedangkan populasi lainnya hanya akan diminta untuk tinggal di rumah jika menunjukkan gejala yang bisa jadi Covid-19.

Tes antigen sudah tersedia untuk dibeli di supermarket dan apotek, tetapi hasilnya tidak dilaporkan ke otoritas kesehatan. Penyedia layanan kesehatan swasta juga dapat melakukan tes dan menawarkan sertifikat untuk perjalanan internasional, tetapi biayanya tidak akan diganti oleh negara atau asuransi kesehatan.

Tingkat vaksinasi yang tinggi di Swedia menciptakan optimisme di kalangan pejabat kesehatan dan sebuah studi akhir 2020 yang dirilis Selasa menunjukkan antibodi hadir dalam 85% sampel.

Bharat Pankhania, dosen klinis senior di University of Exeter Medical School di Inggris, mengatakan bahwa dengan persentase orang yang divaksinasi, dapat dipercaya untuk mengisolasi jika mereka menunjukkan gejala.

"Swedia memimpin, dan negara-negara lain pasti akan mengikuti," kata Pankhania. "Kami tidak memerlukan pengujian ekstensif, tetapi kami harus tetap melihat dalam pengaturan sensitif seperti rumah sakit, panti jompo, dan tempat sensitif lainnya di mana ada orang yang sangat rentan."

Juga per Rabu kemarin, negara itu menghentikan aturan jam malam tentang berapa banyak orang yang boleh berkumpul di acara atau di restoran, sertifikat vaksin tidak lagi diperlukan dan pengurangan jam operasional telah dibatalkan untuk bar dan restoran.

Mengumumkan pembukaan kembali pekan lalu, Perdana Menteri Magdalena Andersson mengatakan bahwa "pandemi belum berakhir tetapi telah memasuki fase yang sama sekali baru," dan sementara tingkat infeksi meningkat, itu tidak terlalu membebani rumah sakit.

Itu sejalan dengan apa yang terjadi di negara-negara di seluruh Eropa baru-baru ini ketika pihak berwenang melonggarkan pembatasan virus corona yang telah mendominasi benua itu selama dua tahun terakhir.

Namun pengujian tetap tersebar luas di benua itu, bahkan untuk orang yang tidak menunjukkan gejala. Anak sekolah dan guru di Yunani, misalnya, diharuskan melakukan tes dua kali seminggu, dan banyak negara masih memerlukan paspor Covid-19 atau tes negatif untuk memasuki restoran, bioskop, dan tempat dalam ruangan lainnya. [yy/Wilda Fajriah/okezone]