25 Dzulqa'dah 1443  |  Sabtu 25 Juni 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Kasus positif Covid-19 di Tanah Air kembali bertambah sebanyak 17.895 kasus pada Rabu 2 Februari 2022. Angka tersebut kembali melonjak, setelah kemarin positif Covid-19 bertambah 16.021 kasus.

Sehingga akumulasi positif Covid-19 saat ini lebih dari 4,2 juta kasus atau sebanyak 4.387.286 kasus. Sementara itu, rekor tertinggi Covid-19 terjadi pada 15 Juli 2021 sebanyak 56.757 kasus dalam sehari.

Selain itu, juga dilaporkan kasus yang sembuh dari Covid-19 pada hari ini tercatat 5.110 orang. Sehingga total sebanyak 4.148.804 orang sembuh.

Sementara jumlah yang meninggal kembali bertambah 25 orang. Sehingga total meninggal menjadi 144.373 orang.

Sebelumnya, total kasus positif Covid-19 di Indonesia per tanggal 1 Februari 2022 berjumlah 4.369.391 orang. Untuk kasus yang sembuh sebanyak 4.143.694 orang, sedangkan jumlah yang meninggal sebanyak 144.348 orang.

Data penambahan kasus positif Covid-19 di Indonesia ini dipublikasikan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui laman https://www.kemkes.go.id/. [yy/Binti Mufarida/okezone]

 

Fiqhislam.com - Kasus positif Covid-19 di Tanah Air kembali bertambah sebanyak 17.895 kasus pada Rabu 2 Februari 2022. Angka tersebut kembali melonjak, setelah kemarin positif Covid-19 bertambah 16.021 kasus.

Sehingga akumulasi positif Covid-19 saat ini lebih dari 4,2 juta kasus atau sebanyak 4.387.286 kasus. Sementara itu, rekor tertinggi Covid-19 terjadi pada 15 Juli 2021 sebanyak 56.757 kasus dalam sehari.

Selain itu, juga dilaporkan kasus yang sembuh dari Covid-19 pada hari ini tercatat 5.110 orang. Sehingga total sebanyak 4.148.804 orang sembuh.

Sementara jumlah yang meninggal kembali bertambah 25 orang. Sehingga total meninggal menjadi 144.373 orang.

Sebelumnya, total kasus positif Covid-19 di Indonesia per tanggal 1 Februari 2022 berjumlah 4.369.391 orang. Untuk kasus yang sembuh sebanyak 4.143.694 orang, sedangkan jumlah yang meninggal sebanyak 144.348 orang.

Data penambahan kasus positif Covid-19 di Indonesia ini dipublikasikan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui laman https://www.kemkes.go.id/. [yy/Binti Mufarida/okezone]

 

Varian Omicron

8 Fakta Ilmiah Terbaru Varian Omicron


Fiqhislam.com - Covid-19 varian omicron menyebar luas di Indonesia. Berdasarkan data yang dihimpun Kementerian Kesehatan (Kemenkes), diketahui ada 1.988 kasus omicron yang tercatat di Tanah Air.

Belum lama ini para ahli memublikasikan beberapa fakta terbaru terkait varian omicron yang sedang gencar diatasi. Setidaknya ada delapan fakta penting mengenai jenis yang berasal dari Afrika Selatan ini.

Dirangkum dari unggahan akun Instagram resmi Komite Percepatan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) @lawancovid19_id, berikut delapan fakta ilmiah terbaru mengenai varian omicron.

1. Omicron sebabkan kenaikan kasus yang lebih tinggi dibandingkan varian delta dikarenakan lebih mudah menular.

2. Masa inkubasi atau munculnya gejala sejak pertama kali terpapar virus cenderung lebih cepat dibanding varian lain.

3. Gejala pada varian omicron tidak spesifik, namun disinyalir lebih ringan.

4. Angka rawat inap di rumah sakit lebih rendah dibandingkan varian delta.

5. Dapat menular kepada orang yang pernah terinfeksi covid-19.

6. Masih dapat terdeteksi dengan RT-PCR maupun rapid antigen.

7. Vaksin berperan besar dalam mencegah keparahan gejala dan kematian, namun berkurang efektivitasnya.

8. Obat yang dipakai untuk varian sebelumnya masih efektif digunakan untuk omicron. [yy/Leonardus Selwyn/okezone]

 

Bertambah Negara Cabut Aturan Masker

Geger Omicron tapi Bertambah Pula Negara Cabut Aturan Masker


Fiqhislam.com - Kasus virus Corona varian Omicron terus melonjak di berbagai negara. Meski demikian, ada sejumlah negara yang mencabut aturan wajib masker bagi warganya.

Setidaknya, ada lima negara yang telah mencabut aturan wajib masker tersebut tersebut. Ketiga negara itu berada di Eropa.

Berikut lima negara di Eropa yang telah mencabut aturan wajib masker meski Omicron masih merebak:

1. Inggris

Salah satu negara yang paling awal mencabut aturan wajib masker adalah Inggris. Pemerintah Inggris mencabut pembatasan terkait Corona pada Januari 2022 setelah mengklaim kasus Omicron menurun.

Inggris mengklaim program vaksinasi ketiga atau booster mengurangi gejala berat dan rawat inap pasien COVID-19. Warga Inggris pun tak lagi diwajibkan memakai masker untuk masuk ke tempat-tempat umum.

Selain itu, pemerintah Inggris juga mencabut aturan bekerja dari rumah serta panduan untuk memakai masker di ruang kelas.

"Saat kita belajar untuk hidup dengan COVID, kita perlu melihat dengan jelas bahwa virus ini tidak akan hilang," kata Sekertaris Kesehatan Sajid Javid, dikutip dari CNA, Kamis (27/1/2022).

Meski demikian, beberapa toko dan transportasi umum masih meminta warga mengenakan masker. Wali Kota London Sadiq Khan juga menyatakan masker masih akan diperlukan di bus dan kereta bawah tanah ibu kota.

2. Denmark

Denmark kemudian menyusul Inggris. Pada Selasa (1/2/2022), Denmark membatalkan sebagian besar pembatasan terkait COVID-19 usai tak lagi menganggap wabah corona sebagai 'penyakit kritis secara sosial'.

Dilansir dari DW, Denmark menilai kasus varian Omicron memang melonjak tetapi tidak membebani sistem kesehatan dan negara itu punya tingkat vaksinasi yang tinggi. Denmark dalam beberapa pekan terakhir mengalami rata-rata lebih dari 50.000 kasus infeksi harian sementara jumlah orang di unit perawatan intensif rumah sakit telah menurun.

Kepala Otoritas Kesehatan Denmark Soren Brostrom kepada televisi Denmark TV2 mengatakan perhatiannya ada pada jumlah orang di ICU, bukan pada jumlah infeksi. Dia mengatakan jumlah itu telah "turun dan turun dan sangat rendah." Disebutkan, saat ini 32 pasien virus Corona berada di ICU. Beberapa minggu yang lalu, angkanya masih di kisaran 80.

Pembatasan yang paling mencolok yang terlihat menghilang adalah masker wajah, yang tidak lagi wajib di transportasi umum, toko-toko dan untuk pengunjung restoran. Pihak berwenang hanya merekomendasikan penggunaan masker di rumah sakit, fasilitas perawatan dan kesehatan, dan panti jompo.

Meski demikian, warga tetap diminta hati-hati. Pembatasan lain yang tidak lagi diperlukan adalah tiket digital yang digunakan untuk memasuki klub malam, kafe, bus, dan untuk duduk di dalam ruangan di restoran.

"Saya tidak berani mengatakan bahwa ini adalah perpisahan terakhir untuk pembatasan. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi pada musim gugur. Apakah nanti akan ada varian baru?" kata Perdana Menteri Mette Frederiksen kepada radio Denmark. Pemerintah Denmark tetap memperingatkan peningkatan infeksi bisa terjadi dalam beberapa minggu mendatang dan mengatakan, vaksinasi keempat mungkin diperlukan.

Otoritas kesehatan mendesak warga Denmark untuk dites secara teratur demi menjaga pengawasan epidemi, dan jika diperlukan "bereaksi cepat", seperti yang dikatakan Menteri Kesehatan Magnus Heunicke pekan lalu.

Pembatasan ketat di Denmark awalnya diterapkan bulan Juli tetapi dihapus sekitar 10 minggu kemudian, setelah upaya vaksinasi dianggap berhasil. Pembatasan kembali diberlakukan ketika infeksi melonjak.

Pada tahun 2020, Denmark menjadi salah satu negara Eropa pertama yang menutup sekolah karena pandemi dan memulangkan semua pegawai negeri di sektor-sektor yang tidak kritis.

3. Rumania

Rumania mulai Selasa (1/2) juga membatalkan tuntutan karantina untuk turis jika sudah divaksinasi Corona secara lengkap. Turis yang memiliki bukti pulih dari COVID-19 atau dapat memberikan hasil tes negatif, terlepas dari dari mana mereka berasal, terbebas dari aturan karatina.

4. Austria

Austria sudah lebih dulu menetapkan pelonggaran untuk sektor perdagangan, budaya dan wisata, sekalipun angka infeksi masih tinggi. Alasannya sama, yakni tingkat keterisian rumah sakit rendah. Karena itu pemerintah Austria menyatakan sudah dapat mengendalikan situasi.

Pelonggaran di Austria dilakukan secara bertahap. Jam buka bar dan restoran sekarang diperpanjang sampai tengah malam. Seminggu kemudian, mulai 12 Februari, persyaratan vaksinasi juga akan dihapus. Untuk masuk ke toko orang hanya perlu memakai masker medis, tanpa bukti vaksinasi dan tanpa tes.

5. Prancis

Pemerintah Prancis juga mulai mencabut pembatasan terkait COVID-19, termasuk aturan wajib masker di luar ruangan mulai Rabu (2/2/2022) waktu setempat. Langkah ini ditujukan untuk memudahkan kehidupan sehari-hari warga Prancis di tengah pandemi.

Seperti dilansir AFP, pembatasan untuk jumlah penonton konser, pertandingan olahraga dan acara lainnya juga dihapus. Namun, kebijakan bekerja dari rumah, meski tidak lagi diwajibkan, masih direkomendasikan oleh otoritas setempat.

Pencabutan pembatasan Corona ini memulai kebijakan pelonggaran dua tahap yang diumumkan pemerintah Prancis pada akhir Januari lalu meski jumlah kasus Corona harian di negara itu mencetak rekor tertinggi bulan lalu. Perdana Menteri (PM) Prancis, Jean Castex, menyatakan Prancis 'akan bisa mencabut sebagian besar pembatasan yang diberlakukan untuk membatasi epidemi pada Februari' berkat izin vaksinasi baru, yang menggantikan izin kesehatan.

Sejak bulan lalu, bukti vaksinasi diperlukan untuk bisa mengakses semua tempat umum, mulai dari bar dan restoran hingga menaiki transportasi umum jarak jauh. Sebelumnya hanya dibutuhkan izin kesehatan yang bisa diperoleh dengan memiliki hasil tes negatif Corona.

Penggunaan bukti vaksinasi sebagai akses ke tempat umum itu dimaksudkan untuk meyakinkan lebih banyak orang mendapatkan vaksin Corona.

Pada tahap kedua pelonggaran pembatasan Corona, kelab malam akan dibuka kembali pada 16 Februari setelah tutup sejak Desember lalu. Kemudian area standing akan diizinkan kembali di konser, acara olahraga dan di bar. Makan dan minum juga diperbolehkan kembali di stadion, bioskop dan transportasi umum.

Namun, Paris belum memutuskan untuk melonggarkan pembatasan karena bergantung pada kemajuan situasi kesehatan. Otoritas Prancis memandang ancaman varian Omicron terbatas dan tidak lebih berbahaya dibandingkan varian sebelumnya, meskipun lebih menular.

"Kita telah melihat pembalikan tren yang lemah selama beberapa hari terakhir, dengan lebih sedikit kasus diumumkan setiap hari dibandingkan tujuh hari sebelumnya," sebut juru bicara pemerintah Prancis, Gabriel Attal, kepada radio France Info.

Rata-rata 322.256 kasus Corona terdeteksi selama tujuh hari terakhir, yang tercatat menurun dibandingkan sepekan sebelumnya saat 366.179 kasus terdeteksi.

Attal menyebutnya sebagai 'sinyal yang memberikan harapan' tapi menyatakan para pejabat 'tetap berhati-hati' karena sub-varian Omicron yang 'sangat menular' yang tampaknya menunda puncak infeksi di negara-negara lainnya. [yy/news.detik]