27 Dzulqa'dah 1443  |  Senin 27 Juni 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Saat ini sedang ramai pembicaraan mengenai sandwich generation atau "generasi roti lapis", suatu generasi antara "kelompok milenial" dengan yang dinamakan "kelompok kolonial". Kelompok yang lahir sebelum tahun 1960-an dan kelompok muda yang lahir pada periode 2000-an.

Kalau melihat roti lapis, maka yang menentukan rasa adalah isinya. Jadi, bukan roti yang ada di atas atau di bawah. Isi di tengah-tengah yang bisa berupa olesan, telor, atau sekadar isi cokelat akan menentukan rasa dari roti lapis tersebut. Jadi, bukan generasi "kolonial" atau generasi "pasca-milenial", tetapi kelompok milenial itu sendiri yang akan menentukan masa depan setelah Pemilu 2024 yang akan datang. Kelompok yang saat ini berusia antara 40-50 tahun.

Mereka ini yang akan memegang pimpinan dalam berbagai bidang dan pemerintahan. Bagaimana aspirasi politik dari kelompok milenial ini merupakan tantangan yang perlu diamati sejak saat ini. Apa mereka akan mengikuti perkembangan neo-liberal yang berkembang pada saat ini, atau mendadak berubah jadi sosialis atau bahkan bisa ke arah komunis yang sering dikhawatirkan. Atau, lebih mengarah pada fundamentalis, baik dalam kesamaan maupun sudut pandang.

Perkembangan ini yang perlu dicermati dan diteliti secara seksama dan hati-hati. Pada saat Obama memenangkan pemilihan Presiden AS, slogan yang dibawa "Change We Can". Kita perlu melakukan perubahan; apa alasan ini relevan bagi negara seperti Indonesia yang tidak mengalami konflik sosial --tidak terjadi konflik keagamaan yang berarti? Bahkan tidak ada konflik sosial yang mengkhawatirkan. Kita telah melakukan gerakan Reformasi pada 1998-1999. Kalaupun dampak Reformasi itu tidak seperti yang diharapkan, sepenuhnya menjadi persoalan dalam negeri kita sendiri.

Generasi roti lapis yang lahir pada periode 1970-1980 kemungkinan bisa akan mendominasi pucuk pimpinan pada 2024. Baik pimpinan di pemerintahan, dunia swasta, maupun kalangan partai politik. Mereka ini mempunyai pengalaman hidup pada masa Orde Baru yang penuh dengan tuntutan dari atas dan era sentralisasi yang kuat. Tetapi mereka juga yang mengalami pergolakan Reformasi yang mengubah tatanan kenegaraan dan perekonomian.

Memang mereka tidak pernah merasakan hidup di bawah bayang-bayang Partai Komunis. Tetapi apa yang perlu dikhawatirkan dengan paham komunis seperti yang sering dicanangkan dewasa ini? Hampir bisa dipastikan pengaruh komunisme tidak mungkin berkembang lagi, kecuali kalau semua pimpinan pemerintahan dan pimpinan partai politik yang menghendaki. Alasannya komunisme sudah tidak punya dasar pijakan untuk hidup dan berkembang.

Pengalaman menunjukkan pimpinan pemerintahan yang mampu bertahan berusia sekitar 40 tahun. Presiden Sukarno memimpin pada usia 44 tahun. Presiden Soeharto mulai berkuasa pada umur 45 tahun. Generasi roti lapis akan berusia antara 44 sampai 54 tahun pada 2024. Memang umur-umur tersebut sangat pantas untuk menduduki pucuk pimpinan. Jadi, bisa diperkirakan generasi ini yang akan menyetir kemudi negara setelah Pemilu 2024 nanti.

Apa yang perlu dipersiapkan untuk kemungkinan tersebut? Tidak ada. Generasi roti lapis ini telah mampu belajar sendiri. Dengan pengalaman masa lalu dan kemampuan memperkirakan keadaan, mereka akan berhasil. Apalagi kalau upaya menggandeng negara-negara tetangga dan sahabat berhasil, sudah dipastikan Indonesia akan keluar dari "Low Level Middle Income Trap" seperti yang dicita-citakan semenjak 3-4 tahun yang lalu.

Apakah di antara mereka itu ada "Ratu Adil" --mitos yang selalu dikembangkan bagi mereka yang sudah putus harapan, angan-angan yang entah kapan akan menjadi kenyataan? Tetapi kalau semboyan NOTONEGORO yang dianut mungkin saja bisa terwujud. Lantaran tidak ada memiliki akhiran nama dengan huruf GO yang merupakan kelanjutan dari huruf NE atau NO yang diwakili oleh presiden Yudhoyono, maka GO berarti "goro-goro" atau sesuatu yang datang tanpa diinginkan dan diperhitungkan.

Goro-goro dalam pemerintahan saat ini berupa bencana alam yang tidak kunjung berhenti, pandemi yang entah kapan selesai, dan resesi ekonomi yang berkepanjangan. Goro-goro yang menyita banyak manusia seperti yang pernah terjadi pada saat Peristiwa G30S lalu.

Lalu, siapa RO itu, sulit untuk meramalkan. Kalau terpaku pada hasil survei yang banyak ditampilkan di media massa maupun layar kaca, tidak ada seorang pun calon presiden yang memiliki nama dengan akhiran RO. Tetapi siapa tahu dari ribuan generasi roti lapis (sandwich generation) itu ada nama dengan akhiran RO. Nama yang mendadak muncul menjelang pelaksanaan Pilpres 2024. Mari kita cari bersama, kalau saja ungkapan mistik NOTONEGORO itu memang kita percayai. Silakan saja. [yy/news.detik]

H. Prijono Tjiptoherijanto
Guru Besar Ilmu Ekonomi Universitas Indonesia
Senior Fellow CSEAS Indonesia