27 Dzulqa'dah 1443  |  Senin 27 Juni 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Kasus positif Covid-19 di Indonesia hari ini bertambah 176. Dengan penambahan ini, maka akumulasi jumlah Covid-19 di Tanah Air hingga saat ini sebanyak 4.256.112 kasus.

Temuan kasus positif Covid-19 hari ini merupakan hasil tracing melalui pemeriksaan sebanyak 233.863 spesimen yang dilakukan dengan metode real time polymerase chain reaction (PCR) dan tes cepat molekuler (TCM).

Pada hari ini juga dilaporkan kasus sembuh dari Covid-19 bertambah 419 orang. Dengan tambahan ini, maka totalnya sebanyak 4.104.333 orang telah sembuh. Sementara jumlah yang meninggal kembali bertambah 11 atau menjadi 143.819 orang.

Hari ini pemerintah juga mencatat jumlah suspek Covid-19 kini sebanyak 3.272 orang. Kasus aktif sebanyak 7.960 orang. Saat ini kasus Covid-19 telah tersebar di 510 kabupaten/kota di 34 provinsi.

Data penambahan kasus positif Covid-19 di Indonesia ini dipublikasikan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui laman https://www.kemkes.go.id/. [yy/sindonews]

 

Fiqhislam.com - Kasus positif Covid-19 di Indonesia hari ini bertambah 176. Dengan penambahan ini, maka akumulasi jumlah Covid-19 di Tanah Air hingga saat ini sebanyak 4.256.112 kasus.

Temuan kasus positif Covid-19 hari ini merupakan hasil tracing melalui pemeriksaan sebanyak 233.863 spesimen yang dilakukan dengan metode real time polymerase chain reaction (PCR) dan tes cepat molekuler (TCM).

Pada hari ini juga dilaporkan kasus sembuh dari Covid-19 bertambah 419 orang. Dengan tambahan ini, maka totalnya sebanyak 4.104.333 orang telah sembuh. Sementara jumlah yang meninggal kembali bertambah 11 atau menjadi 143.819 orang.

Hari ini pemerintah juga mencatat jumlah suspek Covid-19 kini sebanyak 3.272 orang. Kasus aktif sebanyak 7.960 orang. Saat ini kasus Covid-19 telah tersebar di 510 kabupaten/kota di 34 provinsi.

Data penambahan kasus positif Covid-19 di Indonesia ini dipublikasikan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui laman https://www.kemkes.go.id/. [yy/sindonews]

 

Varian Omicron

Apa Itu Varian Omicron?


Fiqhislam.com - Omicron menjadi salah satu varian baru korona yang tengah diwaspadai oleh berbagai negara, termasuk Indonesia. Varian yang awalnya dijuluki B.1.1.529 pertama kali terdeteksi di Botswana, Afrika Selatan. Varian itu telah masuk ke dalam daftar variant of concern WHO sejak 26 November.

Sebenarnya dari mana asal mula nama omicron? Pada awal pandemi, WHO menilai perlu cara sederhana untuk mengomunikasikan nama varian SARS-CoV-2, hingga akhirnya diputuskan untuk memaki huruf alfabet Yunani. Penamaannya sendiri ditetapkan oleh TAG-VE, panel penasihat independen yang mengevaluasi apakah suatu varian memiliki signifikansi kesehatan masyarakat global.

Omicron adalah varian SARS-CoV-2 ke-13, tetapi ditandai dengan huruf ke-15 dari alfabet Yunani. WHO telah memutuskan untuk melewati Nu dan Xi, huruf ke-13 dan ke-14 dari alfabet Yunani. Alasannya karena Nu takut disalahartikan dengan kata New. Sementara Xi dilewati karena banyak digunakan sebagai nama keluarga sehingga menurut WHO itu berpotensi menyebabkan pelanggaran terhadap kelompok budaya, sosial, nasional, regional, profesional, atau etnis.

"Karena Nu dan Xi dilewat, varian terbaru akhirnya diberi nama omicron," demikian pernyataan dari WHO.

Lalu, mengapa omicron menjadi perhatian? Vinod Balasubramaniam, seorang ahli virus dari Monash University di Malaysia mengatakan bahwa mutasi yang terlihat pada omicron semuanya terletak di wilayah yang sebelumnya telah dikaitkan dengan peningkatan penularan.

Balasubramaniam menjelaskan, B.1.1529 memiliki 32 mutasi yang terletak di protein lonjakannya. Ini termasuk E484A, K417N, dan N440K yang terkait dengan membantu virus lolos dari deteksi antibodi. Mutasi lain, N501Y, tampaknya meningkatkan kemampuan virus untuk masuk ke sel tubuh sehingga membuatnya lebih mudah menular.

“Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan adalah sebagian besar mutasi utama terletak di RBD protein lonjakan, lokasi yang tepat di mana antibodi dari vaksin ditargetkan. Dengan kata lain, 32 mutasi yang terdeteksi di protein lonjakan varian baru akan mengubah bentuk struktur ini sehingga menimbulkan masalah bagi respons imun yang diinduksi oleh vaksin,” kata Balasubramaniam seperti dilansir dari New Atlas, Senin (29/10).

Masih terlalu dini untuk memahami dampak omicron secara nyata karena memang belum ada data yang komprehensif. Namun, yang pasti, variannya telah dikaitkan dengan lonjakan besar kasus Covid-19 di Provinsi Gauteng, Afrika Selatan. Tingkat kepositifan di wilayah itu telah meningkat secara dramatis dari 1 persen menjadi 30 persen dalam dua minggu.

Lalu, dari mana omicron berasal? Aspek yang sangat tidak biasa dari kemunculan omicron adalah garis keturunan genomiknya yang terisolasi secara aneh. Dominasi varian delta selama enam bulan terakhir membuat banyak ilmuwan memprediksi bahwa varian omicron adalah turunan dari delta.

Namun, Trevor Bedford, seorang peneliti yang mempelajari evolusi virus, mengatakan, omicron belum muncul dari varian terbaru. Menurut dia, koneksi evolusioner terdekat omicron adalah strain SARS-CoV-2 dari pertengahan 2020.

"Cabang yang sangat panjang ini (> 1 tahun) menunjukkan periode sirkulasi yang diperpanjang dalam geografi dengan pengawasan genomik yang buruk (tentu saja bukan Afrika Selatan) atau evolusi berkelanjutan pada individu yang terinfeksi secara kronis sebelum menyebar kembali ke populasi," kata Bedford.

Adapun yang membedakan kemunculan omicron dengan varian SARS-CoV-2 yang terdeteksi sebelumnya adalah seberapa dini hal itu teridentifikasi. Varian delta pertama kali didokumentasikan pada Oktober 2020 sebelum akhirnya meluas pada April 2021 dan akhirnya mendapatkan label VOC pada Mei setelah para ilmuwan mengaitkannya dengan lonjakan besar-besaran di India.

Dalam kasus omicron, karena sifat luar biasa kuat dari sistem pengawasan genom Afrika Selatan, varian SARS-CoV-2 yang baru dan tidak biasa telah ditangkap sebelum menyebar secara signifikan ke seluruh dunia. Sayangnya, itu juga berarti tidak ada jawaban yang baik saat ini untuk pertanyaan tentang penularan omicron atau tingkat keparahan penyakit.

Anthony Fauci, direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular AS, juga mengatakan bahwa hingga kini para peneliti masih belum memastikan seberapa ganas varian baru ini.

"Jujur, kami belum mengetahui apakah itu lebih buruk dari delta atau tidak. Ini membuat kami sangat sulit untuk menyampaikannya kepada publik. Di satu sisi, kami tidak ingin membuat orang panik, tapi di sisi lain kami tidak ingin memiliki masalah yang berpotensi besar. Jadi, Anda harus bersiap untuk yang terburuk sekalipun,” kata Fauci. [yy/republika]

Oleh Gumanti Awaliyah

 

Gejala yang Berbeda dari Covid-19 Biasa

Varian Omicron Punya Gejala yang Berbeda dari Covid-19 Biasa


Fiqhislam.com - Varian baru Covid-19 yang pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan, B.1.1.529 atau Omicron telah dilaporkan kepada Badan Kesehatan Dunia (WHO).

WHO sendiri diketahui sudah mengklasifikasikan varian baru ini dalam daftar varian virus yang patut diwaspadai alias variant of concern (VOC).

Dr. Angelique Coetzee, dokter di Afrika Selatan yang pertama kali melaporkan varian ini ke otoritas berwenang tentang keberadaan virus varian Omicron ini menyebutkan varian B.1.1.529 tersebut memiliki gejala yang tidak biasa jika dibandingkan dengan yang selama ini ia tangani.

"Gejalanya sangat berbeda dan sangat ringan dari yang pernah saya tangani sebelumnya," kata Dr. Angelique Coetzee, dikutip Foxnews, Minggu (28/11/2021).

Lebih detail dokter yang juga merupakan anggota dewan Asosiasi Medis Afrika Selatan tersebut menambahkan, varian omicron memiliki gejala seperti badan terasa tidak enak satu atau dua hari, nyeri otot serta kelelahan.

Berbeda dengan gejala khas Covid-19, contohnya hilangnya kemampuan indera penciuman. Gejala khas ini, tidak ditemukan pada varian Omicron.

“Sejauh ini, kami mendeteksi bahwa mereka yang terinfeksi tidak mengalami kehilangan rasa atau penciuman, mereka mungkin ada batuk ringan. Tidak ada gejala yang menonjol. Dari mereka yang terinfeksi beberapa saat ini dirawat di rumah,” tambah Dr. Angelique.

Dokter Angelique Coetzee, melaporkan sekitar 24 orang pasiennya yang dites positif terinfeksi Covid-19 menunjukkan gejala baru ini.

Sebagian besar pasien adalah pria yang melaporkan bahwa mereka merasa sangat lelah. Terpantau, setengah dari pasien yang terdiri dari berbagai usia dan etnis tersebut memiliki status belum divaksinasi.

Terkait varian Omicron, Dr. Angelique mengatakan bahwa varian virus ini memiliki konstelasi mutasi yang sangat tidak biasa. Terutama 10 varian pada protein kunci yang membantu virus menginfeksi manusia dibandingkan dengan dua mutasi varian delta dan tiga mutasi varian beta.

Dikutip dari laman situs resmi WHO, saat ini di Afrika Selatan sendiri dalam beberapa minggu terakhir, kasus infeksi Covid-19 telah meningkat tajam bertepatan dengan deteksi varian B.1.1.529. Infeksi B.1.1.529 terkonfirmasi pertama yang diketahui berasal dari spesimen yang dikumpulkan pada 9 November 2021. [yy/sindonews]

 

Tingkat Penularan dan Keparahan Omicron

WHO: Belum Ada Bukti Tingkat Penularan dan Keparahan Omicron


Fiqhislam.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan sejauh ini belum ada bukti mengenai tingkat penularan atau keparahan jenis baru Omicron virus Covid-19.

"Belum jelas apakah Omicron lebih menular (misalnya, lebih mudah menyebar dari orang ke orang) dibandingkan varian lain, termasuk Delta," kata WHO dalam sebuah pernyataan.

WHO mengatakan peningkatan jumlah orang yang dites positif dan tingkat rawat inap di Afrika Selatan, di mana varian baru pertama kali dilaporkan dan diduga berasal, tidak selalu bermakna tingkat penularan varian baru atau tingkat keparahannya menjadi lebih tinggi.

"Saat ini tidak ada informasi yang menunjukkan gejala terkait dengan Omicron berbeda dari varian lain," tambah pernyataan itu.

Berdasarkan informasi yang terbatas, WHO juga memperingatkan bahwa individu yang sebelumnya mengalami Covid-19 dapat terinfeksi ulang dengan mudah akibat varian Omicron dibandingkan dengan varian lain yang mengkhawatirkan.

Hal ini, kata WHO, menunjukkan perlunya lebih banyak penelitian tentang jenis itu untuk dapat lebih memahaminya. “Sementara penelitian sedang dilakukan untuk menemukan efektivitas vaksin Covid-19 dan tes saat ini pada varian baru, obat yang digunakan dalam pengobatan virus korona masih efektif dalam pengobatan Omicron,” kata WHO. [yy/republika]