25 Dzulqa'dah 1443  |  Sabtu 25 Juni 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Pemerintah kembali melaporkan jumlah kasus positif virus corona (Covid-19), Selasa (20/7/2021). Pasien positif Covid-19 hari ini bertambah sebanyak 38.325, dengan total akumulasinya 2.950.058.

Demikian informasi yang dipublikasikan Satgas Covid-19. Penambahan kasus tersebut berdasarkan hasil penelusuran atau tracing terhadap 179.275 spesimen yang dilakukan dengan metode real time polymerase chain reaction (PCR) dan tes cepat molekuler (TCM).

Di samping itu, juga dilaporkan pasien yang sembuh dari Covid-19 mencapai 29.791 orang. Kasus sembuh harian itu menambah akumulasi kasus sembuh Covid-19 di Tanah Air menjadi 2.323.666.

Sementara jumlah pasien Covid-19 yang meninggal dunia mencapai 76.200 orang. Angka tersebut setelah ada penambahan 1.280 kasus meninggal. [yy/okezone]

 

Fiqhislam.com - Pemerintah kembali melaporkan jumlah kasus positif virus corona (Covid-19), Selasa (20/7/2021). Pasien positif Covid-19 hari ini bertambah sebanyak 38.325, dengan total akumulasinya 2.950.058.

Demikian informasi yang dipublikasikan Satgas Covid-19. Penambahan kasus tersebut berdasarkan hasil penelusuran atau tracing terhadap 179.275 spesimen yang dilakukan dengan metode real time polymerase chain reaction (PCR) dan tes cepat molekuler (TCM).

Di samping itu, juga dilaporkan pasien yang sembuh dari Covid-19 mencapai 29.791 orang. Kasus sembuh harian itu menambah akumulasi kasus sembuh Covid-19 di Tanah Air menjadi 2.323.666.

Sementara jumlah pasien Covid-19 yang meninggal dunia mencapai 76.200 orang. Angka tersebut setelah ada penambahan 1.280 kasus meninggal. [yy/okezone]

 

Penjelasan Pasien COVID-19 Meninggal Akibat Interaksi Obat

Penjelasan Pakar Unair Soal Pasien COVID-19 Meninggal Akibat Interaksi Obat


Fiqhislam.com - Kabar banyaknya pasien COVID-19 meninggal akibat interaksi obat yang menyebabkan asidosis laktat membuat banyak warga gelisah. Apalagi banyak berseliweran kabar tersebut di berbagai media sosial.

Dr. dr. Meity Ardiana SpJP(K), Pakar Kesehatan dari Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga menuturkan, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah bahwa kombinasi obat pada pasien COVID-19 menyebabkan asidosis laktat.

“Penyebab asidosis laktat itu sendiri bermacam-macam dan kita harus memahami patofisiologi terjadinya asidosis laktat sebelum serta-merta menyimpulkan penyebab asidosis laktat pada pasien COVID-19 adalah karena interaksi obat,” kata Meity, Senin (19/7/2021).

Ia melanjutkan, ketika seseorang terinfeksi COVID-19, kekurangan oksigen yang terjadi pada derajat sedang hingga berat dapat menyebabkan timbulnya asidosis laktat. Sementara asidosis laktat yang terjadi dapat menyebabkan peningkatan keasaman darah yang juga dapat memperberat kondisi pasien seperti sesak nafas atau penurunan kesadaran. Sehingga, dapat disimpulkan jika kondisi COVID-19 dan asidosis laktat saling memperberat satu sama lain.

Terkait interaksi obat, katanya, setiap dokter yang memberi peresepan obat pada pasien tentu sudah menimbang manfaat maupun risiko interaksi obat yang dapat terjadi. Dokter akan memilih golongan obat dengan risiko interaksi paling minimal bagi pasien.

Dr. Meity juga mengatakan, obat yang perlu dikonsumsi antara satu pasien COVID-19 dengan pasien lainnya tentu berbeda. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yakni terkait apakah seseorang tergolong pasien dengan gejala ringan, sedang atau berat dan apakah pasien tersebut sedang menjalani opname atau isolasi mandiri.

“Disarankan untuk mengonsumsi vitamin dan suplemen yang memang sudah terbukti secara ilmiah dapat mencegah atau mempercepat kesembuhan COVID-19 sesuai rekomendasi yang ada,” ungkapnya.

Ia menambahkan, rekomendasi untuk pencegahan saat ini adalah dengan memberikan multivitamin yang mengandung vitamin C, B, E, Zinc, dan vitamin D. Fitofarmaka juga dapat diberikan karena telah teregistrasi oleh BPOM. “Perlu diingat bahwa vitamin adalah suplemen, dimana fungsinya hanya untuk menambah nutrisi dari makanan sehari-hari,” ujarnya.

Dr. Meity berpesan agar masyarakat tidak perlu melakukan panic buying terhadap obat-obatan dan vitamin yang dipercaya dapat menyembuhkan COVID-19. Dia mengungkapkan apabila pola makan sehat dapat dijaga, maka kebutuhan mikro dan makronutrien yang dapat mencegah infeksi COVID-19 maupun virus dan penyakit lain akan dapat terpenuhi. [yy/sindonews]

 

Apa Covid Bisa Sembuh Sendiri?

Apa Covid Bisa Sembuh Sendiri? Ini Jawaban Guru Besar FKUI


Fiqhislam.com - Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof Dr. Budi Wiweko, menjawab pertanyaan yang berkembang di masyarakat terkait Covid-19. Salah satunya mengenai apakah penderita Covid-19 dapat sembuh dengan sendirinya atau tidak.

Prof Budi mengatakan, tidak ada rumus pasti mengenai apakah penderita infeksi virus dapat sembuh dengan sendirinya. Kesembuhan bergantung pada sejumlah faktor.

"Apakah infeksi virus bisa sembuh sendiri ? Jawabannya tidak selalu. Yang pertama bergantung dari derajat infeksi. Di samping itu 'jenis dan jumlah virus yang menginfeksi serta tingkat ketangguhan sel imun' akan menentukan respons orang terhadap infeksi virus," kata Prof Budi dalam keterangan pers, Selasa (20/7).

Prof Budi mencontohkan, infeksi virus HIV misalnya, merupakan infeksi virus yang sangat berbahaya. Sebab virus HIV akan merusak sel imun tubuh manusia sehingga pertahanan tubuh menjadi lumpuh total.

"Bisa dibayangkan seorang penderita AIDS bisa wafat hanya karena terinfeksi tuberkulosis. Hal ini karena pasien AIDS telah kehilangan 100 persen daya tahan tubuhnya," ujarnya.

Lalu infeksi virus lain yang bisa dilhat, lanjut Prof Budi misalnya infeksi virus HPV atau human papilloma virus sebagai penyebab kanker mulut rahim. Virus HPV ini akan mengelabui sel imun yang ada di mulut rahim perempuan.

"Dengan 'menggunakan KTP palsu,' virus HPV akan terus merusak mulut rahim seorang perempuan sehingga bisa menjadi kanker tanpa sel imun tubuh perempuan tersebut menyadarinya," kata Prof Budi.

Selain itu, Prof Budi menerangkan kondisi yang terjadi bila seseorang terinfeksi Covid-19. Prinsipnya sel imun orang yang terinfeksi akan segera bereaksi dan memanggil pasukannya untuk membunuh virus tersebut. Sebagian besar akan sukses dan berhasil sehingga tidak bergejala atau hanya bergejala ringan saja.

"Sebagian kecil tidak berhasil karena virus Sarscov-2 berhasil 'mengecoh sel imun' orang yang terinfeksi sehingga jatuh dalam kondisi berat," ucap Prof Budi.

Prof Budi menyampaikan pada kondisi berat, virus terus merusak sel yang diserangnya. Terutama adalah sel paru-paru sehingga mengakibatkan orang kehabisan oksigen. Respons sel perantara yang berlebihan (padahal bertujuan memanggil bala bantuan) ternyata tidak sepenuhnya berhasil. Reaksi ini disebut sebagai 'badai sitokin' yang justru bisa merusak semua organ tubuh manusia.

"Oleh karena itu upaya kita dalam menghadapi pasien yang terinfeksi Covid adalah berupaya mencegah agar penyakit tidak jatuh dalam kondisi berat. Berbagai suplemen vitamin, mikro nutrien, dan zinc diberikan untuk bisa mengaktifkan sel imun kita agar jangan dibohongin oleh SARS-CoV-2. Pada kasus derajat sedang, pemberian anti virus dilakukan untuk mencegah supaya virus ini tidak terus membelah dan memperbanyak dirinya di dalam tubuh," jelas Prof Budi. [yy/republika]