25 Dzulqa'dah 1443  |  Sabtu 25 Juni 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Zubairi Djoerban, menjelaskan tentang berapa lama seseorang yang terinfeksi Covid-19 tetap bisa menularkan virus tersebut kepada orang lain. Dia merujuk pada penelitian Jeroen van Kampen, yaitu konsultan mikrobiologi dan ahli virologi dari Erasmus Medical Center, Belanda.

Berdasarkan penelitian Jeroen van Kampen, studi itu tidak menemukan virus SARS-CoV-2 yang dibiakkan dari sampel saluran napas setelah hari kedelapan sejak timbulnya gejala.

"Waktu rata-rata virus menular adalah delapan hari setelah timbulnya gejala," kata Prof Beri, sapaan akrab Zubairi Djoerban, dilansir di Twitter pribadinya, Sabtu (3/7).

Namun, apakah seseorang bisa menularkan setelah hari kedelapan? Masih merujuk pada penelitian itu, Prof Beri mengatakan, masih ada kemungkinan seseorang yang terinfeksi Covid-19 menularkannya ke orang lain. Namun, persentasenya kurang dari 5 persen, bagi seseorang untuk mengeluarkan atau menularkan atau memproduksi virus, setelah hari ke-15.

Dari 100-an pasien yang diteliti, dia mengatakan penelitian menemukan juga bahwa virus shedding (virus yang masih bisa keluar dari seseorang yang sakit) tetap terjadi hingga hari ke-18 dan ke-20. Masing-masing terjadi pada satu pasien.

Kapan seseorang yang terinfeksi itu bisa sangat menular? Prof Beri mengatakan pekan pertama sakit begitu muncul gejala adalah yang paling menular. "Saat Anda curiga terinfeksi dan gejala muncul, maka segera lakukan isolasi diri," ujarnya.

Seorang penyintas bisa berinteraksi dengan orang lain setelah lewat 10 hari dari gejala pertama, serta tidak ada panas lebih dari 24 jam. Artinya, panas itu tetap tidak ada walaupun tanpa obat penurun panas.

Bagaimana dengan OTG (orang tanpa gejala), kapan mereka menularkan ke orang lain? Prof Beri mengatakan sulit untuk menentukannya. "Sebab yang tanpa gejala, biasanya tidak periksa dan tidak diteliti. Namun menurut studi, OTG terbukti bisa menularkan virus," kata dia. [yy/republika]

 

Fiqhislam.com - Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Zubairi Djoerban, menjelaskan tentang berapa lama seseorang yang terinfeksi Covid-19 tetap bisa menularkan virus tersebut kepada orang lain. Dia merujuk pada penelitian Jeroen van Kampen, yaitu konsultan mikrobiologi dan ahli virologi dari Erasmus Medical Center, Belanda.

Berdasarkan penelitian Jeroen van Kampen, studi itu tidak menemukan virus SARS-CoV-2 yang dibiakkan dari sampel saluran napas setelah hari kedelapan sejak timbulnya gejala.

"Waktu rata-rata virus menular adalah delapan hari setelah timbulnya gejala," kata Prof Beri, sapaan akrab Zubairi Djoerban, dilansir di Twitter pribadinya, Sabtu (3/7).

Namun, apakah seseorang bisa menularkan setelah hari kedelapan? Masih merujuk pada penelitian itu, Prof Beri mengatakan, masih ada kemungkinan seseorang yang terinfeksi Covid-19 menularkannya ke orang lain. Namun, persentasenya kurang dari 5 persen, bagi seseorang untuk mengeluarkan atau menularkan atau memproduksi virus, setelah hari ke-15.

Dari 100-an pasien yang diteliti, dia mengatakan penelitian menemukan juga bahwa virus shedding (virus yang masih bisa keluar dari seseorang yang sakit) tetap terjadi hingga hari ke-18 dan ke-20. Masing-masing terjadi pada satu pasien.

Kapan seseorang yang terinfeksi itu bisa sangat menular? Prof Beri mengatakan pekan pertama sakit begitu muncul gejala adalah yang paling menular. "Saat Anda curiga terinfeksi dan gejala muncul, maka segera lakukan isolasi diri," ujarnya.

Seorang penyintas bisa berinteraksi dengan orang lain setelah lewat 10 hari dari gejala pertama, serta tidak ada panas lebih dari 24 jam. Artinya, panas itu tetap tidak ada walaupun tanpa obat penurun panas.

Bagaimana dengan OTG (orang tanpa gejala), kapan mereka menularkan ke orang lain? Prof Beri mengatakan sulit untuk menentukannya. "Sebab yang tanpa gejala, biasanya tidak periksa dan tidak diteliti. Namun menurut studi, OTG terbukti bisa menularkan virus," kata dia. [yy/republika]

 

Kelangkaan Oksigen

63 Pasien Meninggal Akibat Kelangkaan Oksigen


Fiqhislam.com - Sebanyak 63 pasien di Rumah Sakit Umum Pusat Dr Sardjito, Yogyakarta, dikabarkan meninggal dunia dalam sehari semalam karena keterlambatan pasokan oksigen pada, Minggu (4/7/2021).

Kondisi ini pun menuai keprihatinan anggota DPR RI asal Daerah Istimewa Yogyakarta, Sukamta. Dia mengucapkan belasungkawa dan duka cita yang mendalam atas peristiwa tersebut. Menurutnya kejadian keterlambatan pasokan oksigen ini sangat tragis dan harus segera diantisipasi agar tidak terulang kembali.

"Pak Menkes seminggu yang lalu menyatakan menjamin pasokan oksigen untuk rumah sakit, ternyata di RS Sarjito dan beberapa rumah sakit di DIY alami kelangkaan oksigen. Bahkan Polri hingga para produsen juga mengatakan menjamin ketersediaan oksigen. Kenyataannya di Yogyakarta, RS Sarjito dan beberapa rumah sakit terjadi kelangkaan," ungkapnya kepada wartawan, Minggu (4/7/2021). "Antara jaminan Pak Menkes dengan kondisi lapangan tidak sesuai. Dengan kondisi RS yang saat ini sudah kedodoran tangan pasien Covid-19, kelangkaan oksigen ini akibatnya sangat fatal," sambung politikus PKS itu.

Oleh sebab itu, Wakil Ketua Fraksi PKS ini minta kepada Menkes Budi Gunadi Sadikin dan jajarannya untuk cek ke lapangan dan segera turun tangan. "Sangat penting Pak Menkes dalam situasi darurat saat ini untuk terus cek kondisi lapangan, tidak hanya cukup tiap hari. Jika perlu tiap jam dan tiap menit. Supaya semua perkembangan di lapangan yang terjadi di daerah-daerah diketahui dengan baik dan bisa segera diantisipasi. Mohon jangan sampai kelangkaaan oksigen ini terjadi, yang dipertaruhkan nyawa," tutur dia.

Lebih lanjut Sukamta juga mengusulkan sebagai antisipasi jangka panjang agar setiap rumah sakit bisa difasilitasi oleh pemerintah untuk dilengkapi generator oksigen. "Prediksi dari para ahli, pandemi Covid ini bisa terjadi dalam beberapa gelombang. Maka ledakan jumlah pasien ke rumah sakit bisa terjadi kapan saja. Maka setiap rumah sakit perlu diperkuat dengan fasilitas kesehatan yang memadai. Termasuk yang sangat krusial adalah kebutuhan oksigen. Pemerintah dalam hal ini bisa fasilitasi pengadaan generator oksigen di rumah sakit di daerah-daerah," ujar anggota Komisi I DPR RI itu. [yy/sindonews]

 

Susu Bear Brand dan Ivermectin

Dokter Amerika Tanggapi Susu Bear Brand dan Ivermectin


Fiqhislam.com - Seorang dokter Amerika Serikat (AS) dari University of Maryland, Faheem Younus, menyebut adanya kesalahpahaman penanganan gejala Covid-19 oleh sebagian masyarakat Indonesia. Beberapa di antaranya adalah penggunaan obat Ivermectin, vitamin hingga susu beruang.

"Teman-teman Indonesiaku, susu ini (menunjukkan foto susu Bearbrand), atau vitamin atau ivermectin tidak memiliki peran dalam pengobatan Covid,"kata Faheem dalam salah satu cuitannya di Twitter, Ahad (4/7).

Faheem diketahui memang banyak membuat tweet yang diunggah dalam bahasa Indonesia yang berkaitan dengan pandemi atau virus corona. Beberapa tips penanganan Covid-19 juga dilakukan dengan bahasa Inggris di Twitternya.

Dia juga memberi tips agar bisa tetap aman menghadapi pandemi Virus Covid-19. "Bagaimana agar tetap aman?. Pakai masker KN95, jangan berjabat tangan, hindari pertemuan falam ruangan ppl, jika anda harus hadir, buka jendela, cuci tangan dan kurangi durasi paparan," jelasnya.

Pada Sabtu (3/7), Faheem juga mengingatkan akan kemungkinan tingginya peningkatan kasus Covid-19 di Indonesia. Menurutnya, perlu upaya serius dari banyak pihak agar sistem kesehatan tidak runtuh.

"Ini terlihat seperti puncak USA tapi Indonesia melakukan 20 kali tes kurang dari Amerika Serikat. Peringkat pengujian, 159 secara global. Kasus nyata atau jumlah kematian pasti jauh lebih tinggi dari data yang disediakan oleh pemerintah. Diperlukan tindakan serius atau sistem perawatan kesehatan akan runtuh," ujarnya. [yy/republika]