25 Dzulqa'dah 1443  |  Sabtu 25 Juni 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Selama dua pekan Detasemen Khusus 88 (Densus 88) Mabes Polri berhasil meringkus para terduga teroris. Baru-baru ini, Polri meringkus 12 orang terduga teroris di Jawa Timur yang dianggap berafiliasi dengan kelompok Jamaah Islamiyah (JI).

Menanggapi hal ini, Pengamat Intelijen dan Keamanan, Stanislaus Riyanta meminta negara mewasapadai gerakan ini. Ia melihat, gerakan mereka 'diam-diam' memanfaafkan situasi keamanan dalam negeri.

"(Terduga teroris yang ditangkap) ini kelompok Al-Jamaah Al-Islamiyyah, yang selama ini memang di bawah permukaan melakukan konsolidasi," ungkapnya saat dihubungi, Selasa (2/3/2021).

Stanislau mengatakan, kelompok ini yang disebutnya berafiliasi dengan Al-Qaeda, dan dicurigai banyak anggotanya yang mantan kombatan Afganistan dan Filipina ikut bergabung.

Untuk itu, aparat kemanan kita harus lebih waspada dan antisipatif, karena aksi-aksi yang pernah dilakukan JI dampaknya sangat besar seperti aksi Bom Bali I-II dan Bom JW Marriot.

"Mereka terlatih dan militan. Terpuruknya ISIS menjadi momentum kebangkitan JI," ujar Alumni S2 Kajian Stratejik Intelijen Universitas Indonesia (UI) itu. [yy/okezone]

 

Fiqhislam.com - Selama dua pekan Detasemen Khusus 88 (Densus 88) Mabes Polri berhasil meringkus para terduga teroris. Baru-baru ini, Polri meringkus 12 orang terduga teroris di Jawa Timur yang dianggap berafiliasi dengan kelompok Jamaah Islamiyah (JI).

Menanggapi hal ini, Pengamat Intelijen dan Keamanan, Stanislaus Riyanta meminta negara mewasapadai gerakan ini. Ia melihat, gerakan mereka 'diam-diam' memanfaafkan situasi keamanan dalam negeri.

"(Terduga teroris yang ditangkap) ini kelompok Al-Jamaah Al-Islamiyyah, yang selama ini memang di bawah permukaan melakukan konsolidasi," ungkapnya saat dihubungi, Selasa (2/3/2021).

Stanislau mengatakan, kelompok ini yang disebutnya berafiliasi dengan Al-Qaeda, dan dicurigai banyak anggotanya yang mantan kombatan Afganistan dan Filipina ikut bergabung.

Untuk itu, aparat kemanan kita harus lebih waspada dan antisipatif, karena aksi-aksi yang pernah dilakukan JI dampaknya sangat besar seperti aksi Bom Bali I-II dan Bom JW Marriot.

"Mereka terlatih dan militan. Terpuruknya ISIS menjadi momentum kebangkitan JI," ujar Alumni S2 Kajian Stratejik Intelijen Universitas Indonesia (UI) itu. [yy/okezone]

 

Pendanaan Jamaah Islamiyah

Pendanaan Kelompok Jamaah Islamiyah Berasal dari Anggotanya


Fiqhislam.com - Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Rusdi Hartono mengungkapkan bahwa kelompok Jamaah Islamiyah (JI) menetapkan iuran sebesar 5% dari pendapatan anggotanya yang diterimanya dalam kehidupan sehari-hari.

Iuran itu, digunakan untuk memberikan dukungan pendanaan guna aktivitas terorisme tersebut sehingga dapat tetap berjalan hingga saat ini.

"Iuran setiap gaji yang diterima oleh mereka, itu disumbangkan kepada organisasi sebanyak 5 persen dari pendapatan mereka," kata Rusdi, Jakarta, Selasa (2/3/2021).

Rusdi menjelaskan, bahwa pihak kepolisian saat ini masih mendalami modus iuran tersebut yang berada di jaringan teror JI. Pasalnya, fakta tersebut pun turut terungkap usai Densus 88 menangkap 12 teroris di wilayah Jawa Timur pekan lalu.

Menurut Rusdi, selain iuran masih terdapat sejumlah metode pendanaan kelompok teror yang turut didalami oleh penyidik kepolisian.

"Ini salah satu dana yang digunakan oleh JI untuk tetap menjaga eksistensi daripada organisasi. Tentunya juga dengan upaya-upaya lain, dana itu. Kemarin kasus kotak amal bermasalah," ujar Rusdi.

Diketahui, para tersangka berinisial UBS alias F, TS, AS, AIH alias AP, BR, RBM, Y, F, ME, AYR, RAS, dan MI ditangkap di berbagai wilayah yakni Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, serta Malang.

Dalam penangkapan itu Densus 88 mengamankan sejumlah barang bukti seperti 50 butir peluru 9mm, satu pistol rakitan berjenis FN, empat bendera daulah berwarna hitam dan putih, delapan pisau, dua samurai, tiga golok, dan senjata tajam lainnya berbentuk busur. [yy/okezone]