27 Dzulqa'dah 1443  |  Senin 27 Juni 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Penambahan kasus Covid-19 harian di Indonesia kembali memecahkan rekor baru. Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 melaporkan, terdapat 14.224 kasus baru pada Sabtu (16/1).

Angka itu menjadi kasus harian tertinggi sepanjang pandemi Covid-19 melanda Indonesia dalam 10 bulan terakhir. Dengan demikian, sudah ada 896.642 kasus positif Covid-19 di Indonesia.

Rekor penambahan kasus harian terjadi berturut-turut sejak Rabu (13/1) dengan 11.278 kasus, kemudian Kamis (14/1) mencapai 11.557 kasus baru, dan Jumat (15/1) dengan 12.818 kasus. Rekor kasus harian pecah dalam empat hari berurutan menunjukkan penularan Covid-19 di Tanah Air semakin parah.

Hal itu juga ditunjukkan dengan tingkat positif atau positivity rate Covid-19 harian di Indonesia sebesar 16,2 persen dengan jumlah orang yang diperiksa per hari sebanyak 45.358 orang.

Hari ini dilaporkan ada 63.300 spesimen yang diperiksa. Kendati penambahan kasus positif Covid-19 rekor hari ini, jumlah spesimen yang diperiksa juga lebih banyak dibandingkan hari sebelumnya, yaitu 49.466 spesimen. [yy/republika]

Fiqhislam.com - Penambahan kasus Covid-19 harian di Indonesia kembali memecahkan rekor baru. Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 melaporkan, terdapat 14.224 kasus baru pada Sabtu (16/1).

Angka itu menjadi kasus harian tertinggi sepanjang pandemi Covid-19 melanda Indonesia dalam 10 bulan terakhir. Dengan demikian, sudah ada 896.642 kasus positif Covid-19 di Indonesia.

Rekor penambahan kasus harian terjadi berturut-turut sejak Rabu (13/1) dengan 11.278 kasus, kemudian Kamis (14/1) mencapai 11.557 kasus baru, dan Jumat (15/1) dengan 12.818 kasus. Rekor kasus harian pecah dalam empat hari berurutan menunjukkan penularan Covid-19 di Tanah Air semakin parah.

Hal itu juga ditunjukkan dengan tingkat positif atau positivity rate Covid-19 harian di Indonesia sebesar 16,2 persen dengan jumlah orang yang diperiksa per hari sebanyak 45.358 orang.

Hari ini dilaporkan ada 63.300 spesimen yang diperiksa. Kendati penambahan kasus positif Covid-19 rekor hari ini, jumlah spesimen yang diperiksa juga lebih banyak dibandingkan hari sebelumnya, yaitu 49.466 spesimen. [yy/republika]

Setelah Vaksinasi

Setelah Divaksinasi, Masih Bisakah Tularkan Virus Corona?


Fiqhislam.com - Pada prinsipnya, sebuah vaksin bisa meringankan gejala sakit. Atau dalam kasus ideal, bahkan mencegah jangan sampai orang jatuh sakit. Tapi terkait keampuhan dan efek vaksin corona, masih terlalu sedikit hasil riset yang tersedia. Seberapa lama perlindungan vaksin corona bertahan?

Seberapa jauh vaksin membantu mengurangi penyebaran virus atau bahkan menghentikan pandemi Covid-19? Juga belum diketahui, apakah mereka yang sudah divaksin tetap bisa menularkan virus corona?

Yang sudah jelas: Jika divaksin dua dosis, baik vaksin BioNTech/Pfizer maupun vaksin Moderna memberikan perlindungan hingga 95% terhadap virus corona. Demikian hasil riset selama ini. Pada fase 3 uji klinis, BioNTech/Pfizer melakukan uji kandidat vaksin pada sekitar 44.000 orang dan Moderna pada sekitar 33.000 responden.

Lembaga pemantau pandemi Jerman, Robert Koch-Institut (RKI) sejauh ini belum mengetahui, apakah mereka yang sudah divaksin dapat menularkan virus corona dan dalam skala sebesar apa? "Data yang sejauh ini tersedia, tidak memungkinkan asesmen menyangkut keampuham vaksin Covid-19 berbasis mRNA, dikaitkan dengan pencegaham atau pengurangam transimisi virus", demikian pernyataan RKI.

Karena itu, hingga data tersedia dan menunjukkan, vaksinasi terbukti melindungi kita dari penularan, protokol kesehatan tetap harus ditaati. Prokes yang paling umum adalah: pemakaian masker, menjaga jarak dan menerapkan higiene

Ada dua jenis imunitas

Yang paling ideal adalah jika vaksinasi corona melindungi orang, agar sejak awal tidak terinfeksi. "Sejauh ini belum ada bukti vaksin corona menciptakan apa yang disebut "imunitas mensterilkan". Demikian penjelasan pusat informasi kesehatan federal Jerman. "Sejauh ini belum ada datanya. Hasil vaksinasi baru bisa diperoleh beberapa bulan mendatang", lapor jawatan kesehatan Jerman itu. Imunitas mensterilkan menjadi salah satu aspek penting bagi imunitas kelompok atau "herd immunity", dimana virusnya tidak lagi menular diantara orang yang sudah divaksin.

Hingga kini belum ada data bahwa vaksin mRNA baik produksi BioNTech/Pfizer maupun Moderna mencegah orang yang divaksinasi terinfeksi virus corona. Sejauh ini belum ada jawaban tegas, bagi pertanyaan apakah orang yang sudah mendapat vaksinasi masih bisa menularkan virus? Dan jika bisa separah apa? Jawaban yang ada, hanya "kemungkinan" atau "boleh jadi". Padahal yang diharapkan adalah, vaksinasi mencegah orang terinfeksi, dan dengan begitu tubuh sama sekali tidak mengandung virus yang bisa ditularkan.

Jika yang tercapai dengan vaksin baru itu adalah apa yang disebut "imunitas fungsional", artinya orang yang divaksinasi tidak terhindar dari penularan virus.

Jawaban sistem kekebalan tubuh, "hanya" mencegah orang yang divaksin menjadi sakit atau mencegah munculnya gejala sakit berat.

Dengan begitu, secara teoritis orang yang sudah divaksinasi masih bisa menularkan virusnya.

Karena vaksin tidak mencegah perkembangbiakan virus, melainkan hanya menetralisir penyakit atau meringankan gejala penyakitnya.

Dalam tema ini, para pakar medis juga menyebutkan, masih menunggu hasil riset lebih lanjut.

Tidak ada vaksin yang ampuh 100%
Hingga kini, tidak ada satupun vaksin yang ada di pasaran, bukan hanya vaksin corona, yang memiliki keampuhan 100%.

Memang target para peneliti adalah efikasi 100%, namun hal itu nyaris mustahil tercapai. Misalnya, vaksin anti campak Jerman atau rotella efikasinya sekitar 93 hingga 99%.

Bahkan vaksin flu musiman, menurut data Robert Koch-Institut efikasinya pada musim flu 2019/2020 antara 61 hingga 73%, tergantung dari varian virus influenzanya.

Namun beragam vaksin yang diproduksi sebelumnya, menggunakan metode konvensional dalam prosesnya, yakni memanfaatkan virus atau bakteri yang mati atau dilemahkan.

Vaksin virus mati, biasanya tidak bisa menular kepada orang lain. Sementara vaksin virus hidup mengandung virus yang dilemahkan, yang dalam jangka waktu empat sampai delapan minggu setelah vaksinansi, bisa ditularkan kepada orang lain.

Sedangkan vaksin corona dari BioNTech/Pfizer maupun Moderna menggunakan metode terbaru, berupa pemanfaatan partikel genetik RNA virus, jadi bukan virus aslinya.

Karena itu belum banyak diketahui, bagaimana sistem kekebalan tubuh bereaksi setelah divaksinasi.

Banyak yang masih ragu, vaksin corona terbaru itu ampuh atau tidak? Semua juga tahu, vaksinasi bukan hanya masalah hitam atau putih.

Bukan hanya pada vaksin Covid-19 saja, pada semua vaksin ada zona abu-abu dan beragam efek.

Progam vaksinasi untuk semua orang, yang kini sudah dimulai di banyak negara, diharapkan bisa mengurangi tingkat keparahan penyakit pada mereka yang mendapat vaksinasi.

Yang juga sudah jelas, vaksinasi bukanlah kartu jaminan, bahwa kita bisa kembali hidup tanpa beban, seperti sebelum pandemi melanda. [yy/Gudrun Heise/republika]

 

Vaksinasi Berbayar

Alasan Perlunya Dibuka Vaksinasi Berbayar oleh Swasta


Fiqhislam.com - Peristiwa itu nyata. WHO sudah memberi peringatan. Penularan virus corona di tahun 2021 lebih cepat dan lebih berbahaya. Mutasi Covid 19 baru dari Inggris dan Afrika Selatan mulai menyebar ke banyak negara (1).

Grafik itu juga realita. Yang tertular Covid 19 di dunia setiap hari justru meningkat. Di Indonesia, grafik tertular setiap hari juga sama meningkat (2).

Data itu benar adanya. Rata rata setiap menit lebih dari satu orang mati di Amerika Serikat karena virus corona. (3).

Kini yang mati karena virus corona di dunia lebih dari 2 juta. Yang tertular mendekati angka 100 juta.

Era vaksin sudah tiba. Tapi perlu langkah out of the box!

Jika vaksinasi hanya mengandalkan birokrasi pemerintahan, untuk menciptakan kekebalan komunitas (herd immunity) memakan waktu lama.

Esai ini menyatakan 4 alasan mengapa perlu juga dibuka jalur swasta untuk vaksinasi berbayar.

ALASAN PERTAMA: Mempercepat Kekebalan Komunitas

Lazim diketahui. Covid 19 tak lagi dianggap penyakit berbahaya jika tercipta kekebalan komunitas. Itu situasi di mana sekitar 70 persen hingga 90 persen populasi sudah divaksin.

Dalam kondisi kekebalan komunitas, kehidupan normal kembali tercipta. Kita bebas kembali bergerak. Hubungan sosial secara fisik kembali seperti sebelumnya.

Itu situasi yang dibutuhkan tak hanya untuk menumbuhkan ekonomi kembali. Tapi juga mengaktifkan kembali ruang publik.

Pertanyaanya: seberapa lama Indonesia membutuhkan waktu untuk menciptakan kekebalan komunitas itu?

Menkes menjawab, “kita perlu waktu sekitar 8 bulan hingga 15 bulan.” Sebanyak 182 juta populasi harus divaksin.

Tapi selama ini pula, korban covid 19 akan kembali berjatuhan. Semakin lama kekebalan komunitas tercipta, semakin banyak yang mati. Semakin banyak air mata tumpah melepas kepergian orang yang kita cintai.

Bukankah lebih cepat lebih baik? Di Eropa, Amerika Serikat, Australia, para ahli mulai berpikir langkah out of the box itu: membuka jalur swasta vaksinasi berbayar (4)

Menkes kita juga sudah maju selangkah. Ia mulai mempertimbangkan perusahaan dibolehkan membeli vaksin secara komersial untuk para karyawan (5).

Kini harap gagasan Menkes ini secepatnya direalisasi. Bahkan jika bisa, peran swasta lebih dibuka lagi.

Bolehkan juga aneka rumah sakit besar membuka vaksinasi berbayar bagi siapa saja. Rumah sakit itu juga dibebaskan memilih vaksinnya sendiri, baik Sinovac, Moderna hingga Pfizer. Yang penting: hanya vaksin yang sudah disetujui WHO, yang diperbolehkan.

Maka dua jalur vaksinasi dibuka. Yang gratis lewat jalur birokrasi pemerintahan. Dan pemerintah sudah menerapkan skala prioritas vaksinasi berdasarkan segmen masyarakat.

Yang berbayar bisa lewat swasta. Tak hanya perusahaan bagi karyawannya. Tapi juga aneka rumah sakit dan klinik membuka vaksinasi bagi siapapun.

ALASAN KEDUA: Menghindari Black Market dan Grey Market

Sudah menjadi hukum besi ekonomi. Jika publik sangat membutuhkan barang dan jasa. Sementara aturan resmi berbelit. Maka akan muncul black market atau grey market yang menyediakan jasa dan produk itu.

Sungguh itu akan menjadi fenomena lebih buruk. Dalam pasar gelap atau pasar abu- abu, beredar vaksin Covid 19 dan jasa penyuntikannya.

Harga tak bisa dikontrol. Kualitasnya juga lebih susah dijamin.

Dan ini akan sulit dicegah siapapun. Kebutuhan publik untuk survive akan mengalahkan aturan sehebat apapun.

ALASAN KETIGA: Mengurangi Tekanan Kepada Pemerintah

Menteri keuangan sudah mengeluarkan angka itu. Pemerintah menyiapkan 58 trilyun hanya untuk vaksinasi 182 juta penduduk. (6)

Aneka keterlambatan birokrasi, hambatan dalam vaksinasi akan terjadi. Semua menunggu pemerintah. Itu karena pemerintah satu satunya pemain dalam vaksinasi.

Jika swasta juga dibolehkan membuka vaksinasi berbayar, tekanan pada pemerintah berkurang.

Swasta dengan suka rela mengambil porsi komersial dari vaksinasi. Penduduk juga punya lebih banyak pilihan.

Pemerintah sangat mungkin tak perlu lagi mengeluarkan dana sebanyak 58 trilyun. Sebagian ditanggung oleh swasta dan masyarakat yang memilih jalur vaksin berbayar.

Bagi yang ingin gratis dan bersabar, ada jalur pemerintahan. Bagi yang bersedia membayar dan tak sabar, ada jalur swasta.

Mengapa hanya menggerakkan satu mesin ketika banyak mesin tersedia.

Tak hanya mesin pemerintah yang kapabel. Banyak mesin swasta juga banyak yang kapabel. Bersama aneka mesin itu bisa mempercepat vaksinasi.

Dengan membuka jalur berbayar vaksinasi untuk pihak swasta, ekonomi juga bergerak lebih cepat.

Lebih dari soal ekonomi, pihak swasta dan orang banyak merasa lebih berperan. Bersama mengatasi “The Crisis of Century,”: pandemik corona.

Di TV, di media sosial kembali kita saksikan. Satu keluarga dan handai tolan menangis, bersedih melepas kepergian yang tercinta. Makin banyak yang mati karena covid 19.

Kita berlomba dengan waktu.

Pemerintah perlu mempertimbangkan sungguh-sungguh: membuka jalur swasta untuk vaksin berbayar.

Tapi tentu, pemerintah juga melakukan kewajibannya dengan vaksin yang gratis itu.

CATATAN:

1. WHO: Covid 19 di tahun 2021 lebih berbahaya

https://www.voanews.com/covid-19-pandemic/who-emergencies-chief-second-year-coronavirus-pandemic-could-be-worse?amp

2. Grafik yang tertular virus corona per hari menaik

https://www.worldometers.info/coronavirus/

3. Setiap menit lebih satu orang mati karena covid di Amerika Serikat

https://www.google.co.id/amp/s/amp.cnn.com/cnn/2020/12/14/health/us-covid-deaths-300k/index.html

4. Perlunya jalur berbayar lewat swasta mulai didiskusikan di Australia, Inggris, Amerika Serikat

https://www.canberratimes.com.au/story/7046830/could-australians-pay-to-get-covid-vaccine-faster/

https://www.google.co.id/amp/s/www.marketwatch.com/amp/story/heres-how-a-covid-19-vaccine-could-make-its-way-into-wealthier-americans-arms-first-11607711708

5. Menkes membuka kemungkinan perusahaan menyediakan vaksin untuk karyawan

https://www.google.co.id/amp/s/amp.kompas.com/money/read/2021/01/15/133054326/menkes-buka-opsi-vaksin-mandiri-pengusaha-hanya-untuk-perusahaan-yang-mau

6. Anggaran vaksin di Indonesia 58 Trilyun

https://www.google.co.id/amp/s/amp.kontan.co.id/news/vaksin-covid-19-di-indonesia-gratis-ini-hitungan-anggaran-dari-menteri-sri-mulyani

[yy/republika]

Oleh Denny JA

    • Akademisi/Konsultan Politik/Kolomnis

 

Kematian Global

Kematian Global Covid-19 Lampaui 2 Juta Jiwa


Fiqhislam.com - Jumlah kematian global akibat Covid-19 telah melampaui dua juta jiwa, Jumat (15/1). Angka ini dicapai di tengah peluncuran vaksin yang begitu besar, namun tidak merata.

Di beberapa negara ada harapan nyata untuk mengalahkan wabah tersebut. Sementara di negara-negara lain terlihat sangat jauh untuk melawan wabah.

Angka yang mematikan itu terjadi lebih dari setahun setelah virus Corona pertama kali terdeteksi di kota Wuhan, China. Jumlah korban meninggal yang dihitung oleh Universitas Johns Hopkins, hampir sama dengan jumlah penduduk Brussel, Mekah, Minsk atau Wina.

Seperti dilansir laman Aljazirah, lebih dari 93 juta kasus virus telah dikonfirmasi di seluruh dunia sejak dimulainya pandemi. Eropa adalah benua yang krisis kesehatannya terbukti paling mematikan. Tercatat 650.560 kematian akibat Covid-19 hingga saat ini.

Amerika Latin dan Karibia mencatat 542.410 kematian, sedangkan Amerika Serikat dan Kanada sebanyak 407.090 kematian akibat Covid-19. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyerukan solidaritas global dalam mengatasi pandemi saat ia menandai tonggak sejarah yang sangat menyayat hati.

"Sayangnya, dampak mematikan dari pandemi tersebut diperburuk dengan tidak adanya upaya terkoordinasi global," katanya dalam sebuah video.

Di negara-negara kaya termasuk Amerika Serikat, Inggris, Israel, Kanada, dan Jerman, jutaan warga telah diberikan perlindungan dengan setidaknya satu dosis vaksin yang dikembangkan dengan kecepatan revolusioner. Vaksin di negara-negara tersebut pun segera diizinkan untuk digunakan.

Namun demikian di tempat lain, dorongan vaksinisasi hampir tidak berhasil. Banyak ahli memperkirakan kehilangan dan kesulitan di tempat-tempat seperti Iran, India, Meksiko, dan Brasil yang bersama-sama menyebabkan sekitar seperempat kematian dunia.

"Sebagai sebuah negara, sebagai masyarakat, sebagai warga negara, kami belum mengerti," keluh Israel Gomez, seorang paramedis Mexico City.

Dia menghabiskan waktu berbulan-bulan mengantar pasien Covid-19 dengan ambulans, putus asa mencari tempat tidur rumah sakit yang kosong. "Kami belum mengerti bahwa ini bukanlah permainan, bahwa ini benar-benar ada," ujarnya.

Meksiko dengan negara berpenduduk 130 juta orang sangat menderita akibat virus tersebut. Negara itu baru menerima 500 ribu dosis vaksin dan hampir setengah dari jumlah itu diserahkan kepada petugas kesehatan.

Di Amerika Serikat, meskipun ada penundaan awal, ratusan ribu orang menyingsingkan lengan baju mereka setiap hari untuk divaksin. Tetapi virus itu telah menyebabkan kematian sekitar 390 jiwa, jumlah korban tertinggi di negara mana pun.

Fasilitas Akses Global Vaksin Covid-19 atau COVAX, proyek yang didukung PBB untuk memasok suntikan ke negara-negara berkembang di dunia mendapati dirinya kekurangan vaksin, uang, dan bantuan logistik. Akibatnya, kepala ilmuwan Organisasi Kesehatan Dunia memperingatkan bahwa sangat tidak mungkin herd immunity yang membutuhkan setidaknya 70 persen dari dunia untuk divaksinasi akan tercapai tahun ini.

Pakar kesehatan juga khawatir jika suntikan tidak didistribusikan secara luas dan cukup cepat, hal itu dapat memberi waktu virus untuk bermutasi. Dr Julian Tang, dari University of Leicester, mengatakan angka ini tidak terlalu mengejutkan mengingat situasinya.

"Ini adalah virus baru yang tidak ada yang benar-benar memiliki kekebalan, dan kami sedang melewati musim dingin di mana virus pernapasan ini secara tradisional memuncak," katanya.

"Vaksin virus corona datang agak terlambat, jadi kami menggabungkan semua itu, musim dingin, penundaan dalam vaksinasi, kerumunan dalam ruangan yang datang dengan musim dingin, jenis puncak dan kematian ini mungkin tidak terlalu mengejutkan," ujarnya menambahkan. [yy/republika]