25 Dzulqa'dah 1443  |  Sabtu 25 Juni 2022

basmalah.png

Adapun opsi untuk proses evakuasi tersebut rencananya akan menggunakan tiga pesawat milik TNI jenis Hercules untuk sekali pemberangkatan, atau menggunakan pesawat sipil yang membutuhkan lebih dari satu kali pemberangkatan.

"Dilakukan setelah rapat terbatas (ratas) tadi malam. Sejak merebaknya kasus tersebut KBRItelah menyampaikan kepada Menlu selalu berkoordinasi denganWNI di Hubei terutama yang berada di kota Wuhan. Meski masih di-lockdown, TNI siap dikerahkan untuk menjemput tapi belum ada keputusan apakah akan menggunakan pesawat TNI atau sipil," kata Fadjroel di ruang Pers Istana Jakarta.



Sebanyak 243 WNI dilaporkan berada di kota Xianing, Huangxi, Xiangian, dan Xian Provinsi Hubei. Sementara itu, Persatuan Pelajar Indonesia Tiongkok yang berada di Kota Wuhan, China mengklaim 93 orang mahasiswa dan WNI masih berada di Kota Wuhan.

Meski diklaim tidak terdeteksi virus corona, Presiden menginstruksikan seluruh kementerian terkait untuk meningkatkan kemampuannya dalam merespon pencegahan dan mendeteksi wabah penyakit pandemik global melalui teknik nuklir, biologi, dan kimia.

" Ratas terus dilakukan melalui koordinasi berdasarkan instruksi Presiden no 4 tahun 2019 tentang peningkatan kemampuan dalam mencegah mendeteksi dan merespon wabah penyakit pandemik global dan kedaruratan nuklir biologi dan kimia." tambah Fadjroel

Sebagai persiapan menerima WNI di Tanah Air, Presiden melalui Inpres no 4 tahun 2019 menginstruksikan sekitar 20 Kementerian terkait evakuasi tersebut. Adapun Kementerian Kesehatan RI telah menyiapkan sejumlah rumah sakit yang dilibatkan guna mengurangi risiko penyebaran virus corona.

Lebih lanjut, Fadjroel memaparkan kendala penjemputan WNI di Provinsi Hubei diantaranya, tujuh akses transportasi dari dan menuju Kota Wuhan masih ditutup. Sehingga proses negosiasi antara Kementerian Luar Negeri RI dengan pemerintah Tiongkok masih terus dilakukan.

"Kami berharap karena ini hubungan antar negara antar pemerintah Indonesia dan Tiongkok, jadi tidak semudah seperti berurusan antar provinsi di Indonesia apalagi terkait merebaknya virus corona. " kata Fadjroel.

Sambil menunggu proses evakuasi, Pemerintah Indonesia mengirimkan dana Rp 133,2 juta untuk kebutuhan logistik WNI di wilayah karantina Provinsi Hubei. [yy/republika]

Adapun opsi untuk proses evakuasi tersebut rencananya akan menggunakan tiga pesawat milik TNI jenis Hercules untuk sekali pemberangkatan, atau menggunakan pesawat sipil yang membutuhkan lebih dari satu kali pemberangkatan.

"Dilakukan setelah rapat terbatas (ratas) tadi malam. Sejak merebaknya kasus tersebut KBRItelah menyampaikan kepada Menlu selalu berkoordinasi denganWNI di Hubei terutama yang berada di kota Wuhan. Meski masih di-lockdown, TNI siap dikerahkan untuk menjemput tapi belum ada keputusan apakah akan menggunakan pesawat TNI atau sipil," kata Fadjroel di ruang Pers Istana Jakarta.



Sebanyak 243 WNI dilaporkan berada di kota Xianing, Huangxi, Xiangian, dan Xian Provinsi Hubei. Sementara itu, Persatuan Pelajar Indonesia Tiongkok yang berada di Kota Wuhan, China mengklaim 93 orang mahasiswa dan WNI masih berada di Kota Wuhan.

Meski diklaim tidak terdeteksi virus corona, Presiden menginstruksikan seluruh kementerian terkait untuk meningkatkan kemampuannya dalam merespon pencegahan dan mendeteksi wabah penyakit pandemik global melalui teknik nuklir, biologi, dan kimia.

" Ratas terus dilakukan melalui koordinasi berdasarkan instruksi Presiden no 4 tahun 2019 tentang peningkatan kemampuan dalam mencegah mendeteksi dan merespon wabah penyakit pandemik global dan kedaruratan nuklir biologi dan kimia." tambah Fadjroel

Sebagai persiapan menerima WNI di Tanah Air, Presiden melalui Inpres no 4 tahun 2019 menginstruksikan sekitar 20 Kementerian terkait evakuasi tersebut. Adapun Kementerian Kesehatan RI telah menyiapkan sejumlah rumah sakit yang dilibatkan guna mengurangi risiko penyebaran virus corona.

Lebih lanjut, Fadjroel memaparkan kendala penjemputan WNI di Provinsi Hubei diantaranya, tujuh akses transportasi dari dan menuju Kota Wuhan masih ditutup. Sehingga proses negosiasi antara Kementerian Luar Negeri RI dengan pemerintah Tiongkok masih terus dilakukan.

"Kami berharap karena ini hubungan antar negara antar pemerintah Indonesia dan Tiongkok, jadi tidak semudah seperti berurusan antar provinsi di Indonesia apalagi terkait merebaknya virus corona. " kata Fadjroel.

Sambil menunggu proses evakuasi, Pemerintah Indonesia mengirimkan dana Rp 133,2 juta untuk kebutuhan logistik WNI di wilayah karantina Provinsi Hubei. [yy/republika]

Kehidupan Warga Wuhan di Tengah Isolasi

Kehidupan Warga Wuhan di Tengah Isolasi


Fiqhislam.com - Media sosial telah menjadi sebuah harapan bagi banyak warga di Wuhan serta hampir seluruh wilayah di Provinsi Hubei, China, yang berada di tengah isolasi. Wabah virus corona jenis baru yang terjadi membuat tindakan mengurung para penduduk menjadi pilihan oleh pemerintah di negara itu untuk mengendalikan penyebaran penyakit yang sangat dikhawatirkan masyarakat dunia.

Virus corona jenis baru yang pertama kali muncul di Wuhan, ibu kota Provinsi Hubei sejauh ini dilaporkan telah membunuh 213 orang. Sebanyak 50 juta orang di China kini berada di karantina alias tidak diperbolehkan keluar kota, bahkan rumah demi menghindari penyebaran corona.

Orang-orang yang harus berada dalam isolasi di kota dan wilayah tersebut pada akhirnya membagikan cerita tentang kehidupan mereka, yang dimulai setelah pengurungan dilakukan. Dengan tagar #lockdowndiary masyarakat berbagi cerita mereka di media sosial Weibo, yang mirip dengan Twitter di China.

Para penduduk menuturkan pengalaman di tengah isolasi yang terjadi. Beberapa juga membagikan pesan-pesan melalui jaringan khusus untuk menghindari pembatasan internet yang dilakukan di daratan China.

Salah satu video menarik mengenai isolasi di Wuhan datang dari seorang vlogger bernama Luo Bin. Ia membagikan cerita di kota tempat tinggalnya tersebut melalui  Youtube, meski pembatasan dilakukan untuk jejaring sosial itu. Bin, yang terkenal membuat video tentang gawai dan travel (perjalanan), kini membagikan konten berbeda, yang memperlihatkan realitas kehidupan pada masa karantina ini.

Salah satu video yang dibagikan Bin pada akhir pekan lalu menggambarkan bagaimana ia harus mengantre sejak dini hari di supermarket untuk mendapatkan pasokan makanan. Banyak orang yang kesulitan untuk membeli bahan-bahan makanan sejak isolasi diberlakukan pada 21 Januari lalu, hanya beberapa hari sebelum perayaan terbesar di negara itu, Tahun Baru Imlek berlangsung.

“Tidak ada suasana perayaan kali ini, rasanya seperti mengalami cobaan, bukan sebuah tahun baru,” ujar Bin dalam video tersebut, dilansir dari South China Morning Post.

Bin juga mengatakan, tak ada satu orang pun yang nampaknya ingin memberi salam tahun baru untuk lainnya. Ia pun mengaku hanya menerima pesan teman-teman dan kerabat yang mengucapkan selamat hari perayaan ini jauh lebih sedikit dibandingkan tahun lalu.

“Mungkin semua orang terlalu khawatir tentang wabah dibanding peduli mengenai hal-hal lain,” kata Bin menambahkan.

Bin juga mengatakan, dalam sebuah video lainnya yang diunggah pada Ahad (26/1) bahwa ia tidak akan mengunggah kontennya ke platform streaming video domestik seperti Bilibili. Hal itu karena Pemerintah China mengatakan akan menindak berita dan desas-desus yang belum diverifikasi tentang wabah penyakit.

Profesor jurnalisme Rose Luwei Luqiu dari Baptist University, Hong Kong, mengatakan sensor yang ditetapkan Pemerintah China telah mulai dilonggarkan, seperti di media sosial Weibo dalam beberapa hari terakhir karena makin banyak orang yang membuat keluhan mereka didengar. Namun, berbeda dengan WeChat yang mirip dengan komentar di Facebook, di mana para pengguna biasanya akan berbicara lebih jujur, tapi sekaligus berbagi kabar-kabar ‘angin’ atau yang masih berupa isu dan rumor lainnya.

"Saya pikir orang yang menderita krisis kurang percaya pada narasi pemerintah, tetapi propaganda negara masih efektif pada masyarakat umum," kata Luqiu.

Warga Wuhan lainnya bernama Tao Jigong juga membagikan kehidupan di kotanya yang tengah berada dalam isolasi. Setelah merilis video di Youtube pada pekan lalu, ia seketika menjadi populer, dengan ratusan ribu penayangan.

Salah satu video memperlihatkan bagaimana hari-harinya sebelum meninggalkan rumah setelah isolasi diberlakukan. Mulai dari menempelkan tas plastik di atas sepatunya dan mengenakan masker hingga kacamata pelindung pernapasan.

Dalam video yang sama, ia juga terlihat mengikat beberapa tas besar perlengkapan memasak dasar dan kertas toilet ke sepeda motor listriknya karena kendaraan pribadi bermotor telah dilarang di daerah pusat Wuhan.

"Karena Komisi Kesehatan Nasional mengatakan bahwa masa inkubasi dapat berlangsung selama 14 hari, yang paling saya khawatirkan adalah keluarga saya bisa terinfeksi, atau saya bisa terinfeksi," kata Jigong dalam video tersebut.

Sementara itu, sebuah akun bernama 'citizen journalist’ dan pengacara Chen Qiushi telah membagikan video pendek yang diunggah ke Twitter dan Youtube. Chen merekam kegiatan yang cukup ekstrem dilakukannya di tengah isolasi Wuhan.

Salah satu kegiatan itu adalah, Chen menjelajahi area sekitar pasar makanan laut Huanan yang saat ini ditutup. Di sana merupakan pasar yang diyakini sebagai tempat asal wabah virus corona baru ini datang, karena kontak dekat antara manusia dan berbagai satwa liar yang dijual.

“Jika saya pulang ke rumah hidup-hidup, itu dengan sendirinya dianggap sebagai kemenangan,” ujar Chen.

Selain itu, ada lebih banyak video viral yang menyentuh di media sosial mengenai kehidupan di wilayah-wilayah Provinsi Hubei yang diisolasi. Seperti di antaranya mereka saling berteriak kata-kata untuk menyemangati satu sama lain.

Dalam satu klip pendek yang dibagikan secara luas, penduduk di sebuah perumahan di Yichang, Provinsi Hubei terdengar berteriak "Wuhan, tambahkan minyak!", kemudian ditambah dengan “Yichang, tambahkan minyak!" Mereka pun bersama-sama terdengar menyanyikan lagu kebangsaan Cina.

"Kami hanya ingin membangkitkan semangat semua orang. Penduduk kami telah dikurung di rumah selama beberapa hari dan semua orang merasa sangat tertekan. Saat itu, banyak orang menangis. Itu sangat mengharukan,” ujar seorang warga bermarga Wang, di perumahan Tujietou, Yichang, mengungkapkan cerita di balik teriakan-teriakan dan nyanyian bersama tersebut kepada The Beijing News, Senin (27/1).

Korban meninggal dunia akibat virus corona jenis baru mencapai angka 213 jiwa, Jumat (31/1). WHO pun sudah mengumumkan kondisi darurat kesehatan global akibat penyebaran virus corona.

Saat ini sudah 18 negara mengonfirmasi kasus positif corona di luar China. Kemarin dalam periode 24 jam terjadi peningkatan jumlah kematian, yaitu 43 jiwa. Kematian akibat corona mayoritas terjadi di Provinsi Hubei dan Kota Wuhan, yang menjadi episenter wabah. Belum ada kematian yang dilaporkan di luar China. [yy/republika]

Oleh Putri Almas

Kesaksian Warga AS di Wuhan Sebelum Dievakuasi

Kesaksian Warga AS di Wuhan Sebelum Dievakuasi


Fiqhislam.com - Seorang warga Amerika yang tinggal di Wuhan dan kini dievakuasi ke negara asalnya, Jarred Evans, mengatakan selama satu pekan menghabiskan waktu hanya di apartemennya saat wabah virus Corona meningkat di kota tersebut. Selama waktu itu, banyak warga saling berkirim pesan untuk mengingatkan agar jangan panik dan tak lupa melakukan tindakan pencegahan.

“Itu berlangsung cepat sekali dan teman-teman saya di sana mengatakan pakailah masker, jangan pergi ke luar ruangan, ini adalah hal yang sangat serius,” ujar Evans.

Evans juga menuturkan bagaimana kondisi Wuhan di tengah isolasi dari pemerintah setempat sebagai antisipasi wabah terus menyebar. Ia mengatakan tidak ada transportasi yang berfungsi seperti kereta api, kereta bawah tanah, dan pesawat. Pasukan militer berjaga hampir di setiap sudut jalan.

“Tidak ada apapun, toko-toko ditutup, dan Anda mulai berpikir apakah ini film? Apakah ini sebuah mimpi buruk?” jelas Evans.

Evans merupakan warga New York yang pindah ke Wuhan untuk bermain sepak bola Amerika di Liga China. Ketika Kedutaan Besar AS mengumumkan akan mengevakuasi para diplomat, keluarga mereka dan beberapa warga Negeri Paman Sam, mereka harus bergerak dengan cepat karena keterbatasan ruang di pesawat yang dikerahkan untuk evakuasi. Hanya tersedia waktu lima jam bagi para warga Amerika untuk sampai ke bandara di Wuhan.

Sebelum tiba di Kalifornia, para warga AS dari China juga diperiksa di Alaska ketika penerbangan melakukan pemberhentian sementara pada Selasa (28/1) malam. Pemberhentian itu berlokasi di daerah terpencil terminal utara bandara Anchorage, yang menangani penerbangan internasional, kata manajer bandara Jim Szczesniak.

Otoritas kesehatan AS, CDC, akan bekerjasama dengan pejabat bandara untuk mensterilkan terminal dan tidak ada penerbangan internasional yang dijadwalkan di bandara hingga Mei mendatang. Banyak pihak yang juga telah mendorong agar tindakan lebih ketat dilakukan untuk antisipasi penyebaran virus Corona.

Gubernur Washington Jay Inslee meminta pejabat kesehatan federal AS untuk memperluas pengawasan kepada penumpang yang kembali ke AS dari China di Bandara Internasional Seattle-Tacoma, tempat kasus pertama yang dikonfirmasi tentang virus mematikan memasuki negara adidaya itu. Inslee ingin agar CDC mengumpulkan riwayat kesehatan penumpang dan pemeriksaan suhu secara lebih rinci.

“Ada banyak hal yang belum diketahui tentang virus Corona ini. Kami hanya tahu ada banyak infeksi di China dan berharap CDC memperpanjang masa pemeriksaan,” ujar Inslee dilansir CNN.

Di Hawaii, para pejabat mendesak warga untuk menghindari perjalanan bebas ke China. Hingga saat ini belum ditemukan kasus infeksi virus Corona di negara bagian AS tersebut, namun tetap terdapat kekhawatiran bahwa ada risiko minimal bagi warga di sana.

Departemen Luar Negeri AS telah mengeluarkan imbauan yang meminta warga Amerika untuk tidak bepergian ke Wuhan. Wabah virus Corona telah membuat hampir enam ribu orang terinfeksi dan telah dikaitkan dengan setidaknya 132 kematian.

Jumlah kasus yang dikonfirmasi di daratan China sekarang telah melampaui jumlah infeksi selama wabah SARS (sindrom pernapasan akut parah) pada 2002-2003. Namun, angka kematian Coronavirus masih tetap lebih rendah daripada 348 orang di China yang meninggal akibat SARS. [yy/republika]