25 Dzulqa'dah 1443  |  Sabtu 25 Juni 2022

basmalah.png

Dengan lantangnya kemajuan demi kemajuan Indonesia dalam peningkatan daya saing kami coba paparkan, dan mendapatkan apresiasi yang sangat baik dari rekan-rekan peserta profesional dalam bidang competitiveness (daya saing) yang tergabung dalam TCI (the global practitioners network for competitiveness, clusters and innovation).

Setelah melakukan presentasi, kami menyimak presentasi dari negara-negara lain, yang sebagian besar telah lebih dahulu menerapkan konsep-konsep competitiveness (daya saing), dan berhasil mendulang banyak capaian dari penerapan konsep yang dikembangkan oleh Professor Michael Porter, dosen kami di Harvard University. Prof Porter juga memperkenalkan konsep mengenai pendekatan created prosperity, kemakmuran yang diciptakan, dibandingkan dengan pendekatan inherted prosperity, kemakmuran yang diwariskan.

Kedua pendekatan ini memiliki pendekatan yang bertolak belakang, di mana kemakmuran yang diciptakan dihasilkan dari penambahan nilai tambah dari apa yang dimiliki suatu negara dengan terus menerus melakukan kreasi dan inovasi. Sementara kemakmuran yang diwariskan mengandalkan kekayaan alam dari suatu negara dan cenderung tidak fokus pada penambahan nilai dari kekayaan yang diwariskan tersebut.

Setelah presentasi dan diskusi selesai dilakukan, para peserta diajak untuk berkeliling di Kota Daegu. Salah satu tempat yang kita kunjungi adalah kantor KICOX (Korean Industrial Complex Corp), perusahaan pemerintah Korea yag memberikan manajemen keahlian dan jasa pendukung untuk kompleks industri. Kami tertegun dengan capaian yang dihasilkan dari penerapan-penerapan strategi berbasis penciptaan kemakmuran ini.

Korea memulai upaya pengembangkan ekonominya melalui pembangunan industri bernilai ditahun 1964, dimana pada saat itu GDP per capita Korea adalah 79 dolar AS. Perlahan tapi pasti mereka berhasil meningkatkan GDP per capita nya, dan pada tahun 1968 telah mencapai 200 dolar AS. Antara tahun 1971 hingga 1976, mereka mulai membangun kerangka kerja untuk ekonomi nasional dan industri, sehingga mereka berhasil meningkatkan GDP per capita hingga 500 dolar AS. Kemudian Korea melanjutkan upaya dengan mulai membangun basis UKM dari tahun 1977 sampai 1990 dan kembali berhasil meningkatkan GDP per capita hingga mencapai 5.000 dolar AS.

Dengan keberhasilan tersebut, mereka mulai membangun kompleks2 industrial khusus yang pada akhirnya membawa mereka pada GDP per capita diatas 10.000 dolar AS pada akhir 1999. Sejak 2000, fokus Korea adalah pada  melakukan evolusi pada kompleks industri dengan nilai tambah tinggi (high value added), serta menciptakan lingkungkan kerja ideal pekerjanya. Hasilnya adalah GDP per capita sekarang mencapai lebih dari 26.000 dolar AS.

Kami kemudian berpikir dan berpikir, betapa Indonesia juga dapat melakukan hal yang sama: menciptakan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia. Bukankan hal ini yang menjadi impian founding fathers Indonesia? Di tahun 1967, GDP per capita Indonesia mencapai 656 dolar AS, jauh lebih tinggi dari GDP Korea di saat yang sama. Di tahun 2017, Indonesia memiliki GDP per capita 4.130 dolar AS. Sebagai seorang anak bangsa, kami tentunya memiliki impian bahwa suatu hari Indonesia juga dapat menciptakan kemakmuran yang memadai bagi bangsanya.

Indonesia adalah negara besar, tetapi alangkah baiknya apabila negara besar ini dibarengi dengan julukan negara makmur, yang memberikan akses memadai kepada seluruh rakyatnya terhadap pendidikan, pekerjaan, kesehatan, gizi, kehidupan yang berkualitas tinggi. Semoga ini bukan hanya menjadi mimpi, tetapi benar-benar dapat diwujudkan melalui strategi dan penerapan program-program yang tepat.

Pada 2002, Korea Selatan tercatat dalam sejarah berhasil menyelenggarakan piala dunia sepak bersama dengan Jepang, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah tim Korsel mencapai babak perempat final piala dunia. Hal ini membakar semangat bangsa Korea yang berhasil menorahkan prestasi di tingkat dunia, dan dengan semangat yang sama mereka torehkan juga prestasi di bidang ekonomi dan teknologi. Merek-merek seperti Samsung, LG, Hyundai, KIA, berhasil menembus pasar dunia dan membawanya menjadi perusahaan-perusahaan kelas dunia.

Indonesia baru saja berhasil menyelenggarakan Asian Games 2018, dan tim kita menempatkan diri dalam urutan keempat dari seluruh kontingen yang bertanding. Ini merupakan prestasi luar biasa yang dapat dijadikan sebagai tonggak untuk membangun momentum ke depan. Dengan modal kekayaan yang luar biasa, Indonesia pun dapat membangun strategi dan menerapkan langkah-langkah konkret untuk meningkatkan daya saingnya.

Infrastruktur yang terus dibangun, pemberdayaan masyarakat desa melalui dana desa agar program-program desa dapat berjalan, program pendidikan dan peningkatan kapasitas yang terus dipacu, akan dapat meningkatkan kemakmuran bangsa Indonesia. Tinggal bagaimana kemakmuran ini dapat merata untuk seluruh bangsa Indonesia.

Ke depan, tantangan bangsa Indonesia akan lebih besar. Di sinilah dibutuhkan semangat yang luar biasa agar kita bisa bangkit menghadapi tantangan: rise to the challenge.

Oleh Jimmy Gani, Executive Director & CEO IPMI International Business School