21 Syawal 1443  |  Senin 23 Mei 2022

basmalah.png

Ada Misteri di Balik Fenomena ISIS

Fiqhislam.com - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat menilai organisasi radikal Islamic State (ISIS) tidak berlandaskan ajaran agama. Pasalnya, mereka menghalalkan segala cara dengan menampilkan pembunuhan, pembantaian dan pemenggalan.

"Apabila Islam ditampilkan oleh model gerakan ISIS seperti ini, maka Islam menjadi agama yang horor. Islam itu kan intinya rahmatan lil alamin. Sebuah anugerah kasih sayang bagi alam semesta bukan seperti yang mereka lakukan," kata Sekretaris MUI Jabar, Rafani Achyar, kepada Metrotvnews.com, saat ditemui di ruang kerjanya di kantor MUI Jabar, Jalan R.E. Martadinata, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (22/11/2015).

Dia melihat ada misteri di balik fenomena ISIS. "Bagi kami, ISIS ini seperti misteri karena kental dengan aspek politiknya. Yang paling menarik adalah perekrutan anggotanya. Banyak anak muda barat yang masuk ISIS. Jadi wajar kalau ada yang menduga ini skenario barat dan Israel. Mungkin saja." kata dia.

Selain itu, mengenai informasi peretas anonim yang membuka informasi ISIS mengenai target komunitas One Day One Juz di Karawang, Jawa Barat, Rafani menuturkan komunitas tersebut adalah komunitas penghafal Alquran. Ia heran mengapa menjadi target penyerangan.

"Misteri ini bagi saya semakin jelas kenapa yang jadi sasaran komunitas penghafal Al Quran. MUI mendorong masyarakat mana pun untuk menghafalkan Alquran, tetapi ISIS malah mau menyerang. Ada apa sebenarnya dengan ISIS. Sasarannya apa," kata dia.

Rafani mengimbau aparat keamanan dan masyarakat tetap waspada. "Intelijen sangat berperan penting, ISIS ini sangat canggih. Paris saja bisa terkena teror Bom. Oleh sebab itu, aparat harus lebih meningkatkan kewaspadaan," kata dia.

MUI Jabar akan berkoordinasi dengan MUI Karawang terkait informasi peretas anonim yang mengabarkan teror dari ISIS terhadap kelompok penghafal Alquran. "Saya akan koordinasikan dengan yang di Karawang," kata dia. [yy/metrotvnews]

Rahasia Kelam Kamp Bucca, Penjara AS yang 'Lahirkan' ISIS

Suatu hari di tahun 2004, seorang pria digiring masuk ke dalam Kamp Bucca, fasilitas tahanan yang dikelola militer Amerika Serikat di Basra, Irak selatan.  

Ada ribuan tahanan di sana. Semuanya memakai jumpsuit berwarna-warni.

Tak ada yang menarik dari sosok pria itu. Namanya, Ibrahim Awad Ibrahim Ali al Badri, seorang penceramah kecil dengan jemaah segelintir, yang punya gelar doktor di bidang Studi Islam. Aparat AS menciduknya karena ikut mendirikan kelompok radikal yang disebut Jamaat Jaysh Ahl al Sunnah.

Namun 11 tahun berikutnya, ia muncul dengan nama baru, Abu Bakr al-Baghdadi. Kelompok ISIS mengangkatnya sebagai khalifah, yang diklaim sebagai pemimpin semua umat Islam di seluruh dunia.

Pada Jumat 4 Juli 2014 al-Baghdadi menampakkan diri di Masjid Agung Mosul, menyampaikan seruan sepanjang 20 menit. Ada jam bersepuh krom (chrome) yang bentuknya mirip-mirip arloji mewah melingkar di pergelangan tangannya. Yang bikin orang bertanya-tanya, Omega atau Rolex?

Apapun, Abu Bakr-al-Baghdadi yang dikenal pendiam dan karismatik kini menjadi orang paling dicari di muka Bumi. Dan organisasinya, ISIS menebar teror ke penjuru dunia.

Tanda tanya besar pun terbesit kala kabar pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi termasuk di dalam daftar orang paling berpengaruh di dunia.

Tak ada faktor tinggal yang menjadi pemicu mengapa ISIS bisa tumbuh sebegitu mematikan dan paling berhasil merekrut orang asing dalam sejarah.

Namun, para ahli yakin, Kamp Bucca memainkan peran penting dalam perkembangan kelompok ekstremis itu.

"Seperti sebuah inkubator," kata peneliti Quillam Foundation Rachel Bryson, yang memiliki spesialisasi soal ISIS dan jihad, seperti dikutip dari News.com.au, Senin (23/11/2015).

Ia mengatakan, kamp luas itu seakan menjadi 'universitas' bagi para teroris, yang memungkinkan lebih dari 26.000 tahanan untuk membuat jejaring dan menyusun cetak biru dari organisasi yang kini dikenal sebagai ISIS.

"Mereka yang radikal menjadi 'dosennya' dan tahanan lain adalah mahasiswanya," kata Bryson. "Seperti ISIS, tujuan mereka adalah membangun sebuah negara...Itu (Kamp Bucca) adalah tempat di mana ahli agama, ahli pendidikan, ahli militer, dan mereka yang menguasai berbagai bidang bisa bertemu dan merancang sesuatu."

Tahanan di kamp di padang pasir tersebut adalah wakil dari berbagai latar belakang masyarakat. "Kamp tersebut menfasilitasinya, membuat visi tentang sebuah negara menguat."

Al-Baghdadi adalah satu dari ratusan ribu orang yang ditahan di fasilitas penjara yang didirikan AS setelah invasi atas Irak. Meski eksistensinya tak terlalu dikenal.

Ketika kabar dari penjara Abu Ghraib mengemuka dan jadi berita utama media massa, peran Bucca sebagai tempat perkembangbiakkan radikalisme jenis baru yang lebih bahaya tak tersentuh radar.

Setidaknya 9 pemimpin senior ISIS pernah ditahan di sana, termasuk mereka yang ditugasi menyediakan senjata, militan asing, dan penyokong program untuk keluarga para 'martir'. Demikian menurut organisasi penyedia jasa intelijen Soufan Group.

Haji Bark, bekas kolonel Irak di bawah pemerintahan Saddam Hussein pernah ditahan di sana pada 2006 hingga 2008. Ia diyakini berperan menyusun struktur organisasi ISIS dan ikut andil dalam kesuksesannya pada masa-masa awal.

Mayor Jenderal Doug Stone, menjadi salah satu pengelola fasilitas tahanan dan dipuji atas pendekatan barunya mengatakan, jika seseorang ingin membangun angkatan bersenjata, penjara adalah tempat yang tepat.

"Di sana kita memberi mereka perawatan kesehatan dan gigi, memberi makan, dan yang lebih penting, menjaga mereka tak terbunuh dalam pertempuran," kata dia dalam buku yang ditulis Michael Weiss dan Hassan Hassan.

Seorang pemimpin ISIS kepada Guardian tahun 2014 mengatakan, Bucca menyediakan 'lingkungan yang sempurna' bagi para teroris untuk tinggal, duduk bersama, dan menyusun rencana.

Ia yang tak mau disebut namanya, minta dipanggil menggunakan julukannya saat gerilya:  Abu Ahmed.

"Kami sepakat untuk berkumpul sekeluarnya dari sana. Cara untuk saling berhubungan kembali sangat mudah. Kita mencatat rincian tahanan lain di karet celana boxer kami. Saat keluar, kami tinggal menghubungi mereka," kata dia.

"Informasi orang yang bagiku penting kutulis di karet putih. Aku punya catatan nomor telepon mereka, nama desa."

Itu cara yang sederhana, namun efektif. "Boxer membantu kami memenangkan perang."

Abu Ahmed mengatakan, selama di dalam tahanan, Abu Bakr-al Baghdadi membangun jaringan teror, dengan memanfaatkan kedekatannya dengan petinggi AS.

"Aku punya perasaan, ia menyembunyikan sesuatu, kegelapan yang tak ingin ditunjukkan ke orang lain. Dia kebalikan dari pemimpin lain yang susah diurus," kata dia.

Al Baghdadi, kata dia, juga mendapatkan simpati dari para pejabat AS di penjara. "Jika ingin mengunjungi tahanan lain di kamp berbeda, ia bisa melakukannya. Padahal mustahil hal itu kami lakukan," kata dia.

Menurut Ahmed, strategi baru Al Baghdadi mendirikan ISIS diciptakan di bawah pengawasan pihak AS. "Seandainya tak ada penjara AS di Irak, ISIS tak bakal ada. Kamp Bucca adalah pabrik. Yang mencetak kami. Di mana ideologi kami tumbuh."

Saat Mayor Jenderal Doug Stone datang ke penjara, menerapkan strategi baru yang mendobrak, dan memperkenalkan pemuka agama yang moderat, langkahnya sudah telat.

Kamp tahanan menciptakan radikalisasi dan mengenalkan nilai-nilai itu untuk mereka yang awalnya masih polos.

"Misalnya di Kamp Bucca, dedengkot paling radikal tinggal bersisian dengan mereka yang sebenarnya tak dianggap terlalu mengancam. Beberapa bahkan tak terbukti bersalah melakukan tindakan kriminal. Penjara campur itu menjadi pusat rekruitmen dan pelatihan bagi para teroris yang kini berusaha ditumpas AS," tulis veteran militer Andrew Thompson dan  Jeremi Suri di New York Times.

Kamp Bucca kini telah tiada. Ditutup pada 2009. Sebuah hotel yang dikelola Kufan Group didirikan di bekas bangunannya -- yang mengincar para pekerja migas di Irak sebagai tamu.

Abu Ahmed mengatakan, saat AS mengalihkan kekuasaan pada Pemerintah Irak, ISIS telah membebaskan para tahanan paling radikal dalam kerusuhan yang mereka picu pertengahan tahun lalu.

Peneliti Rachel Bryson berpendapat, meski tak adil menyalahkan AS sebagai penyebab ISIS, namun penjara terbukti sebagai tempat radikalisasi tumbuh subur.

"Seperti yang terjadi saat ini, penjara adalah tempat di mana radikalisasi bisa terjadi. Penting bagi kita untuk mengelolanya dengan sebaiknya dan memiliki visi yang lebih baik." [yy/liputan6]

Rusia: Amerika Serikat Penolong ISIS

Pemerintah Rusia menuduh Amerika Serikat (AS) melalui tindakannya di Timur Tengah telah menolong ISIS untuk mendapatkan pengaruh. Tuduhan itu disampaikan Perdana Menteri (PM) Rusia, Dmitry Medvedev di Kuala Lumpur.

“Penguatan ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) menjadi mungkin karena kebijakan politik AS yang tidak bertanggung jawab, yang berfokus pada pertempuran terhadap Presiden Suriah Bashar al-Assad, bukannya bergabung dalam upaya untuk membasmi terorisme,” kata Medvedev seperti dikutip kantor berita Interfax, Minggu (22/11/2015).

Presiden AS, Barack Obama pada hari yang sama mengatakan bahwa, Rusia sedang menghadapi pilihan strategis yang membuat kekuasaan Assad tidak bisa langgeng. Pemerintahan Obama menolak berkomentar terkait tuduhan PM Medvedev.

Medvedev dan Obama bertemu di Ibu Kota Malaysia pada KTT Asia Timur yang salah satunya membahas perang melawan terorisme. Sedangkan PBB pada hari Jumat dengan suara bulat mengesahkan resolusi yang menyerukan negara-negara di dunia untuk mengambil semua langkah yang diperlukan untuk memerangi ISIS di Suriah dan Irak.

Obama sendiri menegaskan akan terus maju dengan pertempuran mereka melawan ISIS di Suriah dan Irak dengan atau tanpa kerja sama dengan Rusia.

”Rusia belum secara resmi berkomitmen untuk transisi (pemerintahan Suriah) dari Assad tapi mereka setuju untuk proses transisi politik," kata Obama. ”Dan saya pikir kita akan tahu selama beberapa minggu ke depan apakah kita bisa membawa perubahan dalam perspektif dengan Rusia (atau tidak),” lanjut Obama.

Sebaliknya, Sekjen PBB, Ban Ki-moon telah mendesak Rusia dan AS untuk bekerja sama dalam memerangi terorisme. [yy/sindonews]