25 Dzulqa'dah 1443  |  Sabtu 25 Juni 2022

basmalah.png

“Pemerintah Gereja” Punya Peran Utama di Tolikara

Fiqhislam.com - Ketua Tim Pencari Fakta (TPF) Komite Umat untuk Tolikara (Komat), Fadhlan R. Garamathan mengatakan bahwa bisa ditemukan sebuah fenomena negara di dalam negara di Kabupaten Tolikara, Papua.

“Sebab, pemerintah Indonesia di bawah bupati Tolikara tidak berjalan dengan baik, sementara yang berperan utama adalah ‘pemerintah gereja’,” tegas Fadhlan dalam acara silturahim Tokoh dan Ulama di Ruang Putri Ratna, Grand Sahid Hotel, Jakarta, Kamis (13/08/2015) malam.

Sehingga, kata Fadhlan, dampak yang terjadi adalah intoleransi, di mana agama lain tidak boleh ada di Tolikara. Dan jika ingin ikut bergabung maka mereka harus menjadi pengikut Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) wilayah Tolikara.

“Itulah yang seharusnya kita luruskan,” tegas Fadhlan.

Menurut Fadhlan, Bupati Tolikara Usman G. Wanimbo ikut terlibat dalam tragedi Tolikara, sebab bupati merupakan Ketua Panitia Pelaksana Acara Kebaktian Kebangkitan Ruhani (KKR) dan Seminar Internasional Pemuda GIDI yang awalnya dijadwalkan pada 22-25 Juli 2015 tetapi dipaksakan 15-19 Agustus 2015.

“Di mana, saat itu umat Islam sedang berpuasa dan mempersiapkan diri untuk melaksanakan sholat Idul Fitri,” pungkas Fadhlan.

Fadhlan Garamathan: Ada 3 Tahap Islam Masuk Ke Papua

Dari sejarah masuknya Islam di tanah Papua bahwa ada tiga tahap Islam masuk ke Papua, yaitu pertama tahap daratan pada 1214-an Masehi, atas dakwah Maliku Sholeh kepada dai yang bernama Iskandar Syah.

Demikian dikatakan Dai Pedalaman Papua, Fadhlan R. Garamathan dalam acara silaturahim Tokoh dan Ulama yang digelar MIUMI di Ruang Putri Ratna, Grand Sahid Hotel Jakarta, Kamis (13/08/2015) malam [baca: Ingin Menerima Kritik, MIUMI Gelar Silaturahim Tokoh Dan Ulama].

“Hingga Iskandar tiba di sana membawa dakwah dan melahirkan raja-raja Islam yang hari ini adalah berambut kriting, hitam dan dimusuhi,” kata Fadhlan.

Kedua, lanjut Fadhlan, perjalanan dakwah yang dilakukan oleh wali songo dimana masjid pertama di Irian dibangun oleh Raden Fatah. Dan ketiga, katanya, dakwah Islam diperkuat dari Sulawesi Selatan yaitu murid-murid dari Harun Palaka yang menikah dengan anak-anak kepala suku di sana hingga mereka tinggal dan berdakwah sampai menghasilkan 12 kerajaan Islam.

“Dimana 10 ada di bagian selatan dan pantai, 2 lagi naik berdakwah ke atas gunung,” ujar Fadhlan.

Terkait dengan Tolikara, Fadhlan menuturkan bahwa ada dua hal yang harus dipahami umat dan bangsa ini, pertama, Tolikara adalah bagian dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang baru selama 12 tahun dimekarkan menjadi sebuah kabupaten sendiri.

“Dulunya Tolikara sebuah kecamatan kecil yaitu Karubaga yang jaraknya sekitar 75 kilometer dari Wamena. Pada 1984 kami pernah mencoba jalan kaki dari Wamena ke Tolikara, 4 hari 4 malam baru sampai,” papar Fadhlan.

Kedua, kata Fadhlan, perlu juga diketahui oleh umat dan bangsa ini bahwa perlu mendudukkan masalah di Tolikara. Sebab, ada klaim atau sebuah pemikiran jika Irian itu seakan-akan tidak ada. Padahal, lanjutnya, dalam catatan sejarah agama-agama yang ada di Irian, Islam jauh lebih dulu ada dibandingkan kristen.

“Kenapa saya lebih mudah menyebut kata Irian daripada Papua. Sebab kata Papua itu sebuah penodaan terhadap Irian. Kenapa? Sebab kata Papua itu mengandung sebuah kritikan kepada orang Irian untuk memisahkan diri dari NKRI,” papar Fadhlan.

Papua, kata Fadhlan lagi, menurut bahasa yang ada di Irian beberapa masa lalu artinya kriting, berkulit hitam, perampok, pemerkosa, suka makan orang dan sebagainya. Kemudian diisukan bahwa orang Irian itu hitam, kriting, tidak sama orang Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Bali, Jawa dan Sumatera hingga harus bisa membuat negera sendiri.

“Dan karena Islam lebih dahulu ada di sana, maka semua isu tersebut bisa dibantah,” pungkas Fadhlan. [yy/muslimdaily]