19 Syawal 1443  |  Sabtu 21 Mei 2022

basmalah.png

Alasan Kuat Pengikut Jari Percaya Dirinya NabiFiqhislam.com - Pria yang beralamat di Desa Pakis itu bernama Jari dan sudah sepuluh tahun berdakwah untuk menyatakan kenabiannya pada masyarakat. 

Dan selama sepuluh tahun tersebut, Jari berhasil memiliki sekitar 100 pengikut yang berbaiat kepada dirinya.

Beragam alasan pun dikemukakan oleh para pengikut Jari sehingga mereka mempercayainya sebagai nabi.

Turmudy misalnya, Ia percaya Jari sebagai Nabi Isa karena menurutnya Jari memiliki kemampuan menafsirkan ayat-ayat mutasyabihat yang ada di dalam Alquran, seperti yaasin,  alif laammiiim, kaf ha ya ain shood dan masih banyak lagi.

"Makna ayat-ayat tersebut hanya diketahui oleh Allah dan Rasulnya saja. Tapi Gus Jari bisa mengungkapkan makna ayat tersebut, makanya saya percaya beliau nabi," ujar Turmudy.
 
Kemudian lanjut Turmudy, Jari juga memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh orang biasa, seperti bisa bertemu dan berkomunikasi dengan malaikat Jibril dan bisa berkomunikasi langsung dengan Allah serta masih banyak lagi.

"Bagi kami Gus Jari selalu bisa menjawab apa saja hal-hal yang ingin kita ketahui terkait Alquran dan hadist," sebutnya.

Sementara pengikut Jari lainnya yakni Karlan menyebutkan alasanya dirinya mempercayai Jari sebagai Nabi Isa, karena dirinya yakin Jari adalah keturunan Nabi Ibrahim yang ke 96.

"Dan Gus Jari itu kalau mengajarkan Islam tidak hanya syariatnya, tapi juga secara hakikat dan makrifat. Jadi saya mantap percaya," pungkasnya.

JIAD Sebut Pengakuan Jari sebagai Nabi Kebebasan Berekspresi

Presidium Jaringan Islam Anti Diskriminatif (JIAD) Aan Anshori menyebutkan pengakuan Jari (40) sebagai Nabi Isa adalah bagian dari kebebasan berkepresi.

"Bahwa siapa pun dilindungi oleh undang-Undang untuk menyatakan ekspresi maupun pendapatnya, termasuk mengklaim dirinya sebagai penerus atau bahkan titisan dari siapapun. Salah satunya adalah Pak Jari yang mengaku mendapat wahyu dari Tuhan sebagai Isa Habibullah atau Isa Kekasih Allah," kata Aan, Jumat (19/2/2016).

Aan juga mengatakan, pengakusn Jari sebagai Nabi Isa memang cukup menghentakkan publik. Hal itu juga karena akses informasi saat ini dapat diakses dan cepat meluas.

Namun demikian perlu disikapi dengan bijak dan dewasa oleh pihak lain. Dan Akan sangat tidak elok bagi siapapun untuk mengumbar statement provokatif maupun ujaran kebencian yang pada akhirnya dapat memicu kesalahpahaman dan berakibat benturan di akar rumput.

"Saya percaya warga Jombang sudah sangat dewasa dan kaya pengalaman mengenai hal ini. Salah satu contoh yang bisa disebut adalah betapa matang dan terpujinya respon warga Jombang pada fenomena Ponari beberapa tahun lalu. Mereka tidak menggunakan kekerasan dalam meresponnya. Justru, sebaliknya, menghormati pilihan Ponari dan orang-orang yang percaya padanya," jelasnya.

Upaya dialog ala Jombangan yang egaliter dan tanpa prasangka merupakan modal sosial yang bisa dikembangkan untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

JIAD mengajak warga Jombang untuk justru tetap merangkul siapa pun yg berbeda pendapat dalam masalah ini.

"Jika ajaran Pak Jari dianggap tidak cocok dengan pandangan warga, mereka tidak perlu mengikutinya. Pun, begitu juga sebaliknya.  Negara maupun ormas keagamaan tidak perlu melakukan upaya-upaya berlebihan yang justru malah bisa menimbulkan kepanikan yang tidak perlu," pungkas Aan. [yy/sindonews]

Periksa Jari yang Mengaku Nabi Isa, MUI Akan Libatkan Psikiater

Majelis Ulama Indonesia (MUI) terus bekerja keras mengkaji pengakuan Jari, pria asal Desa Karangpakis, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, yang mengaku telah menerima wahyu dan ditunjuk oleh Tuhan menjadi Nabi Isa Habibullah.

MUI juga masih mempertimbangkan permintaan Gubernur Jawa Timur Soekarwo untuk melibatkan psikiater saat memeriksa Jari.

Ketua MUI Jombang Kholil Dahlan khawatir jika pemeriksaan melibatkan psikiater, Jari akan tersinggung dan justru tidak mau menjalani pemeriksaan.

Sesuai rencana dan hasil kesepakatan dalam rapat Muspida, yang dihadiri aparat keamanan, dan para ulama pada Jumat 19 Februari, MUI meminta seluruh pihak mau bersabar menunggu hasil pertemuan MUI dengan Jari yang akan dilakukan Senin 22 Februari.

Rencananya, Jari dihadirkan untuk bertemu para ulama di Kantor Kesbanglinmas Jombang untuk memberikan keterangan terkait wahyu yang diterimanya.

Dengan mendengarkan keterangan langsung dari Jari, MUI berharap bisa menentukan fatwa yang tepat atas pengakuan Jari terkait pengangkatan dirinya sebagai Nabi Isa Habibullah. [yy/okezone]