25 Dzulqa'dah 1443  |  Sabtu 25 Juni 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Lagi-lagi ini soal bahasa. Konon, di suatu negara antah barantah, ada seorang tokoh berkata di depan publik seperti ini. “Saya tidak suka makan Depok campur kuah.”

Orang-orang yang mendengar hal tersebut keheranan. Mereka tahu Depok bukanlah jenis makanan, melainkan nama wilayah yang terletak di sebelah selatan Jakarta, ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Mereka lalu berupaya mengingatkan sang tokoh. Mereka bilang apa yang diungkapkan sang tokoh keliru. Depok tidak tepat bila disandingkan dengan makanan. Sebab, keduanya berbeda.

Namun, sang tokoh bersikukuh bahwa ia benar. “Saya tahu kalau Depok bukan makanan. Karena itulah saya bilang tidak suka. Beda kalau saya mengatakan suka, maka saya keliru. Tapi saya kan bilang tidak suka,” begitu tangkis sang tokoh.

Masyarakat pun bingung bercampur heran sambil geleng-geleng kepala.

Pada kesempatan lain, masih di negeri antah barantah, tokoh yang tadi berujar lagi. “Saya bukan orang pintar matematika,” katanya.

Masyarakat lalu bertanya, “Kalau begitu, apakah bapak pintar biologi?”

“Bukan,” kata sang tokoh itu lagi.

“Atau, Bapak pintar bahasa Indonesia?”

“Bukan juga,” kata tokoh tersebut?

“Pintar kimia?” kata masyarakat lagi.

“Juga bukan,” timpal sang tokoh.

Masyarakat mulai bingung. “Lalu bapak ini sebenarnya pintar apa?”

“Saya gak pintar semuanya,” kata sang tokoh dengan suara datar.

“Ooalaah pak, pak! Bapak salah berkomunikasi. Seharusnya bapak bilang, ‘Saya bukan orang pintar.’ Jangan ditambah kata ‘matematika’. Kami jadi salah persepsi,” kata masyarakat sambil menepuk jidad mereka.

Pada kali ketiga, sang tokoh tadi berkata lagi kepada masyarakat. “Tuhan saya bukan orang Arab.”

Karena sebelumnya sang tokoh sudah dua kali melontarkan perkataan yang keliru, maka kali ini masyarakat tidak langsung menerima begitu saja perkataan beliau.

“Apa ada yang aneh?” kata sang tokoh.

“Ya jelas dong Pak!” kata masyarakat serentak. “Tuhan itu bukan mahluk, apalagi berjenis manusia. Jadi tidak tepat bila disandingkan dengan kata ‘orang’, apalagi orang Arab. Jadi kalimat bapak tidak tepat, sebagaimana dulu bapak menyandingkan kata Depok dengan kata makan. Apa bapak sudah lupa?”

Sang tokoh terdiam.

“Kalau bapak mau menggunakan kalimat seperti itu, sebaiknya bapak cukup mengatakan, ‘Tuhan itu bukan orang’. Itu saja Pak! Sebab, Tuhan memang bukan orang. Sebagaimana dulu bapak juga seharusnya bilang, ‘Saya bukan orang pintar’. Kalau bapak tambah lagi dengan kata ‘Arab’ sebagaimana dulu bapak tambahi kata ‘matematika’, maka orang-orang akan bingung,” jelas masyarakat.

Sang tokoh masih terdiam. Mulutnya terbuka sedikit. Entah dia bingung atau dia malu. Tak jelas maknanya.

Namun tiba-tiba sang tokoh itu berteriak. “Saya tetap tidak salah! Kalian semua yang salah! Makanya kalian kalau belajar bahasa jangan terlalu mendalam. Begini jadinya!”

Seketika semua masyarakat di sana jatuh pingsan … [yy/hidayatullah]

Oleh Mahladi Murni, Penulis adalah wartawan