29 Dzulqa'dah 1443  |  Rabu 29 Juni 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Platform digital CariUstadz.id bersama Pusat Studi Alquran (PSQ) Jakarta dan Organisasi Internasional Alimni Al Azhar (OIAA) Cabang Indonesia menggelar Annual Meeting of Islamic Dakwah (AMID) 2021 secara virtual pada Sabtu (20/11). Pimpinan CariUstadz.id, KH. Dr. Ali Nurdin mengatakan AMID 2021 merupakan bentuk komitmen dari platform CariUstadz.id untuk terus menyebarkan pemahaman Islam yang inklusif, menghargai perbedaan dan menjadi berkah bagi setiap orang.

Kiai Ali Nurdin mengatakan CariUstadz.id memiliki program prioritas untuk memberikan pelatihan bagi para ustaz sebagai upaya peningkatan keterampilan dalam dakwah, pemahaman nilai-nilai alquran, dan pemantapan prinsip wasathiyah.

Ini menjadi pertama kalinya bagi CariUstaz.id menyelenggarakan AMID. Menurut kiai Nurdin ketigatan tersebut akan terus diselenggarakan setiap tahunnya dengan mengangkat tema sesuai dengan dinamika dakwah di masyarakat. Sementara pada AMID 2021 mengangkat tema Dakwah Islam dan Perubahan Masyarakat Era Digital.

"Bahwa perkembangan dakwah digital butuh mendapat respon yang konstruktif dari para pendakwah dan media dakwah. Mereka memiliki peran strategis untuk menjadi katalisator yang dapat menengahi narasi keagamaan yang bergulir di masyarakat digital terutama pada media sosial yang jangkauan publiknya tidak terbatas. Oleh karena itu AMID hari ini kami inisiasi dengan beberapa pihak yang memiliki perhatian yang sama untuk meningkatkan keterampilan para pendakwah di Indonesia untuk bersinar di dunia digital, sehingga mampu membangun kapabilitas dan integritas dalam menempatkan diri sebaik baiknya sebagai pihak yang dapat memberikan pengaruh terhadap wacana keagamaan yang berkembang di masyarakat," kata Kiai Nurdin dalam pembukaan AMID 2021.

Karena itu, kiai Nurdin pun mengajak para pendakwah di seluruh Tanah Air untuk bergabung bersama CariUstaz.id dalam menjalankan misi menebarkan Islam yang rahmatan lil alamin. Pembukaan AMID 2021 juga dihadiri langsung oleh Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas. Sementara itu AMID 2021 diisi dengan halaqah dakwah. Di antara narasumber yang hadir adalah Prof. Quraish Shihab, KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) dan KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha). [yy/ihram]

 

Fiqhislam.com - Platform digital CariUstadz.id bersama Pusat Studi Alquran (PSQ) Jakarta dan Organisasi Internasional Alimni Al Azhar (OIAA) Cabang Indonesia menggelar Annual Meeting of Islamic Dakwah (AMID) 2021 secara virtual pada Sabtu (20/11). Pimpinan CariUstadz.id, KH. Dr. Ali Nurdin mengatakan AMID 2021 merupakan bentuk komitmen dari platform CariUstadz.id untuk terus menyebarkan pemahaman Islam yang inklusif, menghargai perbedaan dan menjadi berkah bagi setiap orang.

Kiai Ali Nurdin mengatakan CariUstadz.id memiliki program prioritas untuk memberikan pelatihan bagi para ustaz sebagai upaya peningkatan keterampilan dalam dakwah, pemahaman nilai-nilai alquran, dan pemantapan prinsip wasathiyah.

Ini menjadi pertama kalinya bagi CariUstaz.id menyelenggarakan AMID. Menurut kiai Nurdin ketigatan tersebut akan terus diselenggarakan setiap tahunnya dengan mengangkat tema sesuai dengan dinamika dakwah di masyarakat. Sementara pada AMID 2021 mengangkat tema Dakwah Islam dan Perubahan Masyarakat Era Digital.

"Bahwa perkembangan dakwah digital butuh mendapat respon yang konstruktif dari para pendakwah dan media dakwah. Mereka memiliki peran strategis untuk menjadi katalisator yang dapat menengahi narasi keagamaan yang bergulir di masyarakat digital terutama pada media sosial yang jangkauan publiknya tidak terbatas. Oleh karena itu AMID hari ini kami inisiasi dengan beberapa pihak yang memiliki perhatian yang sama untuk meningkatkan keterampilan para pendakwah di Indonesia untuk bersinar di dunia digital, sehingga mampu membangun kapabilitas dan integritas dalam menempatkan diri sebaik baiknya sebagai pihak yang dapat memberikan pengaruh terhadap wacana keagamaan yang berkembang di masyarakat," kata Kiai Nurdin dalam pembukaan AMID 2021.

Karena itu, kiai Nurdin pun mengajak para pendakwah di seluruh Tanah Air untuk bergabung bersama CariUstaz.id dalam menjalankan misi menebarkan Islam yang rahmatan lil alamin. Pembukaan AMID 2021 juga dihadiri langsung oleh Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas. Sementara itu AMID 2021 diisi dengan halaqah dakwah. Di antara narasumber yang hadir adalah Prof. Quraish Shihab, KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) dan KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha). [yy/ihram]

 

Dakwah di Era Digital

 

Gus Baha, Gus Mus, dan Quraish Shihab Bicara Dakwah di Era Digital


Fiqhislam.com - Sejumlah cendekiawan Islam seperti KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha), KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), dan Prof Dr Quraish Shihab hadir dalam Halaqah Dakwah dan Seminar Internasional yang bertema Dakwah Islam dan Perubahan Masyarakat Era Digital.

Acara ini digelar dalam rangkaian Annual Meeting of Islamic Dakwah (AMID) 2021 yang diselenggarakan Platform digital CariUstadz.id bersama Pusat Studi Alquran (PSQ) Jakarta dan Organisasi Internasional Alimni Al Azhar (OIAA) Cabang Indonesia. Acara digelar virtual pada 20-21 November 2021.

Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas , yang juga hadir membuka AMID 2021 mendorong para da'i untuk terus belajar sehingga dapat meningkatkan kredibilitas dan kapasitas dalam berdakwah.

"Dakwah adalah bagian yang integral dan tidak terpisahkan dalam Islam. Bagi umat Islam, dakwah adalah representasi sikap dan prilaku sehari-hari," katanya.

Menurut Menag, Rasulullah SAW telah memberikan teladan dalam berdakwah secara santun, kontekstual dan menjunjung tinggi akhlak mulia.

Demikian pula para Walisongo yang mampu mengubah Nusantara tanpa kekerasan sedikitpun. "Oleh karena itu sudah sepatutnya kredibilitas dan kapasitas para dai, ustaz, dan mubaligh perlu terus ditingkatkan," kata Menag.

Menurut Menag, tema yang diangkat yakni Dakwah Islam dan Perubahan Masyarakat Era Digital sangat relevan dan penting mengingat tantangan dakwah Islam semakin luas di tengah situasi pandemi dan era disrupsi saat ini.

"Nabi Muhammad SAW mewajibkan umatnya untuk terus belajar, oleh karena itu para da'i, ustaz, dan mubaligh selaku penerus para Nabi adalah kelompok orang yang lebih wajib untuk terus belajar," katanya.

Penyelenggaraan halaqah dakwah ini, kata Menag, menjadi salah satu tempat belajar bersama, kita harus memanfaatkan sebaik baiknya.

Di sisi lain, dia juga mengingatkan bahwa dakwah yang dulunya hanya bisa disaksikan di tempat tertentu, kini mengalami suatu perubahan. Ketika digital mulai berubah dan berkembang pesat, masyarakat tidak hanya mengandalkan ulama sebagai sumber satu-satunya untuk mendapat pengetahuan keagamaan.

Dakwah dan kapabilitas pendakwah di era digital dan nilai moderasi dakwah di era digital saat ini bertujuan mengembangkan strategi dakwah dan memberikan peluang kepada pada dai agar mampu mengoperasikan eknologi dan memanfaatkan teknologi di era yang berkembang dan era teknologi.

Sementara Gus Mus mengatakan menyambut dengan senang hati perkembangan belakangan ini. "Saya senang banyak dai juga aktif di media sosial," tuturnya.

Pengasuh Ponpes Raudlatut Thalibin ini mengaku aktif di media sosial untuk menghibur diri. "Saya senang," katanya.

Dia mengingatkan seorang dai kini tidak hanya dituntut menguasa ilmu agama. Mereka juga dituntut menguasai ilmu dan teknologi atau IT.

Lantaran itu, Quraish Shihab juga berpesan kepada para ulama dan para dai, "jangan menjadi apa yang semua Anda dapatkan di internet Anda ambil dan sampaikan tanpa melakukan penelitian."

"Jika itu dilakukan, Anda menjadi penyebar dari kebohongan, penyebar dari kepalsuan, penyebar dari hal-hal yang bertentangan dengan agama," ujar Pendiri Pusat Studi Al-Quran ini. [yy/sindonews]