25 Dzulqa'dah 1443  |  Sabtu 25 Juni 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Mantan tahanan politik UU ITE, DR Syahganda Nainggolan, mengatakan, para pendukung Habib Rizieq jangan terlalu khawatir berlebihan dengan mengasihaninya. Sebab, selaku sesama tahanan dan beberapa kali bertemu bersama Habib Rizieq, dia terlihat biasa saja dan selalu gembira.

"Tak usah dikasihani beliau. Dia biasa saja. Setiap hari bila ketemu selalu tersenyum. Dia juga memberi pengajian di mushala kecil tempat tahanannya bersama para tahanan narkoba. Dia selalu sehat dan gembira," kata Syahganda ketika dihubungi mengaku tengah berada di Pantai Noordwijk, Belanda (16/11).

Syahganda mengatakan, aktivitas Habib Rizieq setiap Subuh juga selalu sama. Dia memberikan pengajian kepada para sesama penghuni sel. Para aktivis FPI yang berada dalam tahanan sering pergi ke selnya untuk mengikuti pengajiannya. "Saya memilih tetap dalam sel, tapi saya tahu aktivitas dia setiap Subuh."

Menjawab pertanyaan apakah sel tahanan Habib Rizieq berada di bawah tanah? Syahganda dalam soal ini kemudian membenarkannya. "Tahanan saya bersama Habib Rizieq berada di lantai basement yang seharusnya menjadi tempat parkir. Memang tak masuk sinar matahari. Listrik selalu menyala. Fasilitas WC kamar mandi kerap macet. Sel Habib Rizieq berada di kamar nomor 1, sedangkan saya berada di sel 15. Jadi, sama-sama di basement," kata Syahganda.

Bagi Syahganda, karena tidak perlu dikasihani sebab punya mental yang luar biasa, justru Habib Rizieq baginya menjadi tempat tumpuan mendoakannya bila terjadi masalah. "Khusus untuk saya beliau sempat saya minta mendoakan ketika saya dituntut enam tahun penjara. Syukurnya setelah didoakan dia hukuman saya menjadi hanya 10 bulan, yang artinya ketika putusan diketok hakim saya bisa langsung bebas."

"Jadi, sebaiknya kita dorong agar Habib Rizieq terus mendoakan bangsa ini agar bisa terlepas dari bahaya intervensi kekuasaan. Saya merasakan langsung apa arti doa beliau dan sekaligus arti senyumannya ketika sama-sama bersama dalam tahanan. Nah, sekarang saya berada di Belanda bersama istri untuk sejenak melupakan karena berbulan-bulan berada dalam tahanan. Bulan depan saya pulang,'' kata Syahganda.

Menyinggung mengenai apa yang akan dilakukan setelah pulang dari Belanda, Syahganda menyatakan, dia akan memperjuangkan fasilitas tahanan kasus politik. Sel tahanan nantinya harus lebih baik. Tidak seperti sekarang yang dicampur dengan tahanan kriminal bisa atau malah tahanan narkoba.

"Saya dahulu juga sempat masuk sel tahanan saat melawan rezim Orde Baru, tapi waktu itu perlakuan kepada kami cukup baik. Kami disediakan meja biliard di depan kamar tahanan. Bahkan, para senior tahanan politik kasus Malari pada 1974 menceritakan ketika berada dalam tahanan saat itu dia dapat leluasa bercocok tanam di depan selnya. Ke depan kami ingin seperti itu," ujar Syahganda. [yy/republika]