25 Syawal 1443  |  Jumat 27 Mei 2022

basmalah.png

Pembakaran Rumah Ibadah di Aceh, Panglima TNI Turun Tangan

Fiqhislam.com - Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo akan turun langsung menangani bentrokan antar warga di Kabupaten Aceh Singkil, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pada Rabu (14/10), besok. Bentrokan diduga dipicu oleh pembakaran tempat ibadah pada Selasa siang, tadi.

"Hari ini Kapolda ke sana, besok Panglima ke sana," kata Wakil Presiden Jusuf Kalla.

JK mengaku telah berkomunikasi dengan Gubernur Aceh terkait insiden tersebut. Menurut dia, insiden tersebut dipicu kesalahpahaman antarwarga setempat.

"Saya sudah bicara dengan Gubernur Aceh. Memang ada kesalahpahaman masalah di situ. Jadi mudah-mudahan bisa diselesaikan oleh pejabat di situ, panglima, gubernur, kapolda dia sudah ke sana," kata JK di kantor Wakil Presiden, Jakarta, Selasa (13/10).

Menurut JK, terdapat satu korban tewas akibat terkena tembakan senapan angin dalam betrokan itu. JK meminta agar seluruh masalah terkait Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan (SARA) dapat diselesaikan dengan baik.

"Ya semua masalah SARA harus diselesaikan dengan baik, adil, sesuai aturan supaya jangan timbul masalah," tegas dia.

Bentrokan tersebut dikabarkan disebabkan oleh adanya pembakaran tempat ibadah yang tidak mengantongi izin. Hingga kini, penyelesaian insiden itu masih diupayakan.

Pemerintah Perketat Pengamanan

Kerusuhan antarumat beragama yang berujung pada pembakaran rumah ibadah dikabarkan terjadi di Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh. Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, untuk mengantisipasi kerusuhan susulan, pemerintah telah memperketat pengamanan.

"Saya tadi pagi sudah bicara dengan kapolda maupun dengan kasdam. Mereka sudah melakukan persiapan-perisiapan untuk itu semua dan mereka sekarang saya kira sudah berada di Aceh Singkil," ujar Luhut di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (13/10).

Kendati demikian, Luhut belum bisa memastikan berapa jumlah korban atau kerusakan yang ditimbulkan. Mantan kepala staf kepresidenan tersebut menyatakan masih akan memverifikasi laporan-laporan yang masuk soal kerusuhan Aceh Singkil.

"Saya kira dalam satu jam ke depan saya baru bisa memberikan penjelasan detail bagaimana kejadian di Aceh Singkil itu," ungkapnya.

Untuk menyelesaikan konflik antarumat beragama tersebut, Luhut menyatakan pemerintah tak akan terpengaruh dengan hukum adat. Sebab, yang menjadi pegangan pemerintah adalah undang-undang yang berlaku.

Kerusuhan antarwarga dilaporkan terjadi di Kabupaten Aceh Singkil, Selasa (13/10). Bentrokan dipicu oleh pembakaran sebuah rumah yang dianggap tak memiliki izin untuk digunakan sebagai tempat ibadah. Akibat insiden tersebut, dua orang warga dikabarkan tewas.

JK: Ini Kesalahpahaman

Bentrokan antarwarga yang dipicu pembakaran tempat ibadah di Kabupaten Aceh Singkil, Aceh dilaporkan terjadi siang hari ini. Wakil Presiden Jusuf Kalla pun menyatakan telah berkomunikasi dengan Gubernur Aceh terkait insiden tersebut.

Menurut dia, insiden tersebut dipicu kesalahpahaman antarwarga setempat. Untuk menyelesaikan masalah ini, JK mengatakan Panglima TNI akan mengunjungi lokasi insiden esok hari.

"Saya sudah bicara dengan Gubernur Aceh. Hari ini Kapolda ke sana, besok Panglima ke sana. Memang ada kesalahpahaman masalah di situ. Jadi mudah-mudahan bisa diselesaikan oleh pejabat di situ, panglima, gubernur, kapolda dia sudah ke sana," kata JK di kantor Wakil Presiden, Jakarta, Selasa (13/10).

Lebih lanjut, usai mendapatkan laporan dari Gubernur Aceh, JK menyebut terdapat satu korban tewas akibat terkena tembakan senapan angin. JK pun meminta agar seluruh masalah terkait Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan (SARA) dapat diselesaikan dengan baik.

"Ya semua masalah SARA harus diselesaikan dengan baik, adil, sesuai aturan supaya jangan timbul masalah," tegas dia.

Bentrokan antarwarga dilaporkan terjadi di Kabupaten Aceh Singkil, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Bentrokan tersebut dikabarkan disebabkan oleh adanya pembakaran tempat ibadah yang diduga tidak memiliki izin. Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pemerintah terkait insiden itu. [yy/republika]

Penyebab Bentrok di Aceh versi Warga

Bentrokan yang terjadi di Desa Dangguran, Kecamatan Simpang Kanan, Kabupaten Aceh Singkil, diduga bermula dari protes warga terhadap bangunan gereja yang berdiri tanpa izin. Protes tersebut pun diawali dialog hingga aksi demonstrasi.

Bishop Gereja Pakpak, Pendeta Elson Lingga, mengatakan pada 6 Oktober 2015 ada kelompok masyarakat yang menamakan diri forum pemuda Islam yang menggelar demonstrasi di depan kantor bupati. Mereka menuntut Pemkab Aceh Singkil untuk meruntuhkan bangunan tersebut dengan tenggat waktu 9 hingga 13 Oktober 2015.

"Kalau tidak (diruntuhkan) mereka yang akan turun tangan. Jadi semalam itu padahal sudah ada fasilitas yang dikasih Pemkab Aceh Singkil dan mereka sudah mengiyakan akan merobohkan gereja itu, dan timing-nya tanggal 19. Tapi itu mereka tidak sabar dan melakukan itu (penyerangan)," kata Elson saat berbincang dengan Okezone, Selasa (13/10/2015).

Menurut Elson, para jemaat gereja yang ada di sana juga sudah mau mengungsi. Bahkan dirinya sebagai pimpinan juga sudah meminta mereka untuk menghindari bentrok.

"Tapi karena batas waktu ternyata dilanggar, jemaat kami akhirnya tidak bisa memahami situasi, dan terjadilah bentrokan," ujarnya.

Sementara itu, dirinya mengimbau semua pihak terutama pemerintah supaya mendengar suara warga untuk turun dan memberikan bantuan terutama pengamanan. Kemudian menjamin keberadaan tempat beribadah mengingat umat kristen yang ada di desa tersebut masih butuh tempat ibadah.

"Karena kami sudah lewat SMS ke menteri dan presiden enggak ada yang mendengarkan. Jadi enggak ada gunanya, kami berharap mereka turun dan memberikan bantuan terutama pengamanan, kapolres bilang tidak cukup (personel). Jadi ada sekarang ada satu desa yang terkepung di situ (di Aceh Singkil). Ngeri sekali, ada 300 orang yang dikepung oleh 1.000 sampai 2.000 orang," pungkasnya. [yy/okezone]