29 Dzulqa'dah 1443  |  Rabu 29 Juni 2022

basmalah.png

“Pertama ceramah disampaikan oleh yang memiliki pemahaman dan komitmen pada tujuan utama diturunkannya agama. Kedua berdasarkan pengetahuan keagamaan yang memadai. Dan ketiga disampaikan kalimat baik, pantas, terbebas dari umpatan juga kebencian,” tulis Menag Lukman dari hasil presentasi Ditjen Bimas Kemenag, Selasa (10/7/2018).

Ceramah di tempat ibadah juga  wajib bernuansa mendidik, mencerahkan secara spritiual, dengan materi berupa nasihat dan pengetahuan mengarah pada kebaikan.

“Materi yang disampaikan tidak bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika,” jelas Menag Lukman.

Lewat ceramah di rumah ibadah, Menag Lukman menekankan bahwa ceramah tidak boleh bersifat SARA, memecah kerukunan. Selain itu, utamanya ceramah tidak bermuatan penghinaan dan penodaan yang mengandung provokasi.

“Tidak boleh juga bermuatan kampanye politik praktis, promo bisnis, dan harus tunduk pada ketentuan hukum berlaku terkait siar keagamaan dan rumah ibadah,” terang dia.

Poin-poin acuan ceramah tersebut ditujukan Kementerian Agama kepada, para penceramah agama, pengelola rumah ibadah, dan kepada umat beragama. [yy/islampos]