19 Syawal 1443  |  Sabtu 21 Mei 2022

basmalah.png

Langkah MUI Soal Mie Instan Asal Korea Mengandung Babi


Fiqhislam.com - Wakil Ketua Komisi Hukum MUI, Ikhsan Abdullah mengatakan pihaknya sedang menyiapkan langkah perlindungan bagi konsumen Muslim. Hal itu pasca adanya temuan BPOM mengenai produk mie instan asal Korea yang positif mengandung ekstrak babi.

"Karena kami menengarai ada banyak jenis mie instan dan makanan kemasan asal Korea dan yang tidak halal, tetapi mereka tidak memberikan informasi pada kandungan produknya," kata Ikhsan, Minggu (18/6/2017).

Direktur Lembaga Advokasi Halal menilai beredarnya produk mie instan berkandungan ekstrak babi itu sangat merugikan umat Islam, mengingat bertepatan dengan bulan suci Ramadhan.

"Sudah semestinya pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah sebagai Peraturan Pelaksanaan UU JPH dan menetapkan Kepala Badan Pebyelenggara Produk Halal (BPJPH) agar UU JPH berlaku efektif," tandasnya. [yy/inilah]

Langkah MUI Soal Mie Instan Asal Korea Mengandung Babi


Fiqhislam.com - Wakil Ketua Komisi Hukum MUI, Ikhsan Abdullah mengatakan pihaknya sedang menyiapkan langkah perlindungan bagi konsumen Muslim. Hal itu pasca adanya temuan BPOM mengenai produk mie instan asal Korea yang positif mengandung ekstrak babi.

"Karena kami menengarai ada banyak jenis mie instan dan makanan kemasan asal Korea dan yang tidak halal, tetapi mereka tidak memberikan informasi pada kandungan produknya," kata Ikhsan, Minggu (18/6/2017).

Direktur Lembaga Advokasi Halal menilai beredarnya produk mie instan berkandungan ekstrak babi itu sangat merugikan umat Islam, mengingat bertepatan dengan bulan suci Ramadhan.

"Sudah semestinya pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah sebagai Peraturan Pelaksanaan UU JPH dan menetapkan Kepala Badan Pebyelenggara Produk Halal (BPJPH) agar UU JPH berlaku efektif," tandasnya. [yy/inilah]

BPOM: Empat Mi Instan Asal Korea Mengandung Babi

BPOM: Empat Mi Instan Asal Korea Mengandung Babi


BPOM: Empat Mi Instan Asal Korea Mengandung Babi


Fiqhislam.com - Empat jenis mi instan asal Korea dinyatakan positif mengandung babi. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memerintahkan importir yang bersangkutan untuk melakukan penarikan produk-produk tersebut dari peredaran. Hal itu tertera dalam surat perintah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Nomor IN.08.04.532.06.17.2432 tertanggal 15 Juni 2017.

"Berdasarkan hasil sampling dan pengujian terhadap mi instan asal Korea, beberapa produk menunjukkan hasil positif (+) mengandung fragmen DNA spesifik babi namun tidak mencantumkan peringatan "Mengandung Babi" pada label," demikian bunyi surat tersebut.

Keempat produk mengandung babi tersebut, yakni Mi Instan U-Dong dengan nama dagang Samyang, Mi Instan (Shin Ramyun Black) dengan nama dagang Nongshim, Mi Instan Rasa Kimchi dengan nama dagang Samyang, dan Mi Instan (Yeul Ramen) dengan nama dagang Ottogi. Keempat produk ini diimpor oleh PT Koin Bumi.

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny Kusumastuti Lukito, membenarkan informasi tersebut. "Iya, betul. Saya sudah menginstruksikan Kepala Balai di seluruh Indonesia, Balai POM kan ada di semua provinsi, sudah bergerak semua untuk menarik (produk tersebut)," kata Penny, kepada Republika.co.id, Ahad (18/6).

Penny menyatakan, BPOM sudah meminta Balai POM di seluruh Indonesia untuk melakukan pemantauan dan penarikan produk dari peredaran apabila masih ditemukan di pasaran. Target pemantauan meliputi importir, distributor, toko, supermarket, hipermarket, pasar tradisional, atau sarana distribusi ritel produk pangan lainnya. [yy/republika]

YLKI Menilai Penarikan Mi Instan Mengandung Babi Terlambat

YLKI Menilai Penarikan Mi Instan Mengandung Babi Terlambat


YLKI Menilai Penarikan Mi Instan Mengandung Babi Terlambat


Fiqhislam.com - Penarikan produk mi instan mengandung babi yang dilakukan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) dinilai terlambat. Sebab mi instan asal Korea tersebut sudah lama beredar di Indonesia. "Kenapa baru sekarang ada public warning?" kata Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi melalui keterangan tertulisnya, Ahad, 18 Juni 2017.

Tulus menuturkan, BPOM seharusnya tak sekadar memberikan edaran dan menarik produk-produk tersebut. BPOM perlu memberikan sanksi hukum baik secara administrasi maupun pidana.

"Importirnya patut dicabut izin operasionalnya karena telah memasukkan produk yang tidak memenuhi standar regulasi di Indonesia, yakni proses produksi halal. Apalagi setelah ada UU Jaminan Produk Halal," katanya.

Selain itu, Tulus menilai kepolisian layak bertindak pro justitia dalam masalah ini. "Importir dan distributor patut dipidana karena diduga melanggar UU Perlindungan Konsumen, UU Pangan, dan UU Jaminan Produk Halal," ujar Tulus.

Sebelumnya, BPOM mengeluarkan surat perintah penarikan produk mi instan asal Korea karena terbukti mengandung babi. Penarikan dilakukan karena produk itu tidak mencantumkan peringatan "Mengandung Babi" pada label kemasan.

"Berdasarkan hasil sampling dan pengujian terhadap mi instan asal Korea, beberapa produk menunjukkan hasil positif mengandung fragmen DNA spesifik babi," demikian tertulis dalam surat edaran BPOM tertanggal 15 Juni 2017.

Berdasarkan surat edaran bernomor IN.08.04.532.06.17.2432 itu, produk mi yang mengandung babi itu adalah Samyang Mi Instan U-Dong, Nongshim Mi Instan (Shin Ramyun Black), Samyang Mi Instan Rasa Kimchi, dan Ottogi Mi Instan (Yeul Ramen). Importir keempat produk itu adalah PT Koin Bumi.

BPOM telah memerintahkan importir untuk menarik produk-produk itu dari peredaran. Selain itu, BPOM menarik izin edar produk karena tidak sesuai dengan ketentuan.

Apabila keempat produk mi instan yang dimaksud masih beredar di pasaran, BPOM pusat menginstruksikan kepada Kepala Balai POM seluruh Indonesia untuk menarik produk tersebut. [yy/tempo]